Senin, 26 November 2018

[RESENSI] The Last Star by Rick Yancey (The 5th Wave #3)



Judul: The Last Star
Penulis: Rick Yancey
Alih bahasa: Angelic Zaizai
Editor: Mery Riansyah
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2017)
Jumlah halaman: 400 hlm.
ISBN: 9786020361208

Blurb:

Makhluk Lain itu musuh kita. Kitalah musuh kita.
Mereka ada di bawah ini, di atas sana, di mana-mana. Mereka menginginkan Bumi, mereka meginginkan kita menempatinya. Mereka datang untuk memusnahkan kita, mereka datang untuk menyelamatkan kita.

Namun di balik teka-teki ini ada satu kebenaran: Cassie dikhianati. Begitu juga Ringer. Zombie. Nugget. Dan 7.5 miliar manusia yang tadinya hidup di planet kita. Mula-mula dikhianati oleh Makhluk Lain, sekarang oleh sesamanya. Pada hari-hari terakhir, para penghuni Bumi yang tersisa harus memutuskan apa yang lebih penting: menyelamatkan diri sendiri...atau menyelamatkan apa yang menjadikan kita manusia.

----

Buku terakhir dan aku sama sekali nggak kehilangan semangat meski agak kecewa di buku kedua. Dan ya, aku menemukan kembali ‘nyawa’ seri ini di buku ketiga, hampir sama sesemangat aku ketika membaca buku pertama.

Bicara soal gaya bahasa, di buku ketiga ini masih sama, berat, tapi tidak terlalu banyak, soalnya bagian yang kusuka ada banyak di buku ini. Pov Cassie dan Pov Ben yang menyenangkan. Akhirnya aku bisa membedakan lagi mana Cassie dan mana Ringer.

Konflik dimulai ketika Razor, orang yang ditugaskan menjaga Ringer selama ‘perawatan’ di pangkalan baru menyuruh gadis itu kabur. Namun, Ringer melakukan yang sebaliknya. Dia bertahan. Karena dia berpikir akan bisa menyelesaikan Vosch jika dia menurut. Satu-satunya yang diinginkan Vosch, harus dibunuhnya, yaitu: Evan Walker.

Evan sendiri masih bersama Cassie, menyusun rencana. Lalu Ben, pergi menyusul Ringer yang dia kira sudah berada di utara bersama Teacup. Sayangnya, menuju utara bukan hal yang mudah. Ada dua peredam yang menanti Ben dan Dumbo dalam perjalanan.

Full action! Inilah yang buat aku makin semangat. Aku merasa setiap membuka halamannya, aku selalu merasa tertantang. Meskipun bagian Cassie terasa sedikit di bab-bab awal, aku sudah terhibur dengan petualangan Ben, yang bertemu lagi dengan Ringer yang sudah berbeda di utara.
Mereka semua, tanpa sadar, saling mengkhianati. Dan ketika mereka semua kembali berkumpul, aku sangat menikmati alur yang dibuat Rick Yancey. Seru, menegangkan dan keren!

Mungkin akan sulit menjelaskan secara panjang lebar, yang jelas, novel ini sangat memenuhi ekspektasiku. Tidak ada karakter yang sia-sia, semua tokoh ditempatkan dalam porsi yang pas dengan posisi yang baik.

Akhirnya setelah berbosan-bosan di Infinite Sea, Last Star menyajikan penutup yang mendebarkan. Aku suka cara penulis mendeskripsikan setiap aksi dan rencana-rencana di novel ini. Namun memang narasi masih mendominasi novel ini, dialognya sedikit :’)
Aku juga masih merasakan capek ketika membaca pov Ringer dan pov Ben (tapi Ben kebantu sama petualangannya yang seru XD )

Selain itu, ada hal-hal yang agak mengganjalku di novel ini. Yaitu penokohannya, aku merasa, mungkin karena terlalu banyak berganti pov dan porsi yang sama besar untuk tiap karakter, aku kurang menyatu dengan kemistri para tokoh. Aku merasa novel ini hanya fokus kepada konfliknya: menghancurkan Vosch. Sementara tokoh-tokohnya hanya seolah wayang yang tidak berpengaruh apa-apa buatku.

Overall, novel ini baguss. Serunya setara sama buku pertamanya. Aku suka semuanya, kecuali enedingnya HAHA. Yang jujur sampai saat ini aku masih nggak paham! Siapa pun yang udah baca novel ini dan mau sukarela berdiskusi, tolong komentar:’)

Satu hal yang aku kerasa banget dapetin sesuatu dari novel ini adalah bahwa aku sekaran trauma sama judul buku yang ada kata ‘star’nya HAHA. Kenapa? Silakan baca series The Young Elites-nya Marie Lu dan seri ini. Kalian akan paham :’)
“Bagi sebagian orang, kematian adalah bidan pembantu lahirnya keimanan. Bagi yang lain, kematian adalah algojo keimanan.” – hlm 17
“Aku tidak mau membuang-buang lebih banyak waktu untuk mencemaskan semua hal yang tak kuketahui.” – Ben (hlm 53)
“Mereka takkan berhenti sampai semua orang tewas. Tuhan membiarkan itu terjadi karena Tuhan ingin itu terjadi. Dan tak ada yang bisa melawan Tuhan. Dia kan Tuhan.” – hlm 78
“Hidup berarti mengambil risiko atas nyawamu, hatimu, segala-galanya. Kalau tidak, kau cuma mayat berjalan. Kau zombie.” – hlm 386


[RESENSI] The Infinite Sea by Rick Yancey (The 5th Wave #2)




Judul: The Infinite Sea
Penulis: Rick Yancey
Alih bahasa: Angelic Zaizai
Desain sampul: Marcel A.W
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2015)
Jumlah halaman: 400 hlm.
ISBN: 978-602-03-1799-1

Blurb:

Bagaimana cara melenyapkan miliaran manusia penghuni Bumi?
Lenyapkan sisi kemanusiaan mereka.

Nyaris mustahil rasanya selamat dari empat gelombang pertama. Tetapi Cassie Sullivan berhasil, dan sekarang ia hidup di dunia baru, dunia tanpa rasa percaya pada sesama. Saat Gelombang 5 menyapu segalanya, Cassie, Ben, dan Ringer dipaksa berhadapan dengan tujuan utama para Makhluk Lain: pemusnahan umat manusia.

Maka mereka pun terlibat dalam pertempuran terdahsyat: antara hidup dan mati, cinta dan benci, harapan dan kenyataan.

----

Jauh di luar ekspektasi, inilah yang aku rasakan ketika membaca buku kedua trilogi ini. Aku emang suka banget sama buku pertamanya dan itulah kenapa aku pengen namatin seri ini, tapi ternyata buku kedua nggak sebagus buku pertama.

Cerita dimulai dengan POV Ringer, heroin yang berhasil mencuri perhatianku di buku pertama. Gaya bahasanya masih sama seperti buku pertama, memang agak berat dan butuh berpikir dua kali untuk mencerna, meski nggak di semua bagian. Menurutku, POV Ringer atau yang berhubungan dengan pangkalan dan Vosch sangat rumit.

Beda dengan POV Cassie atau Ben yang agak santai, walaupun di buku kedua ini, aku nggak bisa merasakan perbedaan antara pov Cassie dan Ringer, mereka kelihatan sama buatku.
Setelah Evan meledakkan pangkalan dan Cassie kabur, mereka bersembunyi di sebuah bangkai hotel, namun mereka tidak bisa tetap di situ, karena Vosch masih memburu mereka. Ditambah lagi sekarang ada Grace, manusia sejenis Evan yang ikut mencari mereka.

Ringer terpaksa pergi untuk menemukan tempat penampungan di utara, sementara Teacup menyusulnya. Sialnya, sesuatu terjadi kepada Cup, lalu Ringer. Mereka berdua diculik oleh Vosch dan sesuatu yang mengejutkan terjadi pada Ringer.
Sementara itu, Evan menepati janjinya dan kembali kepada Cassie. Sayangnya, kembalinya Evan pun membawa musuh-musuh untuk mendekat.

Secara garis besar, hanya segitulah kisah pada buku kedua ini. Momen-momen besar jarang terjadi, digantikan alur yang lumayan lambat. Konflik utamanya pun bisa dibilang terletak pada Ringer, menguak sesuatu yang sebenarnya terjadi di dunia mereka. Kebenaran tentang Makhluk Lain. sejujurnya, plot twist ini cukup membuatku melongo. Bagian terbaik dari novel ini hanya plot twistnya, menurutku.

Aku juga merasa alurnya begitu lambat pada bagian Ringer, dan jujur ini bikin aku ngantuk karena harus berpikir dua kali untuk mencerna dan bosan, padahal konflik utama terletak di sini. Aku merasa penulis mengulur-ngulur ceritanya.

Para tokoh pun cenderung datar-datar saja. Tidak ada perkembangan, menurutku. Bagian Cassie dan Ben yang menurutku menarik justru tertutup oleh Ringer. Di sini juga ada pov Poundcake, prajurit yang tidak pernah berbicara, namun karena hanya satu bab porsinya, aku nggak terlalu merasa dekat dengan cowok itu. Dan bagian Ringer yang paling banyak ini, meskipun dia tokoh kesukaanku, ternyata aku kurang puas dengan kehidupan dan aksinya HAHA XD

Overall, aku kurang merasakan chemistry atau ‘nyawa’ dalam novel ini, tapi meski begitu banyak juga bagian-bagian yang menyenangkan untuk diikuti :D satu hal yang aku sayangkan adalah kenapa kovernyaaaa harus ada gambar wajahhhh perempuaaaan. Sekian.
Quote:
“Janji adalah satu-satunya mata uang yang tersisa. Harus dibelanjakan dengan bijak.” – hlm 21
“Kadang-kadang kau berada di tempat yang salah pada waktu yang keliru dan apa yang terjadi bukan kesalahan siapa-siapa. Kau cuma ingin merasa bersalah agar kau meras lebih baik.” – Ringer (hlm 40)
“Kenapa seseorang harus hidup meskipun dunia itu sendiri akan musnah?” – hlm 144
“Aku tidak mau menyelamatkan dunia. Aku hanya berharap siapa tahu aku dapat kesempatan untuk membunuhmu.” – Ringer kepada Vosch. (hlm 317)
"Kenapa kau tak berdoa?" - “Aku tak suka merepotkan Tuhan.” – Ringer (hlm 334)



Minggu, 18 November 2018

[RESENSI] Little Fires Everywhere by Celeste Ng




Judul: Little Fires Everywhere
Penulis: Celeste Ng
Penerjemah: Angelic Zaizai
Penyunting: Mery Riansyah
Penyelaras Aksara: Yuli Yono
Ilustrasi dan Sampul: sukutangan
Penata Sampul: @teguhra
Penerbit: Spring (Juli 2018)
Jumlah halaman: 368 hlm.
ISBN: 978-602-6682-26-0

Blurb:

Semua orang di Shaker Heights membicarakannya musim panas itu: bagaimana Isabelle, anak bungsu keluarga Richardson, akhirnya menjadi gila dan membakar habis rumah mereka.
Elena Richardson
Seorang istri dan ibu empat orang anak, dan sangat bersemangat dalam menerapkan norma-norma Shaker Heights yang penuh keteraturan dalam hidupnya.
Mia Warren
Seorang pendatang, seniman, dan orangtua tunggal, yang menyewa rumah milik keluarga Richardson.
Hubungan keduanya baik-baik saja. Namun, ketika sahabat keluarga Richardson berusaha mengadopsi seorang bayi Tionghoa-Amerika, pertempuran hak asuh yang dramatis memecah-belah kota, menempatkan Elena dan Mia dalam kubu berlawanan.
Bahkan rahasia-rahasia gelap masa lalu yang tidak seharusnya diungkit pun mulai muncul ke permukaan....

----

I have no idea about this book, aku nggak tau akan kemana mengalirnya konflik dalam buku ini. Ketika banyak yang bilang kalau buku ini berbeda dari kebanyakan novel, I totally agree.
Novel dibuka dengan bab satu yang lebih mirip prolog, bagaimana seluruh keluarga Richardson menatap rumah mereka yang terbakar, kecuali Isabelle /Izzy/ tentunya, karena dialah yang sudah membakar rumah itu.

Bab kedua dan sampai bab sembilan ke depan, novel ini menceritakan tentang setiap tokoh, detail, penuh narasi, penulis seolah ingin mengenalkan kita dan membawa kita menyelami setiap karakter dengan baik. Bergantian antara Pearl (anak Mia), Mia, Elena, Izzy, Lexie, Trip, dan Moody. Kadang aku juga merasa pergantian sudut pandang tokoh berubah secara tiba-tiba, anyway meskipun novel ini memakai sudut pandang orang ketiga.

Konflik utama dimulai setelah bab 9 yang sekitar 100an halaman, dan sebelum itu, jujur saja aku sempat dibuat bosan karena alurnya cukup lambat. Kedepannya pun masih sama, alurnya lambat dan maju-mundur, dan aku merasa ada beberapa flashback yang tidak perlu/terlalu panjang/apalah yang menjadikan ceritanya terkesan diulur-ulur, entah :(

Konflik utama cerita ini yaitu ketika teman baik Elena, Mrs. McCullough berencana mengadopsi seorang bayi yang ditelantarkan, bayi itu keturunan Tionghoa-Amerika. Elena yang tahu sahabatnya sulit punya anak, tentu saja mendukung hal itu. Namun masalah muncul ketika Lexie (anak pertama Elena) menceritakan itu kepada Mia yang sedang bekerja paruh-waktu di rumah keluarga Richardson.

Ternyata, Mia memiliki seorang teman Tionghoa di tempatnya bekerja paruh waktu lain, dan bahwa temannya itulah ibu dari bayi May Ling. Sebenarnya, Bebe tidak berniat meninggalkan May Ling, dan ia ingin mengambil kembali bayi itu. Tentu saja sebagai sahabat dan orang yang memiliki masa lalu ‘kelam’, Mia mendukung penuh keputusan Bebe.

Elena dan Mia yang tadinya akur, berubah jadi bermusuhan. Pekerjaan Elena sebagai seorang jurnalis membuatnya nekat mencari tahu hal-hal yang disembunyikan Mia, ketidakjelasan masa lalunya terutama karena foto di museum yang menampilkan dirinya sedang menggendong Pearl saat bayi.
Penelusurannya membawanya ke dalam kisah masa lalu Mia yang pahit. Selagi Elena memfokuskan diri pada masalah sahabatnya dan Mia, anak-anaknya melalui berbagai konflik lain. Menurutku, novel ini memiliki konflik yang cukup kompleks meski tidak rumit. Lebih ke konflik remaja, orangtua, sosial dan hubungan antara orangtua dan anak.

Di sisi lain, Izzy yang lahir prematur, yang selalu dikekang Elena karena ia terlalu paranoid dengan perkembangan Izzy, mulai memberontak dan akhirnya menemukan kenyamanan bersama Mia. Karena Mia tipe ibu yang bersahabat dan mengerti Izzy. Izzy selalu menghabiskan waktu dengan Mia membantunya membuat karya seni fotografi.

“Izzy mendorong, ibunya menahan, dan setelah beberapa lama tak ada yang ingat bagaimana dinamika tersebut berawal, hanya bahwa itu sudah ada sedari dulu.” – hlm 126
Pearl bersahabat dengan Moody, cowok itulah yang pertama kali menawarkannya pertemanan dan membawanya ke rumah keluarga Richardson hingga merasa kerasan. Moody menyukai Pearl, tapi Pearl menyukai kakak Moody yang tampan, Trip. Sementara itu Pearl juga jadi dekat dengan Lexie karena Pearl bersedia membantu Lexie mengerjakan tugas.

Pada akhirnya, penelusuran Elena berakhir pada satu fakta yang membuatnya murka. Berkaitan tentang keluarganya sendiri. Cukup ruwet untuk diceritakan dan takutnya spoiler juga XD tapi sangat realistis! Kesalahpahaman terjadi di mana-mana, dan cerita tidak harus selalu berakhir dengan benang kusut yang terurai.

Overall, aku sangat suka dengan konflik novel ini yang dekat dengan permasalahan sehari-hari. Bahwa menjadi orangtua tidaklah mudah, menjadi seorang anak pun sulit. Beberapa hal yang kurasakan ketika membaca novel ini adalah bahwa aku merasa fontnya terlalu kecil. Lebih banyak telling daripada showing kisah-kisahnya. Tapi, aku tetap suka bagaimana novel ini memberikan pengetahuan baru tentang banyak hal dan bagaimana penulis menyindir kehidupan masa kini.

Novel ini terlalu bermakna untuk dilewatkan ;) 4.3 stars

Quotes

 “Bagi orangtua, anak bukan sekadar seseorang: anak adalah tempat, semacam Narnia, alam abadi luas tempatmu menetap masa sekarang, masa lalu yang kau kenang, dan masa depan yang kau inginkan ada sekaligus.” – hlm 136
“Semuanya kembali, lagi dan lagi, ke titik ini: apa yang menjadikan seseorang seorang ibu? Apa itu berdasarkan biologi, ataukah kasih sayang?” hlm - 282
“Kau akan baik-baik saja, sayang. Kau akan akan baik-baik saja. Tuhan bekerja dengan cara misterius. Tetaplah ceria.” – hlm 320
“Ingat, kau terkadang perlu membakar habis segalanya dan memulai kembali? Setelah terbakar, tanah menjadi lebih subur, dan tanaman baru bisa tumbuh. Manusia juga seperti itu. Mereka memulai kembali. Mereka menemukan jalan.” – hlm 352.
“Tidak apa-apa menjadi rapuh. Tidak apa-apa membutuhkan watu dan melihat apa yang tumbuh.” – hlm 356
“Dia akan pergi lagi. Dia akan pergi lagi dan lagi sampai umurnya cukup dewasa dan tidak ada lagi yang bisa mengirimnya pulang.” – hlm 363




Jumat, 26 Oktober 2018

[RESENSI] My Own Private Mr. Cool by Indah Hanaco

IG: arthms12



Judul: My Own Private Mr. Cool
Penulis: Indah Hanaco
Desain Sampul: Orkha Creative
Desain Isi; Nur Wulan Dari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2018)
Jumlah halaman: 261 hlm
ISBN: 978-602-03-9522-7

Blurb:

Bagi Heidy Theapila, latar belakang keluarga membuatnya tak mudah menemukan pasangan sejiwa. Tapi, ceritanya berbeda dengan Mirza. Heidy meyakini lelaki itu mencintainya dengan tulus. Namun, keyakinannya tumbang. Pertemuan mereka bukan cuma karena campur tangan Allah, melainkan skenario rapi yang berkaitan dengan materi.

Marah sekaligus patah hati, Heidy membatalkan rencana masa depannya dan memilih kabur ke Italia. Langkahnya mungkin tak dewasa, tapi Heidy butuh ruang untuk meninjau ulang semua rencana dalam hidupnya.

Lalu, Allah memberinya kejutan. Dalam pelayaran menyusuri Venesia, Heidy bertemu raksasa bermata biru. Graeme MacLeod, si Mr. Cool, Pria yang mencuri napasnya di pertemuan pertama mereka. Meski ketertarikan di antara mereka begitu besar, Heidy tidak berniat menjalin asmara singkat. Graeme harus dilupakan.

Ketika apa yang terjadi di Venesia tidak bisa tetap ditinggal di Venesia, Heidy mulai goyah. Apalagi Graeme ternyata lelaki gigih yang mengejarnya hingga ke Jakarta dan tak putus asa tatkala ditolak. Meski akhirnya satu per satu rahasia kelam lelaki itu terbuka, Heidy justru kian jatuh cinta.
Pertanyaannya, apakah cinta memang benar-benar mampu menyatukan mereka?

------

Kisah bermula saat Heidy mendadak membatalkan pernikahannya dengan Mirza karena suatu alasan. Dia memakai paket yang sudah dipesannya untuk bulan madu menjadi liburan seorang diri ke Venesia.

Dia ingin menenangkan diri, kabur dari semua hal yang menyesakkan di Jakarta. Lalu, dia bertemu raksasa bermata biru. Graeme MacLeod, nama pria itu. Pria yang mengambil napasnya ketika pertama kali berpandangan. Bukan hanya Heidy, ternyata Graeme merasakan hal yang sama pada gadis itu, merasakan tubuhnya disengat sesuatu tak kasat mata ketika pandangan mereka bertemu.

Pada suatu malam, Graeme, seorang lelaki yang dijuluki Mr. Cool, memberanikan diri untuk berkenalan dengan Heidy. Untungnya, Heidy tipe orang yang supel, membuat perkenalan keduanya tidak kaku. Meskipun jantung keduanya tidak bisa berhenti berdetak terlalu cepat.

Mereka banyak menghabiskan waktu bersama di Venesia, berbagi cerita, makan bersama, dan mengunjungi tempat-tempat di sana. Kebersamaan itu membuat Graeme akhirnya menyadari bahwa perasaannya nyata. Dia menyatakan cinta tepat ketika Heidy hendak pulang ke Jakarta, mengurusi segala masalah yang ditinggalkannya.

Tentu saja pernyataan cinta itu ditolak oleh Heidy. Gadis itu masih belum sembuh, masih belum bisa mempercayai cinta lagi, situasinya kacau dan dia tidak ingin menjalin hubungan terutama dengan pria asing yang baru dikenalnya.

Namun, penolakan Heidy tidak membuat Graeme gentar, berjauhan dengan Heidy dan hanya mendengar suara gadis itu lewat telepon membuatnya kian menyadari rasa cintanya. Graeme menekatkan diri, membawanya terbang ke Jakarta hanya untuk meraih cinta Heidy.

-----

My Own Private Mr. Cool adalah novel pertama Kak Indah Hanaco yang aku baca! Aku suka kovernya sampai-sampai aku nggak bisa berenti bolak-balik mandang kovernya selagi baca XD
Sinopsisnya, memang kayaknya terlalu panjang padahal intinya bisa dipersingkat. Dimulai dari prolog, aku udah langsung tertarik karena di sana menyebutkan ‘kecacatan’ apa yang dimiliki Graeme.

Latar belakang kedua tokoh menjadi poin utama dari konflik dalam novel ini, termasuk yang satu yang terunik dari keseluruhan ceritanya. Heidy yang membatalkan pernikahan karena suatu alasan yang mencengangkan serta ibunya yang tukang-ikut-campur padahal usianya sudah 29 tahun, sementara Graeme yang merupakan mantan marinir, tertarik kepada Islam meski agamanya Kristen, dan pernah kehilangan seseorang yang berarti baginya di medan perang.

Aku suka cara penulis mendeskripsikan segala sesuatu. Sangat mendetail namun tidak menghilangkan keasyikan saat membacanya. Narasinya mengalir dan mudah dimengerti, serta banyak pengetahuan baru yang berhubungan tentang Venesia maupun hal-hal lain seperti kapal Vivaldi dan tentang makanan.

Membaca novel ini membuatku enjoy hingga tidak terasa aku sudah hampir sampai di halaman terakhir.

Konflik yang diangkat sebenarnya cukup umum, bagaimana dua orang yang patah hati, berusaha menyembuhkan diri dan bertemu satu sama lain lalu saling jatuh cinta. Menurutku, hal-hal yang membangun konflik cukup heboh (seperti masa lalu Graeme, agama, ibu Heidy yang bawel dan mantan yang mengejar-ngejar) namun secara intinya, konflik ini tidak terlalu menegangkan. Hanya konflik ringan tentang romansa yang menyentuh hati.

“Bahwa cara terbaik untuk menghindar dari kehilangan adalah tak pernah melakukan hal-hal impulsif demi memuaskan keinginan hati.” – hlm 97
Alur yang dipakai adalah alur maju-mundur. Flashback menceritakan tentang Graeme dan masa lalunya di Fallujah, tempat yang sedang berperang dan bagaimana dia mulai mengenal Islam. Selebihnya, alur yang digunakan adalah maju. Setting novel ini berada di Venesia dan Jakarta lalu sedikit London.

Tidak sulit untuk merasa bahwa cerita berlatar di Venesia karena penulis melakukan riset yang hebat demi terbangunnya nuansa Venesia di benak pembaca. Seperti yang kubilang, novel ini sangat detail.
Dari segi penokohan, aku memang tidak merasa ada yang begitu istimewa. Heidy yang tipe ceria dan menyukai anak kecil, sementara Graeme yang kaku dan rapuh sekaligus. Namun, latar belakang Graeme membuatku lebih tertarik dan menjadikannya tokoh favoritku, terutama karena aku suka setiap dialog yang dilontarkannya saat bersama Heidy.

“Kenapa kau menyukaiku?”
“Kalau aku tahu alasannya, aku sudah mencari obat penawarnya supaya sampai tidak separah ini.” – hlm 114
Selain romansa, novel ini berlatarkan agama Islam yang cukup kentara. Karena baru pertama kali membaca novel berlatarkan agama seperti ini, jujur aku cukup terkejut dan agak canggung saat membacanya. Aku terbiasa membaca novel yang tidak menjelaskan suatu hal tentang agama, kalau pun ada mungkin hanya sepintas.

“Tak masalah apakah kau memanggil-Nya dengan Allah, Tuhan, atau nama lain. Dia pemilik segala bahasa. Dia tahu maksudmu.” – hlm 44
Meskipun tidak mendalam, ciri kebiasaan umat Muslim di sini digambarkan dengan jelas. Bukannya anti membaca suatu novel yang mengangkat topik krusial, tapi aku lebih suka suatu novel netral saja karena memang genre utamanya adalah romace contemporer.

Overall, aku menikmati membaca novel ini, ceritanya manis dan menyentuh. Beberapa kali aku juga dibuat tertawa oleh humor celetukan yang ada di dalam novel ini juga perasaan cinta yang besar di antara kedua tokoh yang diceritakan dengan sangat baik. Kemistri kedua tokoh sangat terasa. Novel ini memberi tahu kita bahwa, cinta memang bisa menyatukan dua anak manusia. Namun, cinta saja tidak cukup. Ada sesuatu yang jauh lebih penting untuk dipertimbangkan selain cinta.
Apakah itu? Temukan di novel My Own Private Mr. Cool!1! XD

“Pada akhirnya, aku percaya kalau orang baik tetaplah orang baik. Tak peduli agama yang dianut atau rasnya.” – hlm 34
“Bukankah lebih baik melakukan sesuatu meski akhirnya gagal dibanding jika dia hanya berdiam diri dan menyesali segalanya suatu ketika nanti?” – hlm 62
“Cintaku mahal, Heidy. Tidak ada yang bisa membayar perasaan sesakral itu.” – hlm 217
“Kurasa, berusaha mengenal seseorang itu butuh waku seumur hidup. Manusia selalu berubah. Juga punya kemampuan menyembunyikan banyak rahasia.” – hlm 240

Minggu, 21 Oktober 2018

[RESENSI] Under the Blue Moon by Cath Crowley


instagram: @arthms12


Judul: Under the Blue Moon (Graffiti Moon)
Penulis: Cath Crowley
Penerjemah: Ingrid Nimpoeno
Penyunting: Jia Effendi
Penyelaras Aksara: Susanti Priyandari
Penata Aksara: Nurul MJ
Perancang Sampul: dwiannisa & elhedz
Penerbit; Noura Books (Oktober 2015)
Jumlah halaman: 303 hlm.
ISBN: 978-602-0989-70

Blurb:

Kuharap aku tidak terlambat.
Semoga aku bertemu Shadow.
Cowok misterius yang melukis dalam kegelapan. Melukis burung-burung yang terperangkap di tembok bata dan orang-orang yang tersesat di hutan hantu.
Dia membuatku jatuh cinta
Setengah mati.
Malam ini aku harus bertemu dengannya.
Apa pun yang terjadi.

-----

Buku Cath Crowley pertama yang aku baca! Jujur agak tidak tertarik sama kovernya tapi blurbnya bikin aku jatuh cinta pada bacaan pertama XD
Cerita dimulai dari Lucy yang dikirimi pesan oleh Al, pria tua yang berkedudukan sebagai bosnya. Al membertiahu bahwa Shadow ada di depannya saat ini, menggambar, sementara Poet baru datang, akan menyelesaikan karya Shadow dengan membubuhkan kata-kata.

Tapi Lucy terlambat. Jadi dia tidak bisa menemui orang yang dia kagumi itu. Kemudian dia pergi menemui Jazz, sahabatnya yang cenayang, untuk menghabiskan malam pesta akhir kelas 12. Di sana Jazz akan berkencan dengan cowok ganteng bernama Leo, sementara Daisy akan bertemu pacarnya Dylan (yang akan bertengkar sepanjang waktu) lalu Lucy akan bertemu mantan kencannya, Ed.

Dia punya pengalaman buruk dengan Ed. Di kencan pertama mereka, Lucy mematahkan hidung Ed sekali sikut karena Ed meremas bokongnya. Sejak itu, Lucy tidak pernah menemukan teman kencan lagi (dan karena mengejar Shadow) sementara Ed putus sekolah karena suatu hal.

Lalu Daisy ingat bahwa Dylan mengatakan dia mengenal Shadow dan Poet, hingga akhirnya para cewek setuju untuk nongkrong bareng mereka asal mereka membantu Lucy mencari Shadow.
Malam itu, mereka pergi ke pesta kakak Leo, sementara itu Lucy dan Ed tidak betah di sana, mereka memutuskan untuk pergi, mencari Shadow, menelusuri jejak mural karya Shadow dan mengalami malam panjang tak terlupakan.

Perlahan-lahan, mereka mulai akrab, jauh berbeda dengan kencan pertama mereka yang canggung. Namun, ternyata Ed menyembunyikan rahasia. Tak hanya satu, tapi banyak kejutan.

----

Aku baca ini cuma sehari! Karena langsung cocok dengan gaya bahasa Cath Crowley atau terjemahannya (terserah lah!) pokoknya aku langsung menikmati novel ini. Gaya bahasanya yang ringan dan mengalir, lalu narasi dan dialognya yang asik. Terlebih, novel ini punya bagian favoritku; bab-bab yang banyak tapi pendek. Hal ini sangat membantuku untuk menyelesaikan buku ini dengan cepat.

Konfliknya seru! Memang alurnya tergolong biasa saja dan ringan, malahan setting waktunya hanya satu malam saja. Dan menurutku ini jadi daya tarik tersendiri. Satu malam menjadi sebuah novel yang keren. Aku suka.

Konflik utamanya adalah bagaimana Lucy berusaha menemukan Shadow, dibantu Ed, mereka malah menjadi akrab. Kedengarannya nggak menarik ya? Tapi setelah baca, aku benar-benar dibuat jatuh cinta oleh alurnya. Novel ini bikin gemes karena salah satu rahasia Ed, rahasia ini memang sudah diketahui sejak awal, namun aku sengaja nggak tulis biar seru XD

Aku suka cara Ed dan Lucy berinteraksi, dialognya penuh humor, ditambah mereka semua, iya semuaaa tokohnya punya ciri khas yang membuat mereka jadi imut. Tingkah mereka benar-benar mencerminkan seorang remaja belum lagi konflik internal pendukung latar belakang mereka.

Lucy yang pemimpi, pekerja seni, naif dan manis, punya orangtua lengkap namun tinggal terpisah. Mum di rumah bersamanya, sementara Dad di gudang. Ya, mereka masih satu lokasi rumah namun terpisah. Hal itu kadang membuat Lucy cemas mereka akan bercerai meskipun ibunya berkali-kali mengatakan hal itu tidak akan terjadi.
“Tahukah kau bahwa kita terbuat dari materi yang sama seperti bintang-bintang? Kita adalah energi nuklir yang meledak.” – Lucy (hlm 119)
Kira-kira begitulah sebagian besar isi otak Lucy yang menurutku mengagumnkan :D
Ed, yang mempunyai rahasia kecil kenapa dia berhenti sekolah, Leo lah satu-satunya orang yang tahu rahasia itu, bahkan ibunya tidak. Ed sangat menyayangi ibunya karena dia adalah single parent, berusaha bertahan hidup disamping sekolah lagi jurusan keperawatan.

Mereka hidup serba kekurangan jadi Ed mengatakan dia putus sekolah karena tidak suka sekolah dan ingin membantu ibunya. Ed ini tipe cowok yang manis terhadap ibunya, dia juga sangat sayang kepada mantan pacarnya, namun bisa gila, menyenangkan dan menjengkelkan sekaligus saat bersama teman-temannya, apalagi dengan Lucy yang punya sejarah tak terlupakan soal hidung patah.

“Kata-katanya adalah lukisan, dan aku melukisnya di dinding di kepalaku saat dia berbicara.” – Ed (hlm 196)
Jazz, seorang cenayang. Dia bisa mendapatkan firasat dan dia orang yang menyengkan. Leo orang yang karakternya diciptakan memang untuk menjadi cocok dengan Jazz, penuh pesona dan akal bulus XD
“Kau aneh. Tapi, itu tidak apa-apa. Kau membuatku terlihat normal.” – Jazz (hlm 77)
“Kurasa seniman grafiti yang tak terlihat hanya berada satu langkah di atas tokoh fiksi.” – Jazz (hlm 122)
Daisy dan Dylan bertengkar sepanjang waktu karena Dylan melemparinya sekotak telur saat berusaha merayakan malam terakhir kelas 12 dan juga karena ada satu alasan penting lain.

Selain mereka, ada pula sosok tokoh Bert, mantan bos cat-nya Ed yang sesekali flashbacknya muncul, menjadikan novel ini beralur maju-mundur. Bert dikisahkan punya sifat yang bijaksana sekaligus menyenangkan bagi Ed. Dia sering mengingat nasihat-nasihan Bert saat berhadapan sepanjang malam dengan Lucy.

“Kau tahu tikus bisa berenang? Mereka panik ketika masuk air, tapi mereka akan baik-baik saja.” – Bert (hlm 103)
“Dia mengatakan mimpi adalah satu-satunya cara untuk pergi ke tempat mana pun.” – hlm 138
Karakter yang paling aku suka adalah Ed, entah kenapa latar belakangnya mampu menyeretku untuk suka padanya. Pokoknya, aku suka Ed karena dia rapuh, tapi juga kuat, cerdas, dan menawan. Hahahaha XD

Tapi aku juga suka Lucy, karena sikapnya yang tenang dan kalimat-kalimat penuh mimpi yang keluar dari mulutnya membuat dia aneh sekaligus menarik. Seperti yang Ed rasakan kepadanya.
Novel ini punya 2 sudut pandang, bergantian antara Ed dan Lucy, namun ada juga bab-bab selingan berisi puisi-puisi karya Poet. Dia menuliskan kisahnya sendiri pada malam panjang itu bersama seseorang berbentuk puisi. Dan ini jugalah hal yang buat aku suka novel ini, diselingi puisi Poet yang indah :D

Ada segerombolan mimpi buruk
Dan di balik mimpi-mimpi itu
Jika kau bisa melewati mimpi-mimpi itu
Ada hal yang membuatnya berdetak
Tak, tak, tak.
” – Poet (hlm 145)

Overall, aku nggak akan nulis banyak. Aku beneran suka kisah ini karena menurutku konfliknya ringan dan khas remaja tapi nggak mainstream, karakternya yang khas, bab-babnya pendek, interaksi Ed dan Lucy yang menggemaskan dan puisi-puisi Poet. Seluruh isi novel ini bikin aku jatuh cinta dan membacanya bikin heartwarming gitu. Well, 4.5 bintang karena novel ini sangattt memenuhi ekspektasiku :D

Qoutes:
“Itulah yang kusukai dari seni, yaitu apa yang kau lihat terkadang lebih menyangkut siapa dirimu daripada apa yang terpampang di tembok.” – hlm 24
“Manusia itu kuat, tapi jika kau memukulnya di tempat yang tepat, mereka akan hancur.” – hlm 200


Jumat, 19 Oktober 2018

[RESENSI] Once and For All by Sarah Dessen

IG: @arthms12

Judul; Once and For All (Sekali untuk Selamanya)
Penulis: Sarah Dessen
Alih Bahasa: Mery Riansyah
Editor: Dion Rahman
Penata Letak: Divia Permatasari
Penerbit: Elex Media Komputindo (2018)
Jumlah halaman: 364 hlm
ISBN: 978-602-04-8000-8

Blurb:

Louna, putri perencana pernikahan terkenal Natalie Barrett, telah melihat setiap jenis pernikahan. Di pantai, di rumah mewah bersejarah, di hotel, dan klub mahal. Mungkin, itulah sebabnya dia memandang sinis sebuah akhir kisah bahagia selamanya, terutama sejak cinta pertamanya berakhir tragis.

Saat Louna bertemu dengan Ambrose Little, si –cowok-penuh-pesona dalam sebuah acara pernikahan, dia membentangkan jarak dengan cowok yang tidak mungkin masuk daftar kencannya tersebut.

Namun, Ambrose tidak berkecil hati atas penolakan Louna. Cowok itu selalu punya cara brilian yang juga menakjubkan untuk memenangkan hati gadis yang benar-benar diinginkannya.
Setelah kejadian pada malam di toko satu dolar, apakah Louna masih berpikir tidak ada akhir yang bahagia dalam kisah cintanya?

----

Kisah bermula saat Louna harus menenangkan calon pengantin yang mendadak gelisah. Deborah, namanya, bertanya apakah Louna percaya pada cinta sejati?
Tentu saja tidak. Tapi dia tidak menjawab.
“Semoga beruntung. Semoga kalian selalu punya jawaban untuk pertanyaan penting satu sama lain.” – hlm 9
Lalu pernikahan selanjutnya adalah pernikahan milik Eve Little. Di sana, dia terpaksa menyeret anak lelaki Eve Little yang desersi dari acara. Dialah Ambrose Little, sedang tebar pesona kepada seorang gadis.

Bermula dari sanalah, Ambrose merasakan benih cinta itu, yang tumbuh secara tiba-tiba untuk Louna. Tapi gadis itu, yang mempunyai kisah suram tentang cinta, menolak mengakui bahwa dirinya juga tertarik kepada Ambrose hanya karena lelaki itu senang berkencan dengan siapa saja dalam waktu yang singkat.

Pernikahan selanjutnya adalah Bee Little, kakak dari Ambrose. Demi membuat Bee tenang menghadapi pernikahannya yang juga diurusi oleh Natalie Barrett, Natalie membuat Ambrose bekerja padanya. Itu artinya, dia akan bekerja dengan Louna.

Jilly, teman Louna yang sangat berharap Louna bisa sembuh dari lukanya dan kembali membuka hati, tidak berhenti mengenalkan gadis itu ke beberapa cowok, namun tidak ada yang berjalan dengan lancar. Sampai akhirnya Ambrose mengejeknya, Louna balas mengejek, lalu berlanjut dengan taruhan.

Ambrose ditantang untuk berkencan dengan satu cewek saja selama 7 minggu sementara Louna harus banyak berkencan dengan cowok-cowok yang berbeda selama 7 minggu pula. Yang menang, bebas memilih siapa pun untuk jadi pacar selanjutnya bagi yang kalah. Siapa yang akan menang?

Kisah yang cukup unik buatku, bertemakan Wedding Planner, sedikit banyak memberiku pengetahuan soal bagaimana proses dari perencanaan pernikahan. Awalnya aku kira novel ini adalah novel dengan karakter tokoh dewasa, namun ternyata novel ini adalah novel remaja, young-adult lah!
Aku suka kovernya yang cantik, dan agak sedikit serius makanya aku pikir ini novel dewasa, tapi jujur aku lebih suka kover versi aslinya XD

Pertama kalinya membaca novel Sarah Dessen dan di halaman pertama aku langsung jatuh cinta sama novel ini. Dimulai dari pertanyaan yang membuat aku langsung mengenal Louna dan memahami posisinya. Gaya bahasa yang mengalir dan enak untuk diikuti, santai dan manis, terjemahannya pun enak.

Aku sempat berpikir juga novel ini akan penuh drama anak muda atau gaya hidup ala barat yang terkesan liar namun di sini aku tidak menemukan itu dan aku sukaaa. Memakai sudut pandang Louna yang merupakan anak baik-baik dan sibuk membantu ibunya menjadi wedding planner, aku suka setting ini.

Konfliknya bisa dibilang cukup sendu karena Louna kehilangan mantan pacarnya yang sempurna itu secara tragis dan itu memengaruhi sikap dan pandangannya saat ini. Dengan alur maju mundur, novel ini mengajakku kembali ke masa lalu di mana Louna masih berbahagia dengan Ethan sekaligus suram di masa sekarang.

Di situlah karakter Ambrose tepat berada pada tempatnya. Dia tertarik pada Louna dalam satu pandangan. Namun gadis itu banyak menolaknya. Ambrose adalah tipe cowok yang mudah penasaran dengan wanita, tapi Louna membuat segalanya menjadi dua kali lebih sulit bagi Ambrose.
Tingkahnya yang tidak tertebak, selalu tebar pesona dan penuh ide-ide jahil membuat karakter Ambrose menjadi lovable menurutku, dia iseng dan sarat akan kejutan, Ambrose bagai pelangi di kisah hidup Louna yang datar dan muram.

“Aku semacam mirip enigma. Misterius, sulit ditebak.” – Ambrose (hlm 80)
Aku suka bagaimana Ambrose memberi tantangan itu kepada Louna, yakin bahwa dia akan menang. Karena semua orang tahu, Jilly tahu, William (rekan kerja Natalie) pun tahu, kalau Ambrose memenangkan taruhan ini, dia akan membuat dirinya sendiri menjadi pacar Louna yang selanjutnya.

Louna, yang menurutku sedikit kurang peka ini tidak sadar bahwa dia selalu gagal mencoba berkencan dengan seorang cowok, namun selalu bisa mengatasi Ambrose seajaib apa pun tingkahnya.
Aku sangat suka interaksi keduanya yang menggemaskan. Ambrose selalu punya cara untuk ‘mengganggu’ Louna. Tapi satu hal yang Ambrose nggak tahu, yaitu masa lalu Louna dan Ethan.

“Aku tidak mau menghancurkan keyakinanmu, tapi hanya karena kau membuat banyak permohonan bukan berarti kesempatan itu dikabulkan akan semakin meningkat.” – Louna to Ambrose (hlm 241)
Louna adalah gadis yang murung sekaligus mudah untuk dicintai. Dalam narasi-narasinya, dia mengajak pembaca untuk berpikir bahwa dia baik-baik saja, dia hanya belum bisa menemukan cinta yang selanjutnya karena masih terbayang Ethan dan bagaimana hubungan mereka berakhir.
“Terkadang melupakan sama buruknya dengan mengingat.” – hlm 113
“Kita berhenti memercayai harapan ketika satu-satunya yang kau inginkan tidak terkabulkan.” – hlm 242
Well, aku suka kisah remaja ini, manissss dan sendu sekaligus, kemistri antara kedua tokoh yang kuat, feel cerita yang sangat dapet. Ceritanya yang heartwarming dan sekaligus membuat kita bakal percaya dengan yang namanya cinta sejati meskipun setiap cerita tidak harus happy ending.
“Kita tidak bisa mengukur cinta dari waktu yang dihabiskan bersama, tapi dari betapa bermaknanya momen-momen tersebut.” – hlm 118
p.s ada satu rasa penasaran soal Phone Lady yang mendadak bikin merinding di bagian akhir namun sayangnya nggak ada penjelasannya:’)

“Hidup membentuk seseorang dalam cara-cara yang unik. Tidak ada yang dapat benar-benar mengerti bagaimana masing-masing kejadian pada masa tahun lalu –berat dan ringan– telah mengasahku menjadi diriku sekarang, tajam di beberapa tempat, lebih kapalan dai tempat-tempat yang lain. Aku bukan monster. Belum.” – hlm 139
“Seluruh hal tentang jatuh cinta, sangat romantis, hal penting. Kapan kau mendapatkan itu?” – hlm 275
“Isn’t that the way everything begins? A night, a love, a once and for all.”[]

Senin, 15 Oktober 2018

[RESENSI] Ready Player One by Ernest Cline

instagram: @Arthms12

Judul: Ready Player One
Penulis: Ernest Cline
Penerjemah: Hetih Rusli
Penyunting: Raya Fitrah
Penyelaras Aksara: Muthia Esfand
Desain Sampul: Sukutangan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (Maret 2018)
Jumlah halaman: 544 hlm.
ISBN: 9786020382777

Blurb:

Pada tahun 2045, realitas adalah tempat yang buruk. Wade Watts hanya merasa sepenuhnya hidup saat masuk ke dunia utopia virtual yang dikenal sebagai OASIS.

Wade membaktikan hidupnya untuk mempelajari teka-teki tersembunyi dalm dunia virtual tersebut. Teka-teki yang berasal dari James Halliday, sang pencipta OASIS, tempat Halliday menyembunyikan harta peninggalannya yang paling berharga dalam obsesinya terhadap budaya pop dan permainan video tahun 1980-an.

Saat Wade menemukan petunjuk pertama, seluruh dunia mengejarnya, karena banyak orang yang rela membunuh demi menemukan rahasia tempat Halliday menyembunyikan hartanya. Dan sejak itu dimulailah perburuan yang sesungguhnya.

Bagi Wade, ini bukan sekadar perburuan, tapi bagaimana dia bisa menyelamatkan dunia virtual tempatnya berlindung, dan pada saat yang sama berusaha menyelamatkan orang-orang yang dicintainya di dunia nyata. Satu-satunya cara bagi Wade untuk bisa melakukan adalah dengan memenangi perburuan itu.

---

Kita mulai dari menjelaskan apa itu OASIS (versi mudah dan pendeknya yak). OASIS adalah dunia virtual ciptaan James Halliday. Di sana semacam suatu galaksi lagi, banyak planet-planet dan terbagi beberapa sektor, di setiap planet pokoknya kita bisa melakukan apa pun yang kita mau sesuai dengan minat dan bakat. (lah).

Peralatannya hanya butuh komputer, sarung tangan dan visor semacam kacamata gitu kayak disampulnya. Terus tinggal login, masuk deh ke OASIS. Di sana juga kita pake avatar yang bebas dimodifikasi sesuka hati.

Bukan lagi sebatas game yang ngumpulin poin atau benda-benda senjata buat naikin level avatar, OASIS sekarang menjadi gaya hidup. Banyak orang yang menghabiskan sisa waktunya di OASIS. Bahkan sampai sekolah pun bisa di OASIS. Keren banget ya? Mau sekolah cukup login aja nggak repot-repot pergi ke sekolah XD

Salah satunya Wade Watts. Bosan karena jadi pecundang yang nggak pernah punya teman dan suka dibully, Wade pindah ke sekolah ke OASIS. Di dunia virtual itu, Wade bukan lagi pecundang, dia merasa bebas dan nyaman menjadi dirinya sendiri dengan nama avatar Parzival.

Dia punya sahabat di OASIS bernama Aech, avatarnya seorang cowok tinggi dan menurut bayanganku sih, gagah gitu, jago bertarung juga. Parzival juga punya idola, seorang bloger cewek yang bawel dan sama jagonya bernama Art3mis.

Lalu, konflik dimulai saat Parzival menemukan berhasil menemukan satu kunci dari tiga yang disembunyikan Halliday untuk menemukan easter-egg atau tempat yang menyimpan seluruh harta kekayaannya setelah meninggal.

Easter-egg menjadi perburuan yang diincar semua pengguna OASIS, bahkan butuh lima tahun bagi Parzival untuk menemukan letak kunci itu.

Jujur pertama kali aku baca halaman pertamanya aja, aku langsung jatuh cinta sama gaya bercerita Ernest Cline yang elegan tapi asik. Belum lagi prolognya yang langsung bikin penasaran.
Menurutku, world buildingnya juga bagus banget, novel ini bener-bener dilengkapi detail yang rinci jadi nggak bikin bingung. Meskipun yeah, aku cukup gereget sama deskripsi sepanjang jalan kenangan ini karena menurutku bikin alurnya jadi lambat, belum lagi, kadang memang ada kejadian-kejadian yang nggak begitu penting.

500++ halaman ini bikin aku kenyang dengan memuaskan pokoknya! Aku tetap menikmatinya meskipun narasi deskripsinya banyak XD

Konfliknya juga keren banget, aku nggak punya kata-kata lain selain keren. Perburuan untuk memperebutkan harta Halliday di dunia virtual. Apakah akan jatuh ke tangan yang tepat ataukah jatuh ke tangan musuh, perusahaan bernama IOI yang menginginkan OASIS menjadi dunia virtual yang mengerikan?

Parzival, Aech, Art3mis dan sahabat baru dari Jepang bernama Shoto melawan Sorrento dari IOI dan puluhan pemburu (gunter) dari IOI yang disebut sixer. Mereka sama-sama menjadi sepuluh teratas papan skor yang berhasil menemukan kunci dan gerbang-gerbang menuju easter-egg. Masalahnya,
IOI melakukannya dengan cara curang.

Disamping teka-teki membingungkan dari Halliday, novel ini juga terdapat konflik lain seperti IOI yang berusaha membunuh Parzival dan kawan-kawannya di dunia nyata. Menurutku konfliknya luar biasa pelik dan seru. Banyak kejutan-kejutan di dalamnya yang bikin aku semangattttt!

Belum lagi ada konflik asmara antara Parzival dan Art3mis yang bikin gemes. Aku suka interaksi keduanya. Karena mereka semua hanya pernah bertemu secara virtual di OASIS, aku sempat membayangkan jika salah satu dari mereka adalah pengkhianat...

Karakter, aku suka Parzival dan Art3mis. Seperti kebanyakan Hero, Parzival ini dibuat sekeren mungkin oleh Ernest Cline. Aku suka dia yang berani dan bodoh dalam mengambil risiko, ide-idenya yang genius dan selera humornya yang asik. Sempet heran kenapa dia nggak bisa punya temen di dunia nyata? Hm.

Art3mis tokoh heroin di sini, meskipun nggak terlalu tipe-favoritku-banget, Art juga keren kok. Selera humornya setingkat sama Parzival, aku suka cara mereka berinteraksi. Hanya saja karena POV-nya pakai POV Parzival, Art kurang dieksplor. Tapi aku tahu dia keren :D

Aech, ouw my man. Satu kata buat dia: syok. Aku syok padamu Aech XD

Overall, saking bersemangatnya aku mengikuti petualangan Parzival sampai dikejar-kejar IOI di dunia nyata trus harus ganti nama dari Wade jadi Bryce demi sembunyi....setelah semua ini..setelah semua rahasia-rahasia yang terungkap, dan begitu banyaknya detail yang harus diingat, kuputuskan AKU SUKA!

Novel ini begitu membara seperti api dan begitu rumit dan menegangkan dan mengejutkan pokoknya W.O.W :D

5 stars!!

“Bagian terburuk menjadi anak-anak adalah tak ada seorang pun yang memberitahu kebenaran tentang keadaanku. (...). Jadi aku menelan bulat-bulat segala omong kosong masa kegelapan yang mereka cekoki. Waktu pun berlalu. Aku bertambah umur, dan lambat laun aku menyadari bahwa nyaris semua orang membohongiku tentang segalanya sejak aku keluar dari rahim ibuku. (...) Hal ini membuatku jadi tidak mudah percaya di kemudian hari.” – hlm 28
“Ibuku sering memaksaku logout setiap malam karena aku tak pernah mau kembali ke dunia nyata. Karena dunia nyata tidak menyenangkan.” – hlm 32
“Aku sudah berjudi dengan keberuntunganku lebih daripada yang bisa dilakukan orang waras.” – hlm 405
“Sepanjang hidupku, aku selalu takut. Terus ketakutan sampai aku mengetahuinya menjelang ajal. Pada saat itulah aku sadar, seberapa pun menakutkan dan menyakitkan kenyataan itu, tapi hanya di sana satu-satunya tempat kau bisa menemukan kebahagiaan sejati. Karena kenyataan itu nyata. Kau mengerti?” – James Halliday (hlm 530)

Minggu, 30 September 2018

[RESENSI] Mortal Engines by Philip Reeve

IG: arthms12


Judul: Mortal Engines (Mesin-Mesin Manusia)
Penulis: Philip Reeve
Penerjemah: Nuraini Mastura
Penyunting: Yuli Pritania
Penyelaras aksara: Ken Laksmi Satyaningtyas
Penata aksara: TBD
Penebit: Noura Publishing (Februari 2018)
Jumlah halaman: 388 hlm
ISBN: 978-602-385-309-0

Blurb:

Ini bukan lagi dunia yang kita kenal. Abad-abad telah berlalu, kota-kota kini melayang, digerakan mesin canggih, saling memakan satu sama lain agar bisa terus hidup. Negeri Luar, hamparan daratan yang tidak ditempati, adalah tempat berbahaya yang mengancam nyawa.

London pun tengah berburu. Menyantap kota kecil dan kabur dari kota pemangsa yang lebih besar. Dan, dalam kemeriahan tangkapan terbaru, terjadilah serangan terhadap sang pahlawan kota, Thaddeus Valentine.

Tom, seorang pemuda magang, yang mengidolakan Valentine –dan jatuh hati kepada anaknya, Katherine– langsung mengejar si tersangka, seorang gadis bermuka parut yang kabur dengan terjun dari London yang tengah melaju. Namun, saat Tom menanyai Valentine mengapa gadis bernama Hester Shaw itu ingin membunuhnya, Valentine menjawab dengan cara mendorong Tom hingga ikut terlempar menyusul gadis itu.

Kini, Tom terdampar di Negeri Luar bersama Hester Shaw yang sinis dan terluka parah. Mereka bekerja sama menemukan jalan kembali ke London untuk alasan yang jauh berbeda: Tom ingin kembali ke rumah, Hester ingin membunuh Valentine.

Yang belum mereka sadari, Negeri Luar akan menghajar mereka hingga babak belur sebelum mereka sampai di tujuan. Berhasilkan mereka bertahan?

---

Novel ini terbit pertama kali tahun 2001 versi aslinya, diterjemahkan tujuh belas tahun kemudian di Indonesia dan kabarnya filmnya akan tayang akhir tahun nanti. Seperti yang tertulis di blurb, novel ini bercerita tentang petualangan Tom dan Hester untuk kembali ke London. Saat diperjalanan, hal-hal menakutkan selalu mereka temui, dari dikejar oleh Manusia Mesin bernama Shrike yang ingin membunuh mereka sampai tak sengaja menaiki kota perompak.

Awalnya aku merasa novel ini akan begitu berat dan menjemukan, tapi ternyata cuma halaman pertamanya saja. Setelah itu, novel ini menurutku punya gaya bahasa yang ringan sehingga aku nggak perlu susah payah membacanya.

Belum lagi narasinya memang asik, jadi nggak bikin bosan dan malah bikin cepet bacanya. Aku sempat kaget karena ternyata konflik langsung masuk di bab awal, aku kira akan ada semacam pendahuluan-pendahuluan gitulah biar chemistry ceritanya lebih ngena. Meskipun aku suka tipe novel yang langsung masuk ke konflik, tapi menurutku Mortal Engines kurang kencang ‘ikatan’nya.
Setting tempatnya pun agak membingungkan buatku, kota London sedang mengincar mangsa di tanah berburu, Laut Utara, entah di mana. Heu. Juga nama-nama kota Aksis (kota yang bergerak) lain juga nggak ada yang kukenal .___.

Konfliknya OKE. Yes, aku suka konfliknya yang seru ini. Di samping kedua tokoh utama Tom dan Hester yang berpetualangan untuk kembali ke London, di kota London itu sendiri ada tokoh yang sedang melakukan pengintaiannya sendiri. Dialah Katherine, putri Valentine yang menelusuri rahasia ayahnya sendiri yang sedang pergi atas perintah Walikota.

Menurutku, konflik utama novel ini dipegang oleh Katherine. Dialah yang mencari tahu kenapa Hester ingin membunuh ayahnya, menemukan rahasia-rahasia Crome (walikota London) atas Medusa dan memegang peran penting di akhir cerita. Justru petualangan Tom yang memang lebih seru, tapi tidak bersangkut paut secara penuh di konflik utama.

Sedikit kekurangan menurutku di novel ini tidak disebutkan asal mulai kenapa Bumi jadi berbahaya seperti kata blurb. Kenapa kota-kota harus bergerak terus padahal ada kota-kota yang masih diam di bumi.

Tokoh-tokohnya pun menurutku biasa saja kecuali Hester Shaw yang paling mencolok. Tom, sang tokoh utama menurutku agak ‘gemulai’(?) untuk ukuran cowok, entah pikiranku aja atau beneran HAHA. Katherine yang lugu namun berani. Dan tokoh-tokoh pembantu lainnya biasa. Namun Hester Shaw yang digambarkan sebagai sosok mengerikan, dengan gurat pedang dari dagu sampai dahi, garis bibir yang luka melebar ke pipi (cmiiw) dan hidung yang hancur justru lebih menarik perhatianku.

Aku suka petulangan Tom dan Hester yang seru, terutama saat bagian di mana Shrike, (seorang manusia yang telah mati tapi dibangkitkan dengan teknologi dan sekarang menjadi robot dengan otak manusia) menjelaskan tujuannya memburu Hester. Bikin merindinggggg.

Juga, disela-sela petualangan mereka ada humor-humor menyelip terutama dari Walikota Kota perampok yang mereka naiki. Selain itu, novel ini juga cukup memualkan karena makanan-makanan yang disebutkan serta keadaan di bagian perut kota London saat Katherine berusaha mengorek informasi ke seseorang bernama Pod.

Memang awalnya agak sulit membayangkan setiap detail kejadian di novel ini apalagi yang sudah menjelaskan soal kota-kota yang kelaparan, namun aku dibantu ketika melihat trailer filmnya yang keren banget huhu kalian bisa liat di sini. (sayangnya Hester di film malah jadi cantik heu:()

Overall, aku suka kisah ini, bener-bener tipeku karena mengandung banyak petualangan dan konfliknya juga seru! Tapi, ada sedikit rasa ganjal di hati, karena menurutku kisah ini kurang kuat ‘nyawa’nya, sesekali aku bersemangat, lalu biasa saja, gitu terus. Tapi endingnya sangat memuaskan. Kalau aku klop dengan ‘nyawa’ novel ini, pasti aku udah nangis sesenggukan, tapi justru aku malah senang dengan plot twistnya dan semangat saat menyelesaikan novel ini.

Kurang bernyawa bukan berarti aku nggak suka novelnya, hanya saja perasaanku jadi berbeda dan kurang menghayati aja, tapi..aku suka Mortal Engines! 4 stars.


Senin, 24 September 2018

[RESENSI] Warcross by Marie Lu

instagram; @arthms12



Judul: Warcross
Penulis: Marie Lu
Penerjemah: Nadya Andwiani
Penyunting: Dyah Agustine
Proofreader: Emi Kusmiati
Penerbit: Mizan Fantasi (Maret 2018)
Jumlah halaman: 472 hlm
ISBN: 978-602-6699-11-4

Blurb:

Warcross bukan sekadar permainan. Ini adalah gaya hidup.

Warcross adalah game yang tiba-tiba mengobsesi jutaan bahkan miliaran orang di dunia sejak sepuluh tahun lalu. Tak hanya sebagai katarsis untuk melupakan realita, bagi orang-orang tertentu Warcross adalah pengeruk keuntungan–besar-besaran.

Emika Chen meretas The International Warcross Championships dan aksinya itu membuat game mengalami malfungsi. Bukannya dipenjara, Emika malah ditawari menjadi mata-mata oleh Hideo Tanaka, sang pencipta Warcross. Tanaka ingin Emika menjadi bounty hunter, melacak pemain Warcross yang bertaruh secara ilegal. Tak disangka, penyelidikannya menguak sebuah plot jahat yang bisa menghancurkan tak hanya Warcross, tapi juga tatanan dunia.

---

Kisah fiksi ilmiah, di mana dunia game adalah tema novel ini. Game itu bernama Warcross, diciptakan oleh sosok miliader asal Jepang yang tampan dan genius, Hideo Tanaka. Warcross sendiri adalah permainan di mana dua tim saling bertarung untuk memperebutkan artefak masing-masing kelompok, tentunya secara virtual. Alat yang digunakan hanyalah sebuah kacamata yang mampu membuat sosok avatar kita masuk ke dalam dunia game dan bermain.

Lalu ada Emika, hidupnya yang kacau semenjak kematian ayahnya serta utang di mana-mana membuatnya terpaksa menjadi pemburu bayaran, dia menangkap penjahat judi ilegal Warcross yang tidak bisa ditangkap polisi karena terlalu sibuk. Karena terdesak, Emika terpaksa meretas Warcross saat pembukaan kejuaraan, demi mendapatkan item yang mahal untuk dijual secara ilegal.

Namun, dia ketahuan. Hideo Tanaka mengiriminya sebuah jet pribadi dan menjemputnya khusus untuk dibawa ke Jepang. Di sana, Emika ditawari menjadi pemburu bayaran bagi Hideo. Karena, ada seseorang yang misterius telah beberapa kali meretas dan mengacaukan Warcross. Tugas Emika adalah memburu orang itu. Salah satu cara agar misinya sukses adalah menjadi wildcard, calon pemain resmi yang akan direkrut oleh pemain resmi Warcross pada acara Wardraft.

Di sana ia bertemu dengan timnya, teman-temannya, berlatih dan mengikuti babak penyisihan sesuai ketentuan. Di samping kegiatan itu, ia juga harus memburu pelaku peretasan Warcross yang dijuluki Hideo sebagai Zero, bahkan sampai ke Dark World. (Kalau di dunia nyata, Dark World di novel ini semacam deep web, bagi yang belum tau, silakan searching apa itu deep web dan gimana keadaan di sana, 11 12 sama Dark World-nya Warcross)

Tetapi penyelidikannya malah berujung kepada plot twist yang cukup menegangkan.

---

Setelah membaca karya Marie Lu sebelumnya dan merasa kelam selama tiga buku, Warcross menyajikan cerita yang cukup cerah. Karakter Emika Chen menjadi narator cerita ini membuatku langsung jatuh cinta karena dia tipe cewek yang mandiri dan badass. Belum lagi penampilan fisiknya yang menurutku keren; rambut pelangi dan tato di sepanjang tangan kiri.

Gaya bahasa Marie Lu juga lumayan asik, menurutku, dia udah pas banget nulis narasi kelam macam TYE Series jadi ketika berubah tema ke yang menyenangkan kayak gini, aku kurang bisa merasakan gaya bercerita yang asiknya. Seharusnya bisa lebih asik lagi, gitu, heu.

Plotnya, well, aku memang suka ide ceritanya dan konfliknya tapi awal-awal cerita ini aku merasa idenya sangat fangirl-gimana-gitu. Karena ceritanya Emika ini fans-nya Hideo, tiba-tiba dijemput pake jet pribadi dan utang-utangnya dibayarin dan lain-lain yang bikin Emika berasa di dunia gemerlap tiba-tiba, aku merasakan ini memang mainstream, tapi lucu kok aku suka :D

Memang menyenangkan dan aku menikmati membaca novel ini, kejutan-kejutan kecil di dalam misi Emika juga seru, belum lagi tiap Hideo ada di dalam cerita, aku nggak bisa nggak terpesona sama sosoknya. Tapi seperti yang aku ingat di novel The Young Elites dan The Rose Society, pola Marie Lu adalah biasa-biasa di awal dan menuju akhir barulah kekerenan itu muncul.

Aksi-aksi Emika dan timnya ketika melawan tim lain di pertandingan Warcross final paling bisa mengeluarkan seluruh semangatku, ditambah lagi Zero yang muncul dan membuat suasana menjadi tegang, lalu jangan lupakan romansa Hideo dan Emika yang bikin baper XD

Satu hal yang paling aku keluhkan adalah narasinya yang terlalu banyak deskripsi. Aku yang tipe pembaca nggak sabaran ini kewalahan ketika membaca deskripsi yang banyak, antara nggak sabar sama bingung membayangkannya, karena Marie Lu emang khayalannya tinggi :’D

Setting novel ini adalah di Jepang! Yap, inilah salah satu faktor kenapa aku semangat banget! Marie Lu asal China, besar di Amerika dan menulis buku dengan latar dan tokoh utama orang Jepang *applause* meski Jepangnya nggak begitu kerasa banget ya, hiks, tetep aja aku excited banget >.< sensasinya beda aja gitu XD

Untuk karakter, paling menonjol pastilah Emika. Emika dan misinya. Sesekali Emika dan Hideo. Memang awal-awal Hideo agak jarang muncul, dan kalau muncul pun paling gitu gitu aja ngomongin kegeniusan dia dan misi Emika. Itu juga yang bikin aku agak kaget karena tau-tau Hideo udah naksir Emika. PDKT-nya nggak ada. Rada nggak srek sama perubahan perasaan Hideo ini tapi tetep aja pas baca momen mereka bikin baper ;’)

Sejujurnya OTP yang satu ini bener-bener tipeku bangettt! Emika Chen yang badass, hacker genius, supel dan cantik disandingkan dengan Hideo Tanaka yang dingin, necis, genius, kaya raya, pintar, misterius dan sinis ;’)

Overall, aku suka banget scifi yang satu ini. Penuh ketegangan dan romansa yang manis. Meski masih banyak kebingungan dan ngga paham sama istilah teknologi, tetapi aku tetap menikmati ceritanya. Plot-twist-nya yang cakep abissss. Keren. Novel ini keren banget!
Tapi, belajar dari pengalaman, aku nggak mau terlalu jatuh cinta sama buku-buku Marie Lu lagi karena takut akhirnya akan patah hati ;’)

Aku menunggu Wildcard diterjemahkan di Indonesia!

4.8 stars.

“Dia biasa berkata bahwa seharusnya aku mengenakan pakaian seolah-olah dunia adalah tempat yang lebih baik daripada yang sebenarnya.” – hlm 38
“Jika aku bisa memecahkan masalah-masalah ini, aku bisa mengendalikan sesuatu.” – hlm 55
“Kelihatannya aku menjadi senjata rahasia bagi lebih banyak orang daripada yang kusukai.” – hlm 172
“Mereka percaya setiap objek punya jiwa. Semakin kau memberinya cinta, semakin indah kelihatannya.” – hlm 323
“Dan, memangnya orang kebanyakan pandai memilih pemimpin mereka?” – Hideo (hlm 451)

[RESENSI] The Midnight Star by Marie Lu

instagram: @arthms12



Judul: The Midnight Star
Penulis: Marie Lu
Penerjemah: Prisca Primasari
Penyunting: Dyah Agustine
Proofreader: Emi Kusmiati
Desain Sampul: Windu Tampan
Penerbit: Mizan Fantasi (Oktober 2017)
Jumlah halaman: 381 hlm
ISBN: 978-602-6699-05-3

Blurb:

Syahdan, kegelapan menyelimuti dunia, dan ia memiliki seorang ratu.

Adelina pikir, tiada lagi penderitaan. Dia telah membalas dendam pada mereka yang mengkhianatinya. Sang Serigala putih memenangi takhta Kenettra, tapi seiring bertambahnya kekuasaan, dia menjadi semakin kejam. Kegelapan dalam dirinya semakin tak terkendali, ingin menghancurkan semua yang ada di dekat Adelina.
Kemudian, ancaman baru muncul, dan Adelina beserta para Mawar mau tak mau harus bekerja sama dengan para Belati untuk menghadapinya. Namun, aliansi mereka yang sarat kecurigaan dan pengkhianatan mungkin lebih berbahaya dari apa pun. Bagaimanakah nasib para Elite selanjutnya?\

---

Aku sebenernya nggak sanggup nulis resensinya. Bilang aku lebay, tapi buku ini sukses bikin aku hancur, remuk redam, berantakan, dan lain-lain.

Dari ketiga buku seri The Young Elites, aku tanpa ragu bilang kalau The Midnight Star adalah yang terbaik. Kalau di TYE atau TRS kan prolog sebelum sampai di konflik utama agak lama, bisa sampai setengah buku, tapi kalau TMS ini dari awal memang udah seru dan menegangkan.

Lagi, aku memang selalu parno ketika membaca TYE dan TRS, tetapi TMS bikin rasa parno itu jadi dua kali lipat XD

Adelina berpikir semuanya telah selesai, dia menjadi Ratu Kenettra dan menjajah semua pulau di Sealand lalu menjadi Ratu Sealand. Tapi ada masalah baru muncul, Violetta yang kabur menuju para Belati di Tamoura tiba-tiba jatuh sakit. Sakit yang berbahaya. Dan semuanya adalah dampak dari suatu kekuatan misterius. Lautan menjadi salah satu korbannya, juga para balira.

Raffaele mau tidak mau memanggil Adelina untuk bersekutu, kemudian mereka melakukan perjalanan bersama-sama. Para musuh berada dalam satu kapal, demi menyelamatkan nyawa umat manusia.

Simpel? Ya, buku ketiga ini lebih simpel daripada The Rose Society yang menurutku agak ribet. Tapi tidak sesederhana The Young Elites yang cuma pendahuluan.

Jujur menurutku ini adalah konflik yang lebih bagus daripada dua novel sebelumnya. Aku suka karena para Elite bergabung menjadi satu, meskipun mereka masih bermusuhan satu sama lain. Keterlibatan dewa-dewa dalam konflik ini menambah rasa kesukaanku kepada TMS.

Alurnya nggak selambat dua novel sebelumnya, seperti yang kubilang, dari halaman awal pun, novel ini sudah menegangkan XD banyak kejutan-kejutan dan tentunya kekejaman Adelina yang menurutku keren mwehehe.

Novel ini masih sekelam dan sesuram novel-novel sebelumnya, dan dijamin tetap bikin depresi XD dan sakiiiiit hati.

Sebenarnya ada banyak yang mau aku bicarain tentang novel ini tapi aku masih kalut, masih bookhangover, dan aku nggak berani buka buku ini lagi jadi nggak tunda bikin review hheheheuheuh
Tokoh-tokohnya masih sama seperti sebelumnya, tapi yang beda, aku jadi makin suka sama Teren. Menurutku, Teren itu mandiri, dia memusuhi semua orang, dan nggak memihak siapapun makanya aku suka. Terus Magiano, yang banyak fans-nya waktu muncul di TRS, sebenarnya aku kurang bisa dapet karakter Magiano, kurang dieksplor di TRS, tapi di TMS, kurasa ku tlah jatuhhhh cintaaa~ *nyanyi*

Tokoh favoritku, masih Adelina. Nggak tahu ya, meskipun dia antagonis dan (kayaknya) para Belati yang baik, aku nggak bisa suka Raffaele dkk. Soalnya ketiga novel ini didominasi Adelina, didominasi pikiran-pikirannya, mau nggak mau aku pasti dukung dia. Tapi, satu hal yang janggal dan terkesan memaksa adalah endingnya.

Entah, tapi aku merasa endingnya, sosok Adelina berubah karakter. Seperti bukan Adelina. Selama tiga buku aku ‘mengenal’ Adelina, aku rasa dia nggak akan mungkin melakukan itu, nggak mungkin memilih keputusan itu. Apalagi cuma karena Violetta yang notabene, adik yang jahat, nyebelin, kualat, wkwkwk. Keterikatan persaudaraan mereka juga nggak begitu menonjol, makanya aku aneh banget rasanya, kayak dipaksain.

Lalu, aku juga merasa masih banyak rahasia-rahasia yang belum terungkap dan aku sebal, khususnya masalah Magiano. Ya, ginilah akibat kebanyakan tokoh.

Pokoknya, aku dalam mode benci dan cinta sama series ini. Aku pengen banget masukin TYE series jadi salah satu seri favoritku tapi aku..nggak sanggup. Luka yang dibuat ketiga novel ini, khususnya TMS, terlalu besarrrrr dan aku masih trauma sama Marie Lu hahahaha XD

Ada banyak hal-hal yang disayangkan kenapa ide cerita sebagus ini harus dibuat demikian. Aku..nggak habis pikir. Padahal aku menikmati kekelaman cerita ini, tapi, akhirnya, aku benci.
Overall, 4 bintang. Tiga buku berturut-turut aku kasih 4 bintang, padahal TMS berpotensi dikasih seribu bintang, tapi, ya. Gitu.

Mau nangis.

Jadi, syarat baca The Young Elites Series adalah persiapin hati dan mental yang kuat. Kalau hati kalian kayak hatiku yang fragile tingkat tinggi, siap-siap banyak sakit di mana-mana, patah di mana-mana dan hancur lebur pokoknya dibantai sama Marie Lu. Heu.

Kutipan-kutipan yang kuambil dari The Midnight Star:

“Aku Serigala Putih, Ratu Sealand–tetapi bagi Raffaele, aku hanya orang yang menjadi berguna lagi, dan itu membuat dirinya tertarik padaku sekali lagi.” – Adelina (hlm 165)
“Aku takut. Setiap hari, aku bangun dan bertanya-tanya apakah ini akan menjadi hari terakhirku hidup di alam kenyataan.” – Adelina (hlm 253)
“Tetapi kau juga bersemangat dan ambisius dan setia. Kau adalah seribu hal, mi Adelinetta, bukan hanya satu. Jangan membatasi dirimu pada satu hal saja.” – Magiano (hlm 256)
“Mungkin setelah seribu kali menjaili kematian, kematian akhirnya berbalik melawan mereka.” – hlm 289
my favorite:
 "I'm going to follow her, of course. As the night sky turns. When she appears on the other side of the world, I will be there, and when she returns here, so will I." - Magiano.

Senin, 17 September 2018

[RESENSI] By The Time You Read This, I’ll Be Dead by Julie Anne Peters

IG : @arthms12





Judul: By The Time You Read This, I’ll Be Dead
Penulis: Julie Anne Peters
Penerjemah: Hedwigis Chrisma Hapsari
Penyelaras aksara: Lani Rachmah
Penata Letak: Nurhasanah Ridwan
Penerbit: Noura Publishing (April 2015)
Jumlah halaman: 308 hlm
ISBN:978-602-0989-13-6

Blurb:

Hanya tersisa 23 hari untuk mewujudkan rencana Daelyn. Dia sudah memperhitungkan semuanya, mempersiapkannya dengan matang. Tak akan ada yang bisa menghalangi atau menghentikannya lagi. Tidak boleh. Kali ini, dia harus berhasil. Dia harus mengakhiri semuanya, mengakhiri hidupnya.
Namun, muncul satu masalah. Ada cowok aneh yang selalu berusaha mendekati Daelyn. Meski diabaikan, cowok itu tak pernah menyerah. Tidak mungkin, kan, Daelyn membiarkan seseorang menyusup ke hatinya saat dia sudah siap pergi dari dunia ini?

Tidak saat semuanya sudah berjalan baik. Saat dirinya sudah yakin sepenuh hati untuk berjalan menuju cahaya.

---

Hal pertama yang membuatku tertarik membaca buku ini adalah karena judulnya. Judulnya terasa suram dan sedih. Ketika aku membacanya, jujur cerita ini mempunyai pembawaan yang santai khas novel remaja, namun memang isinya agak mengerikan.

Novel ini memakai sudut pandang orang pertama, Daelyn. Dia adalah cewek lima belas(?) barangkali, yang sekarang sedang diawasi 24 jam penuh oleh kedua orangtuanya. Karena, dia sudah berkali-kali mencoba bunuh diri namun selalu gagal.

Di sekolah yang entah keberapanya, dia selalu menunggu ibunya menjemput di sebuah bangku semen. Di sana, dia bertemu dengan Santana, cowok aneh yang tiba-tiba mendekatinya. Namun Daelyn tidak pernah menanggapinya, lagipula, dia tidak bisa bicara. Hal itu karena salah satu metode bunuh dirinya yang gagal.

Tapi sekarang dia yakin dia tidak akan gagal lagi. Untuk itu dia diam-diam mendaftar ke salah satu situs bunuh diri bernama menuju-cahaya(.)com. Di situs itu, dia bertemu banyak orang yang sama-sama putus asa.

Di situs itu juga, Daelyn sering mengetik tentang masa lalunya, masa-masa ketika dia dibully hingga akhirnya mencoba bunuh diri berkali-kali. Daelyn adalah cewek gemuk, dia selalu dibully karenanya. Dipermainkan dan dipermalukan anak-anak cowok, direndahkan anak-anak cewek, orangtuanya menganggap hal itu biasa dan Daelyn pun tidak bisa bercerita karena takut, serta kejadian mengerikan di kamp gemuk membuatnya benar-benar menderita.

Konflik utama novel ini adalah tentang Daelyn yang mengikuti petunjuk situs untuk membunuh dirinya. Dia diberi waktu 23 hari. Namun dalam 23 hari itu pula, ada Santana di sana.

Menurutku novel ini juga agak mengerikan karena di situsnya dijelaskan tentang berbagai macam metode bunuh diri, keefektifan hingga tingkat rasa sakit. Tidak dianjurkan bagi kalian-kalian yang sedang depresi, yha bukan apa-apa, takutnya kehasut kan:( sumpah bagian ini tuh serem banget.

Ada satu hal yang membuatku terganggu ketika membaca cerita ini, yaitu narasi yang kadang nggak jelas latarnya, kayak tiba-tiba pindah dari kejadian yang sedang berlangsung ke kejadian lain. Terjemahannya juga enak, tapi ada satu dua kalimat yang kadang bikin mikir dua kali, masih agak kaku juga, atau mungkin memang begini gaya penulisan Julie Anne Peters. Entah.

Kita beralih ke Santana Llyod Girard II, aku pikir novel ini bakal manis ketika membaca blurbnya, namun sayang Daelyn sangat sangatttt menutup diri sehingga Santana tidak terlalu tereksplor. Dia seharusnya jadi pemeran utama juga, tapi aku merasa dia hanya pemeran pembantu, yang disempilkan, untuk sedikit menyadarkan kondisi Daelyn.

Sebenarnya, Daelyn pun tidak dalam kondisi dibully lagi. Memang banyak orang yang menganggapnya gila dan tidak mau berteman dengannya karena percobaan bunuh dirinya diketahui orang-orang, tapi menurutku saat itu kondisi Daelyn masih aman, terutama karena orangtuanya yang memperhatikannya 24 jam.

Tapi luka karena bullying tidak mudah sembuh, apalagi setingkat Daelyn. Aku merasa aku paham kenapa Daelyn menarik diri dari semua orang dan berniat untuk berhasil dalam bunuh dirinya kali ini.
Sejujurnya, banyak narasi pikiran negatif Daelyn dalam perspektifnya, dan mau nggak mau aku cenderung setuju dengan Daelyn. Menurutku, hampir semua orang pasti pernah punya pikiran-pikiran yang dicetuskan Daelyn.

Bohong kalau aku bilang aku nggak pernah stres atau tertekan bla bla, kebanyakan orang juga pasti pernah mengalaminya, dan kisah Daelyn ini sejujurnya relate dengan diriku sendiri, itulah mengapa aku suka cerita ini.

Kalau dibilang penuh amanat, nggak. Narasi Daelyn nggak sedikitpun mengandung amanat, karena semua pikiran negatifnya ditumpahkan dari halaman awal sampai akhir. Tapi kita, sebaiknya mengambil hal-hal yang perlu, bagaimana cara menghadapi seseorang yang depresi atau bagaimana mengenali gejala-gejala orang yang ingin bunuh diri. Novel ini tentunya bikin kita sedih dan nggak ingin hal yang dilakukan Daelyn terjadi di tengah-tengah kita. Novel ini bakal bikin kita lebih aware dengan orang-orang di sekitar kita.

Overall, aku suka cerita ini, suka banget, bahkan sampai bikin aku nangis. Tapi ada satu hal yang bikin aku ngasih 4 bintang, bukannya 5. Kenapa? Silakan baca sendiri. Kalau selesai bacanya bikin pengen lempar bukunya jauh-jauh, berarti kita sama.

Anyway, aku punya banyak qoutes yang aku ambil dari buku ini. Aku suka sama kata-katanya.

“Namun, supaya merasa lebih baik, aku menelan semua rasa sakit. Kemudian, rasa sakit menelanku.” – hlm 41
“Aku tidak tahu mengapa aku tidak dapat membiarkan hinaan-hinaan itu berlalu, tapi aku tetap tidak bisa. Aku adalah produk dari setiap luka yang pernah ditorehkan di diriku.” Hlm 42
“Karena air mata tidak ada gunanya.” – hlm 56
“Kadang-kadang, aku tidak mengerti alasan dari hal-hal yang kulakukan. Aku hanya tahu, aku bangun setiap pagi dan berharap aku mati.” – hlm 78
“Siapa bilang neraka ada di bawah? Bisa saja di atas. Neraka bisa saja di samping pintu surga. Neraka bisa saja merupakan bagian dari surga, seperti kampung miskin di tengah-tengah kota kaca.” – hlm 110
“Bisakah kau memonitor aktivitas di sini, di bumi? Namun, jika alasanmu untuk pergi adalah untuk membalas seseorang, atau melukai seseorang, itu mungkin berguna. Alasanku bukan itu. Aku hanya ingin perasaan sakit ini berakhir.” – hlm 129
“Semakin aku terluka, semakin banyak aku makan.” – hlm 139
Well, ini menunjukan bahwa mereka yang depresi nggak melulu jadi kurus kering. Yang gemuk bisa lebih depresi daripada itu, dan paling menyakitkan kalau orang-orang udah bilang “Gemuk ih, berarti bahagia” no, it’s totally wrong.

Aku harap kita semua berhenti mengomentari bentuk tubuh orang lain, mau dia kurus atau gemuk atau yang lain-lainnya. Karena kita nggak pernah tahu alasan-alasannya, hidupnya, jadi please berhenti.

Jaga mulut kita, karena kita nggak tahu kalau bisa saja orang itu tersinggung dan akhirnya merasa sedih. Kesedihan-kesedihan kecil itulah, jika berkali-kali didapatkannya bisa jadi mengarah ke sesuatu yang mengerikan.

“Ketika Tuhan tidak mengambilku, itu membuatku mempertanyakan imanku. Sedikit iman yang dulu kupunya.” – hlm 182
“Setiap orang kadang-kadang terluka. Tidak perlu malu dengan itu.” – hlm 304-305
“Aku tidak sanggup menghadapi hal-hal yang sangat buruk itu. Pilihannya adalah membunuh setiap orang atau membunuh diriku sendiri.”
“Jika aku tinggal dan hidup hingga lulus sekolah menengah, masuk ke universitas, mendapatkan pekerjaan, apa yang akan bisa berubah? Kegelapan dalam diriku tidak akan pernah tersingkirkan.”
"Mengapa kau tidak berhenti mencoba untuk memperbaiki aku? Dunia ini tidak diciptakan untukku. Aku lahir terlalu cepat, atau terlalu lambat. Terlalu banyak kecacatan."
"Orang-orang tidak berubah. Ada dua jenis orang di dunia ini: para pemenang dan para pecundang." 
Satu lagi, aku foto aja karena kepanjangan XD:




Diberdayakan oleh Blogger.

Fav-Qoutes

"Kekuatan ada pada diri orang-orang yang tetap bangun dan menjalani setiap hari meski hal terakhir yang ingin mereka lakukan adalah hidup. Kekuatan datang dari senyum mereka yang bersedih, dari orang-orang yang telah kehilangan segalanya namun tetap bertahan." (Some Kind of Wonderful by Winna Efendi

"Billie tidak bisa berhenti bertanya-tanya dengan naif mengapa beberapa wanita mendapatkan banyak hal sejak mereka dilahirkan -kecantikan, pendidikan, kekayaan, bakat- sementara yang lain harus memulai hidup dengan begitu sedikit anugerah." (The Girl On Paper by Guillaume Musso)

“Dia akan pergi lagi. Dia akan pergi lagi dan lagi sampai umurnya cukup dewasa dan tidak ada lagi yang bisa mengirimnya pulang.” – hlm 363 (Little Fires Everywhere by Celeste Ng)