Kamis, 26 Oktober 2017

[RESENSI] Yawning is Delicious by Kang Ji Young

Yawning Is DeliciousYawning Is Delicious by Kang Ji Young

My rating: 3 of 5 stars



Judul: Yawning is Delicious
Pengarang: Kang Ji Young
Penerjemah: Putu Pramanka Adnyana
Penyunting: K.P Januwarsi
Proofreader: Arumdyah Tyasayu
Desain Kover: Pola 😍
Layout Kover: @teguhra
---
Blurb:

Lee Kyeong

Aku bermimpi aneh kemarin. Tubuh gemukku menjadi langsing. Wajahku berubah menjadi cantik. Tapi semua kejadian itu terasa nyata. Rasanya bukan seperti mimpi. Aku melihat, mendengar, dan merasakan langsung, seolah memang aku yang terjebak di dalam tubuh itu.

Tanggal di situ menunjukan musim panas tahun lalu.

Da Woon

Aku bermimpi aneh kemarin. Mimpi menjadi perempuan jelek yang gendut dan pendek. Aku pergi bersama beberapa paman ke suatu tempat dan sibuk bersih-bersih. Membersihkan tempat kejadian pembunuhan. Korbannya... apa itu AKU?

Tanggal di situ menunjukan musim dingin tahun depan.
---

Sebenernya 3.5🌟
Aku suka ide ceritanya, paling utama. Tentang Lee Kyeong yang bisa memimpikan masa lalu Da Woon. Sementara Da Woon bisa memimpikan masa depan Kyeong. Tapi ini bukan sembarang mimpi, karena mereka benar-benar "bangun" di tubuh itu. Unik dan menarik. Blurbnya juga keren banget, meskipun sekarang aku berpikir blurbnya agak menipu di satu bagian😂

Novel dibuka dengan adegan Kyeong yang membersihkan tempat kejadian pembunuhan bersama rekan-rekannya, dilanjut dengan pertama kalinya dia memimpikan masa lalu Da Woon, yang tidak lain tidak bukan, korban pembunuhan di tempat yang baru saja dibersihkannya.

Nah di sini agak bingung soal sudut pandang. Sebenarnya sudut pandang di sini adalah orang pertama (Lee Kyeong) tapi ketika Kyeong bermimpi jadi Da Woon, sudut pandang 'aku' jadi bercampur antara Da Woon dan Kyeong. Oke, ini poin paling mengganggu karena meskipun bisa bedain mana akunya Da Woon mana yang akunya Kyeong, tetep aja dibuat nggak nyaman.

Kedua, plotnya, aku suka. Nggak bosenin karena misteri, jadi aku dibuat bertanya-tanya siapa pembunuh Da Woon? Apa yang sebenarnya terjadi? Tiap kali Kyeong tidur dan mimpiin Da Woon, aku selalu semangat buat tau apa yang terjadi di masa lalu Da Woon. Dan ternyata lumayan banyak juga plot twist yang bikin gregetan, benang merah mulai terurai.

Tapi, aku juga merasa ada yang nggak begitu penting untuk diceritakan terlalu panjang. Misalnya ketika Kyeong mau 'mengangkat' telepon di dalam taxi, adegan harus flashback dulu ketika ayahnya mengucapkan mantra agar menang lotre. Dan itu malah bikin pengen skip aja deh, kan lagi tegang si Kyeong bisa ngangkat telepon apa nggak? Yang gini ada beberapa.

Untuk karakternya, aku suka karakter Da Woon. Cantik cantik ngeri😂 nggak bisa nulis banyak banyak takutnya spoiler. Yah, pokoknya aku suka karakter dia yang kelam. Kalau Kyeong sendiri, karakternya biasa aja sih menurutku. Tipe-tipe orang baik kebanyakan.

Menuju ending, ada beberapa bagian yang aku nggak ngerti, mungkin berhubungan dengan latar budaya korea, atau mungkin kurang fokus bacanya. Intinya mah nggak ngerti dah, kejadian yang seharusnya 'wow' malah datar aja karena aku nggak ngerti😂. Karena ketidakmengertian ini, bikin aku pengen cepet-cepet ending soalnya penasaran gimana eksekusinya. Kejadian mengerikan masih bertahan sampe akhir tapi aku nggak begitu menikmatinya, jadi biasa aja nggak heboh. Tapi kalimat terakhir endingnya bikin greget dan merinding.

Soal judul, hm, agak nggak srek karena ternyata judulnya nggak mewakili keseluruhan cerita atau bukan merupakan poin penting dalam ceritanya. Judulnya cuma diambil dari keadaan 'kritis'.

Terakhir, kovernyaaaa😍 yes, suka banget kovernya yang bisa dibolak-balik😚
---
"Kuberi tahu ya, uang itu adalah bukti dari akal sehat. Orang yang kehilangan uang dan tetap menjaga akal sehat... tidak ada di dunia ini." - hlm 45

Orang yang banyak rahasia biasanya punya banyak masalah. - hlm 58

"Aku memang takut akan kematian, tapi aku tidak memikirkan alasan kenapa aku harus hidup." - hlm 232





View all my reviews

Jumat, 20 Oktober 2017

[RESENSI] Kiss The Sun by Awie Awan



Judul: Kiss The Sun
Pengarang: Awie Awan
Editor: Maya
Setting: Vindya Puspasari R.
Desain Kover: Priyo Wicaksono
Korektor: Ratih
Penerbit: Penerbit Andi (2017)
Jumlah Halaman: 232 hlm.
ISBN: 978-979-29-6108-9
---
Blurb:

Cherry histeris dan panik saat ia terbangun dan menemukan dirinya telah berubah menjadi seorang pria dengan tubuh kerempeng, dan berwajah jelek.

Cherry pun meminta bantuan sahabatnya —Melly untuk mencari tahu mengala dirinya berubah wujud dan mencari cara mengembalikan dirinya ke wujud semula.
Kata seorang dukun terkenal, perubahan itu terjadi karena Cherry mengeluh tidak ingin jadi perempuan. Sebuah batu gaib pun mewujudkan permintaan Cherry.

Cherry dapat kembali menjadi perempuan dengan cara mendapatkan sebuag ciuman yang tulus dari pacarnya —James, seorang aktor film yang sedang naik daun. Sayangnya, mereka baru saja bertengkar hebat, sehari sebelum Cherry berubah menjadi seorang pria.

Cherry —yang merubah namanya menjadi Gerry— berusaha keras meyakinkan James, kalau ia adalah Cherry —kekasihnya. Namun usaha Cherry malah memperburuk keadaan. James malah diberitakan sebagai penyuka sesama jenis. James semakin depresi. Cherry menjadi frustrasi.

Akankah Gerry dapat menjadi Cherry kembali? Ataukah, Cherry dan James memang ditakdirkan untuk menjalani kehidupan mereka masing-masing? Dapatkah Cherry menerima kenyataan bahwa mungkin takdirnya untuk melanjutkan hidup dengan jati diri yang baru sama sekali, menjadi Gerry untuk selamanya?

---

Semakin lama, punya pacar seorang artis itu sulit bagi Cherry. Baru aja seneng nonton konser, eh di kampus temennya ngomongin James, pacarnya yang digosipin cinlok sama lawan mainnya. Tapi James ternyata cowok yang setia, dia bahkan nekat berlutut di temlat umum agar dimaafkan oleh Cherry.

Konflik bermula ketika James dituntut melakukan sesuatu yang menurut Cherry pantang dilakukannya. James mencoba menjelaskan ketika gala premier filmnya nanti, tapi saat itu Cherry sudah ada janji pergi ke Bali bersama Melly, sahabatnya. Di sanalah Cherry menemuman 'pengkhianatan' James. Mereka bertengkar via telepon. Dan akhirnya dengan gegabah, Cherry meminta agar lebih baik dia jadi cowok saja.

Sebuah batu bertuah mengabulkan permohonannya, Cherry terbangun di pagi hari sebagai seorang cowok jelek dan kerempeng. Dia buru-buru kabur dari rumahnya dan menemui Melly untuk meminta bantuan. Meski cukup sulit, Melly akhirnya percaya, mereka berdua mencoba mencari cara menghilangkan kutukan ini.

Satu-satunya cara adalah dengan membuat James mencium Cherry dengan tulus, tapi tentu saja itu sulit karena James adalah artis sekaligus cowok normal yang tidak mungkin mencium seorang lelaki juga...

---

Sejujurnya aku tertarik kepada novel ini adalah karena blurbnya yang oke punya. Aku suka dengan temanya yang menantang, membuatku langsung berpikir untuk menebak-nebak jalan cerita apa yang dipakai penulis untuk mengeksekusi ide cerita ini?

Aku cukup menikmati novel ini, bahasanya ringan dan tidak ada typo, meski aku tau kalau masih ada penulisan dialog yang salah. But its okay. Menurutku narasinya kurang panjang, cenderung cepat jadi tidak ada waktu untuk merasakan feel yang lebih dalam. Tapi banyak humor terselip yang bikin ngakak😂😂

Untuk plot, aku cukup suka. Idenya apalagi, unik. Cuma karena konflik yang cuma satu, aku merasa novel ini berakhir terlalu biasa. Terlebih novel ini 'terlalu' fiksi. Kurang realitasnya, meskipun kadang dibuat ketawa sama kefiksian ini😂 bukannya aku gak suka novel yang menyelipkan ketidakmungkinan, tapi hanya kurang diperdalam aja gitu, setidaknya ada ketidakmungkinan yang beralasan kuat😅

Aku suka karakter James. Cowok setia plus artis. Sementara Melly dan Cherry aku pikir nggak ada bedanya di antara mereka, cuma nama dan bayangangku saja yang membedakan mereka😅 Untuk Soraya, lawan main James yang digosipkan cinlok, aku menyayangkan dia cuma jadi cameo. Padahal kayaknya lebih seru kalau konflik diperluas lagi dengan kehadiran antagonis, gak hanya tentang bagaimana Cherry mendapatkan ciuman James.

Beberapa kejanggalan yang aku temukan di novel ini: ada adegan Cherry yang mondar mandir di sekitar kampus, kesenggol segerombolan cowok, hapenya terpental ke jalan, kelindes mobil. Nah, aku kurang paham soal latarnya. Mondar mandir di kampus tuh seberangan banget sama jalan raya sampe hapenya bisa kelindes gitu?:(
Terus ada lagi "menelan ludah bulat-bulat" ini bikin ngakak sih, tapi sepemahamanku, menelan bulat-bulat itu kayak benda padat deh, atau hiperbol yang biasanya dipake sama kata kenyataan pahit😂

Dan satu lagi, soal kecelakaan kereta api. Dompet Cherry dicuri ketika dia pergi naik kereta ke rumah Ki Jaka Tulu, setelah dia pulang, berita kecelakaan kereta api muncul, salah satu korban bernama Cherry (yang hampir dapat disimpulkan adalah karena keberadaan dompet itu) tapi ketika James mencari tahu tentang berita itu, ditemukan fakta bahwa jasad yang diduga sebagai Cherry adalah seorang pria, susah diindentifikasi karena tubuhnya sudah hangus terbakar. Pertanyaannya, jasad aja hangus terbakar tapi dompetnya utuh?:(

Overall, aku merekomendasikan buku ini bagi mereka yang baru mulai mencoba menyukai buku. Karena isinya ringan, konfliknya fiksi, dan tentunya menghibur karena humornya😂😂 Selain itu cocok juga selingan bagi yang reading slump atau butuh cerita-cerita yang nggak berat dicerna. Rate 3/5🌟
Diberdayakan oleh Blogger.

Fav-Qoutes

"Kekuatan ada pada diri orang-orang yang tetap bangun dan menjalani setiap hari meski hal terakhir yang ingin mereka lakukan adalah hidup. Kekuatan datang dari senyum mereka yang bersedih, dari orang-orang yang telah kehilangan segalanya namun tetap bertahan." (Some Kind of Wonderful by Winna Efendi

"Billie tidak bisa berhenti bertanya-tanya dengan naif mengapa beberapa wanita mendapatkan banyak hal sejak mereka dilahirkan -kecantikan, pendidikan, kekayaan, bakat- sementara yang lain harus memulai hidup dengan begitu sedikit anugerah." (The Girl On Paper by Guillaume Musso)

“Dia akan pergi lagi. Dia akan pergi lagi dan lagi sampai umurnya cukup dewasa dan tidak ada lagi yang bisa mengirimnya pulang.” – hlm 363 (Little Fires Everywhere by Celeste Ng)