Tampilkan postingan dengan label Penerbit Spring. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penerbit Spring. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Juli 2019

[RESENSI] An Ember In The Ashes by Sabaa Tahir


Resensi An Ember In The Ashes karya Sabaa Tahir

instagram: @arthms12


Judul: An Ember In The Ashes (An Ember In The Ashes #1)
Penulis: Sabaa Tahir
Penerjemah: Yudith Listiandri
Pemeriksa Bahasa: Brigida Ruri
Penyunting: Mery Riansyah
Proofreader: Titish A.K
Design Cover: Aufa Aqil Ghani
Penerbit: Spring (November 2016)
Jumlah halaman: 520 hlm.
ISBN: 978-602-74322-8-4

Blurb:

Laia seorang budak, Elias seorang prajurit. Keduanya bukan orang merdeka.
Saat kakak laki-laki Laia ditahan dengan tuduhan pemberontakan, Laia harus mengambil keputusan. Dia rela menjadi menjadi mata-mata Komandan Blackcliff, kepala sekolah militer terbaik di Imperium, demi mendapatkan bantuan untuk membebaskan kakaknya. Di sana, dia bertemu dengan seorang prajurit elite bernama Elias.

Elias membenci militer dan ibunya, sang Komandan yang brutal. Pemuda ini berencana untuk melarikan diri dari Blackcliff, menanggung risiko dicambuk sampai mati jika ketahuan. Dia hanya ingin bebas.

Elias dan Laia. Keduanya akan segera menyadari bahwa nasib mereka akan saling silang, dan keputusan-keputusan mereka akan menentukan nasib Imperium dan bangsa mereka.

----

I fell in love with this book at the first sight. Aku suka judulnya yang menurutku keren, kovernya jugaaa, dan sinopsisnya yang menjanjikan. Terlebih, fantasi adalah genre nomor satuku. Butuh ‘perjuangan’ HAHA buat ngedapetin novel ini dan akhirnya dia mendarat juga di tanganku ;)

Nah, cerita di mulai dengan prolog penculikan Darin aka kakak Laia, dan Laia yang saat itu memilih untuk kabur hanya karena kakaknya memintanya begitu. Dia terlalu panik, dan aku paham posisinya, jadi dia pergi.

Lalu Laia mencari kelompok Resistance, kelompok pemberontak yang diyakini sebagai alasan penangkapan Darin. Dia menemukannya, meskipun awalnya kelompok itu menolak, namun akhirnya Laia mengungkap jati dirinya, dan kelompok itu mau membantu juga. Tapi dengan satu syarat: Laia menyusup ke kediaman sang Komandan, wanita terbengis di Imperium dan menjadi budaknya untuk mendapatkan informasi tentang Ujian pemilihan Kaisar baru.

Infomasi ditukar dengan penyelamatan kakaknya. Laia be like: why not? Dia cuma terancam dicungkil matanya kok, asalkan Darin selamat.

Gambaran garis besar latar novel ini: sebuah negara, Imperium, awalnya diduduki bangsa Scholar yang berjaya, namun bangsa Martial merenggutnya, menjadikan bangsa Scholar budak, tawanan, dan bla bla. Bangsa Martial memiliki Kaisar, mendirikan sekolah Blackliff, semacam sekolah militer, ada tingkatan, paling atas namanya Skull dan jika sudah lulus dari Skull, mereka resmi jadi anggota pasukan Mask. Para anggoata militer memakai topeng (baja? Besi? Atau?) yang bisa menyatu dengan wajah mereka. Hiii.

Kedua ada Elias. Muak dengan ibunya, dengan Martial, Imperium, militer, dan bla bla. Berniat melarikan diri supaya bisa bebas dari semua itu saat hari kelulusannya dari Skull. Mumpung topengnya belum menyatu dengannya (yang membuat dia banyak dibully sebagai pemberontak) padahal teman-temannya yang lain udah pada nyatu.

Tapi gagal.

Soalnya, tepat besoknya ada pemilihan calon kaisar, karena kaisar yang lama nggak ada keturunan. Augur (peramal versi mitologi Romawi) bilang kalau Elias bakal bebas tapi caranya bukan dengan kabur. Dan terpilihlah Elias menjadi salah satu calon kaisar (Aspiran) yang wajib mengikuti 4 Ujian, bersama sahabatnya, Helene, satu-satunya cewek di tingkat Skull, dan si kembar Marcus-Zak, musuhnya.

Begitu. Panjang ya. Pokoknya Elias dan Laia bertemu di situ. Dan takdir mereka saling bersilangan. Gitu.

Saat pertama kali baca buku ini aku langsung suka sama gaya bahasanya yang simpel dan nggak berat, salah satu faktor yang krusial buat aku karena kalau novel fantasi dan berat rasanya...sulit.
Namun, entah kenapa aku merasa alurnya cukup lambat di awal, entah juga, padahal dialog dan narasi seimbangnya harusnya bikin aku betah, tapi aku malah jadi bosen dan sering ketunda, juga mungkin karena aku belum bisa menyatukan kemistri dengan cerita ini.

Konflik sudahhhh dimulai sejak awal mula. Sudah menegangkan sejak awal mula. Bagaimana Laia bertemu komandan dan tiap detiknya aku merasa di neraka, takut hal-hal buruk terjadi pada Laia. Sementara bagian Elias dipenuhi konflik batinnya yang tidak ingin berada di Blackcliff, juga momen bersama Helene, momen menjadi tentara di sana dan bla bla.

Kemudian, satu persatu Ujian datang. Novel ini menggunakan dua sudut pandang yaitu Elias dan Laia. Keduanya punya porsi yang sama besar dalam membuat jantung dagdigdug. Laia yang harus hati-hati mencuri dengan pembicaraan Komandan dan kabur diam-diam untuk menemui Keenan, penanggungjawab misinya dari Resistance untuk melapor. Sementar Elias dan dipaksa menghadapi ujian-ujian berat dan mengancam nyawa.

Selain itu, novel ini ada romance-nyaaa yeaaaay salah satu hal yang aku sukaiiii. Aku selalu suka fantasi berbumbu romance. Cinta segi empat barangkali? Laia menyukai Keenan tapi berdebar juga didekat Elias. Elias menyukai Laia tapi memendam perasaan terlarang yang dipendamnya untuk Helene.





Dan karena aku terbawa naluri kedua tokoh utama dalam setiap pov, aku suka Laia bersama Elias. Aku mengenal mereka lewat sudut pandang mereka dan menjadi lebih dekat dengan mereka daripada yang lain, jadi...aku memutuskan untuk melepas kapal Elaia untuk berlayar dan semoga mereka tidak tenggelam :’)

Untuk tokoh-tokohnya, jujur kuakui NGGAK ada yang kubenci yeayyy! Bahkan villainnya :D aku justru sangat mengagumi kebengisan Keris Veturia, sang Komandan yang entah kenapa sangat keren :’)

Elias yang kuat dan berani, selalu memilih sisi yang baik, dan penyanyang peduli dan bla bla. Dan dia tidak sesempurna ituloh, kadang dia nggak peka sama Helene, kadang dia juga nyebelin karena terlalu plin-plan(?) terlalu lama mengambil keputusan karena hati baiknya..yha..

Laia juga sama sering plin-plan namun bertekad kuat. Dia penakut tapi memaksakan diri. Manis dan mandiri. Baik hati haha. (sifat umum hero dan heroin).

Nah kalau Helene, dia nggak langsung mencuri hatiku sepenuhnya, kebanyakan, dia bikin aku jengkel karena alasan pribadi HEHE. Karena dia menyukai Elias. Yah. Gitu. Aku cemburu:’) tapi Helene ini kuat dan tipe cewek favoritku karena dia badass dan cerdas, jago bertarung, dia juga sangat setia entah itu kepada Imperium maupun Elias. Sifat ini perlu diacungi jempol.

Keenan, aku merasakan dia dianak-tirikan di novel ini karena termasuk dalam 4 besar tokoh utama namun nggak terlalu dieksplor :’) disamping Elias-Laia yang memang seharusnya punya banyak part, posisi Keenan harusnya sama kayak Helene tapi Helene punya porsi yang lebih banyak. Semoga di buku selanjutnya part Keenan banyak, soalnya dia ini tipe cowok lovable yang cuek-cuek-perhatian ehe.

Overall, aku mulai menyukai novel ini ketika halaman tengah ke akhir. Menurutku geregetnya lebih dapet. Belum lagi karena misteri mulai bermunculan meski belum terbongkar di novel pertama ini. Terutama keterlibatan sang Komandan yang haus akan kekuasaan.

Novel ini penuh dengan aksi, romance, intrik, darah, dan segalanya yang memacu adrenalinku. Terlalu geregetttt! I decided to give 5 stars!!

“Terlalu banyak rasa takut, kau akan lumpuh. Terlalu sedikit rasa takut, kau menjadi arogan.” – hlm 490
“Kau takkan pernah melupakan mereka, bahkan setelah bertahun-tahun. Tapi suatu hari nanti, kau bisa bertahan semenit penuh tanpa merasa sedih. Hatimu akan pulih. Aku janji.” – Keenan (hlm 114)
“Pasti ada orang lain di sini yang kesepian seperti aku. Namun, tidak ada yang mengerutkan kening, menangis, atau bersungut-sungut. Mereka punya alasan untuk tersenyum dan tertawa. Alasan untuk berharap.” – Laia (hlm 295)

Minggu, 18 November 2018

[RESENSI] Little Fires Everywhere by Celeste Ng




Judul: Little Fires Everywhere
Penulis: Celeste Ng
Penerjemah: Angelic Zaizai
Penyunting: Mery Riansyah
Penyelaras Aksara: Yuli Yono
Ilustrasi dan Sampul: sukutangan
Penata Sampul: @teguhra
Penerbit: Spring (Juli 2018)
Jumlah halaman: 368 hlm.
ISBN: 978-602-6682-26-0

Blurb:

Semua orang di Shaker Heights membicarakannya musim panas itu: bagaimana Isabelle, anak bungsu keluarga Richardson, akhirnya menjadi gila dan membakar habis rumah mereka.
Elena Richardson
Seorang istri dan ibu empat orang anak, dan sangat bersemangat dalam menerapkan norma-norma Shaker Heights yang penuh keteraturan dalam hidupnya.
Mia Warren
Seorang pendatang, seniman, dan orangtua tunggal, yang menyewa rumah milik keluarga Richardson.
Hubungan keduanya baik-baik saja. Namun, ketika sahabat keluarga Richardson berusaha mengadopsi seorang bayi Tionghoa-Amerika, pertempuran hak asuh yang dramatis memecah-belah kota, menempatkan Elena dan Mia dalam kubu berlawanan.
Bahkan rahasia-rahasia gelap masa lalu yang tidak seharusnya diungkit pun mulai muncul ke permukaan....

----

I have no idea about this book, aku nggak tau akan kemana mengalirnya konflik dalam buku ini. Ketika banyak yang bilang kalau buku ini berbeda dari kebanyakan novel, I totally agree.
Novel dibuka dengan bab satu yang lebih mirip prolog, bagaimana seluruh keluarga Richardson menatap rumah mereka yang terbakar, kecuali Isabelle /Izzy/ tentunya, karena dialah yang sudah membakar rumah itu.

Bab kedua dan sampai bab sembilan ke depan, novel ini menceritakan tentang setiap tokoh, detail, penuh narasi, penulis seolah ingin mengenalkan kita dan membawa kita menyelami setiap karakter dengan baik. Bergantian antara Pearl (anak Mia), Mia, Elena, Izzy, Lexie, Trip, dan Moody. Kadang aku juga merasa pergantian sudut pandang tokoh berubah secara tiba-tiba, anyway meskipun novel ini memakai sudut pandang orang ketiga.

Konflik utama dimulai setelah bab 9 yang sekitar 100an halaman, dan sebelum itu, jujur saja aku sempat dibuat bosan karena alurnya cukup lambat. Kedepannya pun masih sama, alurnya lambat dan maju-mundur, dan aku merasa ada beberapa flashback yang tidak perlu/terlalu panjang/apalah yang menjadikan ceritanya terkesan diulur-ulur, entah :(

Konflik utama cerita ini yaitu ketika teman baik Elena, Mrs. McCullough berencana mengadopsi seorang bayi yang ditelantarkan, bayi itu keturunan Tionghoa-Amerika. Elena yang tahu sahabatnya sulit punya anak, tentu saja mendukung hal itu. Namun masalah muncul ketika Lexie (anak pertama Elena) menceritakan itu kepada Mia yang sedang bekerja paruh-waktu di rumah keluarga Richardson.

Ternyata, Mia memiliki seorang teman Tionghoa di tempatnya bekerja paruh waktu lain, dan bahwa temannya itulah ibu dari bayi May Ling. Sebenarnya, Bebe tidak berniat meninggalkan May Ling, dan ia ingin mengambil kembali bayi itu. Tentu saja sebagai sahabat dan orang yang memiliki masa lalu ‘kelam’, Mia mendukung penuh keputusan Bebe.

Elena dan Mia yang tadinya akur, berubah jadi bermusuhan. Pekerjaan Elena sebagai seorang jurnalis membuatnya nekat mencari tahu hal-hal yang disembunyikan Mia, ketidakjelasan masa lalunya terutama karena foto di museum yang menampilkan dirinya sedang menggendong Pearl saat bayi.
Penelusurannya membawanya ke dalam kisah masa lalu Mia yang pahit. Selagi Elena memfokuskan diri pada masalah sahabatnya dan Mia, anak-anaknya melalui berbagai konflik lain. Menurutku, novel ini memiliki konflik yang cukup kompleks meski tidak rumit. Lebih ke konflik remaja, orangtua, sosial dan hubungan antara orangtua dan anak.

Di sisi lain, Izzy yang lahir prematur, yang selalu dikekang Elena karena ia terlalu paranoid dengan perkembangan Izzy, mulai memberontak dan akhirnya menemukan kenyamanan bersama Mia. Karena Mia tipe ibu yang bersahabat dan mengerti Izzy. Izzy selalu menghabiskan waktu dengan Mia membantunya membuat karya seni fotografi.

“Izzy mendorong, ibunya menahan, dan setelah beberapa lama tak ada yang ingat bagaimana dinamika tersebut berawal, hanya bahwa itu sudah ada sedari dulu.” – hlm 126
Pearl bersahabat dengan Moody, cowok itulah yang pertama kali menawarkannya pertemanan dan membawanya ke rumah keluarga Richardson hingga merasa kerasan. Moody menyukai Pearl, tapi Pearl menyukai kakak Moody yang tampan, Trip. Sementara itu Pearl juga jadi dekat dengan Lexie karena Pearl bersedia membantu Lexie mengerjakan tugas.

Pada akhirnya, penelusuran Elena berakhir pada satu fakta yang membuatnya murka. Berkaitan tentang keluarganya sendiri. Cukup ruwet untuk diceritakan dan takutnya spoiler juga XD tapi sangat realistis! Kesalahpahaman terjadi di mana-mana, dan cerita tidak harus selalu berakhir dengan benang kusut yang terurai.

Overall, aku sangat suka dengan konflik novel ini yang dekat dengan permasalahan sehari-hari. Bahwa menjadi orangtua tidaklah mudah, menjadi seorang anak pun sulit. Beberapa hal yang kurasakan ketika membaca novel ini adalah bahwa aku merasa fontnya terlalu kecil. Lebih banyak telling daripada showing kisah-kisahnya. Tapi, aku tetap suka bagaimana novel ini memberikan pengetahuan baru tentang banyak hal dan bagaimana penulis menyindir kehidupan masa kini.

Novel ini terlalu bermakna untuk dilewatkan ;) 4.3 stars

Quotes

 “Bagi orangtua, anak bukan sekadar seseorang: anak adalah tempat, semacam Narnia, alam abadi luas tempatmu menetap masa sekarang, masa lalu yang kau kenang, dan masa depan yang kau inginkan ada sekaligus.” – hlm 136
“Semuanya kembali, lagi dan lagi, ke titik ini: apa yang menjadikan seseorang seorang ibu? Apa itu berdasarkan biologi, ataukah kasih sayang?” hlm - 282
“Kau akan baik-baik saja, sayang. Kau akan akan baik-baik saja. Tuhan bekerja dengan cara misterius. Tetaplah ceria.” – hlm 320
“Ingat, kau terkadang perlu membakar habis segalanya dan memulai kembali? Setelah terbakar, tanah menjadi lebih subur, dan tanaman baru bisa tumbuh. Manusia juga seperti itu. Mereka memulai kembali. Mereka menemukan jalan.” – hlm 352.
“Tidak apa-apa menjadi rapuh. Tidak apa-apa membutuhkan watu dan melihat apa yang tumbuh.” – hlm 356
“Dia akan pergi lagi. Dia akan pergi lagi dan lagi sampai umurnya cukup dewasa dan tidak ada lagi yang bisa mengirimnya pulang.” – hlm 363




Selasa, 08 Mei 2018

[RESENSI] Illuminae by Amie Kaufman & Jay Kristoff

IG: @arthms12


Judul: Illuminae (The Illuminae Files 01)
Penulis: Amie Kaufman & Jay Kristoff
Penerjemah: Brigida Ruri
Pemeriksa Bahasa: Orinthia Lee
Penyunting: Mery Riansyah
Proofreader: Selsa Chintya
Penata Letak & Sampul: @fadiaaaa_
Penerbit: Spring (2017)
ISBN: 9786026682093
Jumlah halaman: 576 hlm.

Blurb:

Pagi ini, Kady kira putus dengan Ezra adalah keputusan terberat yang pernah gadis itu buat. Siang harinya, planetnya diserang.

Sekarang tahun 2575. Ketika musuh menembaki mereka dari udara, Kady dan Ezra–yang sudah tidak bicara satu sama lain lagi–terpaksa harus memperjuangkan jalan mereka menuju pesawat evakuasi.

Namun, pesawat tempur musuh yang memburu bukanlah masalah terbesar. ----- mematikan menyebar. Belum lagi AI pesawat evakuasi yang seharusnya melindungi mereka bisa saja menjadi musuh. Tidak ada seorang pun dari pihak berwenang yang mau memberi tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.


Saat Kady mulai mencari tahu dengan meretas timbunan data, gadis itu sadar, satu-satunya orang yang mungkin bisa membantunya adalah Ezra. Padahal Kady sudah bersumpah tidak akan berhubungan lagi dengan Ezra, mantan pacarnya itu.

Catatan singkat: buku ini diceritakan dalam bentuk hasil sadap dokumen, termasuk E-mail, skema, dokumen militer, pesan pribadi, laporan medis, wawancara, dan lain-lain.

---

Pencinta science fiction akan jatuh cinta sama novel ini. Maybe it won’t be a very detail review, I just wanna share what I have thought about this novel. Let’s check it out:

Honestly, aku benar-benar ingin membaca novel ini karena hype-nya yang tinggi di kalangan bookstagram yang aku kenal. Begitu liat judulnya, aku juga langsung tertarik dengan judulnya yang aneh ini. Kover dan blurb juga gak akan bisa lepas dari salah satu alasan kenapa aku mau baca novel ini.

Alasan terkuat kenapa aku ingin baca novel ini adalah karena formatnya! Yes. Seperti yang udah banyak nyebar atau disebutkan di blurbnya, novel ini diisi dengan format hasil sadapan, wawancara, dokumen, e-mail dan lain-lain, yang mana ini adalah pengalaman pertamaku membaca novel seperti ini. Dan lagi, latarnya adalah di luar angkasa, tepatnya di pesawat bernama Alexander dan Hypatia.

Bingung? Pasti. Tapi karena liat video dari salah satu bookvlogger favoritku, Kak Maggie, aku makin semangat buat ‘makan’ Illuminae. (5 Reasons Why You Should Read Illuminae by Maggie Chen)

Jujur, aku bener-bener gak bisa ngulas tentang gimana gaya bahasa penulisnya, selain karena mereka ada dua, di novel ini minim sekali narasi. Aku diajak berpetualang ke banyak sudut pandang. Ada sudut pandang Kady, AIDAN, percakapan kru pesawat, bahkan sudut pandang yang diambil dari rekaman CCTV.

Sudut pandang inilah yang bikin aku justru cepat menangkap karakteristik setiap tokoh. Aku lebih mudah mengenal sosok Kady, AIDAN dan Ezra (walaupun tetep ketipu sama twistnya HAHA) aku tetep punya feel yang kuat sama mereka bertiga. Kesimpulannya adalah, I really love this form. Poin plusnya adalah, novel ini tebal dan karena formatnya, aku jadi gak ngabisin waktu lama buat bacanya, tapi gak dibikin bosen karena saking tebelnya! Dijamin novel ini tidak akan sama sekali bikin kalian bosan. Aku puas©

Belum lagi konfliknya yang apik banget! Well, aku juga mau kasih tau satu hal, kalau kalian gak begitu tertarik sama science fiction, sebaiknya jangan ambil resiko dengan baca novel ini takutnya nyesel karena udah beli mahal tapi gak paham isinya HAHA. It happened to me, actually. Aku memang pencinta fantasi dan suka genre yang berhubungan dengan something full of imagination. Tapi Illuminae ini beneran bikin kepalaku hampir pecah! Bahasanya berat terutama ketika menjelaskan konflik yang sedang terjadi. Belum lagi istilah-istilah scifi yang sama sekali gak aku paham, rasanya ada footnote pun nggak membantu karena aku bener-bener ‘blank’ with those kind of stuff L

Yeah, rasa penasaranku gak bikin aku nyerah baca novel ini. Lama-kelamaan, aku mulai bisa mengikuti alurnya. Aku bisa mendapatkan feel antara Ezra dan Kady yang gemesinnya luar biasa ini. Aku bisa dapet feel ketegangan yang terjadi di pesawat Alexander dan Hypatia. Aku juga mulai bodo amat sama istilah scifi yang muncul karena aku udah bener-bener ‘masuk’ ke cerita yang disampaikan. Istilah scifi jadi gak begitu berarti lagi buatku;)

Trust me or not, konflik novel ini bener-bener luar biasa hebat, bisa dibilang, di luar ekspektasiku, apalagi twistnya yang bikin aku susah bernapas dengan benar seperempat akhir dari novel ini. Nggak, nggak, aku gak lagi berusaha jadi lebay, ini beneran sesuai apa yang aku rasain waktu baca novelnya. Because I really really love reading so I took too seriously to every good book. I’m sorry if I’m such a weirdo.

Okay, let’s talk about characters:

1.     Kady Eleanora Grant. She’s actually my type of heroin! Dia pintar, badass, fun, dan nekat! Tapi di balik semua itu, Kady juga punya banyak kekhawatiran yang dia tuangkan di diary ‘digital’nya. Aku bener-bener bisa memahami Kady karena dia punya banyak porsi di novel ini.
“Aku paling benci menangis. Perasaan itu merayap di dalam dirimu entah dari mana, lalu tiba-tiba kau berada di tengah-tengah melakukan sesuatu dan menyadari mata sialanmu basah lagi dan kau tidak tahu bagaimana itu terjadi. Dan hal terakhir–hal TERAKHIR– yang kau inginkan adalah seseorang melihatnya. Karena hal berikutnya, mereka mulai berbicara lembut dan mengasihanimu, dan mereka ingin agar kau berbicara, dan semua itu lebih dari apa yang bisa kuterima.” – Kady (hlm 74)
“Kenapa, aku tidak tahu, kecuali karena semakin besar kau kehilangan, semakin kau sadar tidak banyak lagi milikmu yang tersisa.” – Kady (hlm 75)
2.      Ezra Mason. Yeah, sejauh ini Ezra ‘belum’ terlihat ‘gagah’nya, tapi trust me, he’s soooo cute. Tapi meskipun gagahnya belum keliatan, Ezra adalah Letnan Dua, dia jadi pilot di pesawat di Alexander dan sosok yang menurutku sangat solid kepada rekan-rekannya. Dia, sebagaimana remaja cowok yang baru diputusin sama ceweknya juga suka curhat ke temennya tentang Kady, and that was warming my heart© Ezra ini tipe cowok yang romantis dan lucu. Masa di tengah-tengah tegangnya pertempuran luar angkasa, dia masi sempet gombalin Kady HAHA. What a lovely guy©
“Menakjubkan apa yang dilakukan waktu enam bulan dan beberapa ribu kilometer ruang hampa udara sehingga hati kita semakin dekat.” – Ezra (hlm 115)
“Kau punya aku. Sampai bintang terakhir di galaksi ini mati. Kau punya aku.” – Ezra (hlm 222)
(Kalian meleleh gakkkk sihhhh woyyy gue meleleeehh nggggg)

3.      AIDAN. Tapi kayaknya aku gak boleh nulisin dia deh XD aku cuma mau bilang kalau AIDAN ini istimewa banget buat aku, buat yang penasaran, silakan temukan sendiri keistimewaan dia. Kesanku buat AIDAN adalah “kamu itu cute tp brngsk hehe.”
“Bukankah aku murah hati? (Am I not merciful?)” – AIDAN
Overall, yes, the conclusion is.. I love this story. Aku memang sempet ingin lempar bukunya, ingin robek-robek bahkan, tapi karena gak mungkin aku lakukan, aku jadinya cuma ingin langsung jual buku ini dan gak akan baca Gemina maupun Obsidio. Kenapa? HAHA baca aja deh sendiri. Tapi setelah menyelesaikan novel ini, aku berubah pikiran, sekarang aku punya OTP kedua setelah Percabeth, aku punya seri yang aku favoritin setelah buku-bukunya Rick Riordan.

Hal-hal yang aku suka dari novel ini: hampir SEMUANYA aku suka. Heu.

Hal-hal yang aku kurang suka: istilah scifi *cry*, dialog AIDAN yang berwarna abu pada kertas berlatar hitam (woy pusing woy bacanya harus deket banget sama cahaya *cry*), dan halaman yang isi tulisannya melingkar kebanyakan kehimpit sama laminasi di tengah buku. (aku kira terbitan Spring doang yang begini, ternyata setelah gak sengaja cek Goodreads, ada juga yang sama, tulisannya tenggelam ke tengah buku *sad*)

Maybe that’s all. Rating akhirku adalah full stars. Disamping hal-hal yang membuat otakku serasa mau pecah dan kekurangan yang aku rasakan, semua itu udah ketutupin sama betapa cerita ini sangat berkesan buatku. Aku maafin kamu, Sayang. I think I have fallen in love with this series. Can’t wait to read the second book, Gemina. Penerbit Spring, ayo cepetan terbitin :D

Buat yang mau mulai coba-coba baca scifi, kayaknya gak ada salahnya coba baca Illuminae, karena novel ini punya format yang asik deh pokoknya, siapa tau jadi ketagihan sama scifi XD

Sabtu, 23 Desember 2017

[RESENSI] The Forbidden Wish by Jessica Khoury



Judul: The Forbidden Wish
Pengarang: Jessica Khoury
Penerjemah: Mustika
Pemeriksa Bahasa: Orinthia Lee
Penyunting: Novianita
Proofreader: Titish A.K.
Desainer Sampul: Junweise
Penata Sampul: @teguhra
Penerbit: Spring (Maret, 2017)
Jumlah Halaman: 404 hlm.
ISBN: 987-602-60443-3-4

Blurb:

Gadis itu adalah Jinni terkuat dari semua jin.
Pemuda itu adalah pencuri jalanan.

Saat Aladdin menemukan lampu Zahra, 
gadis itu dilontarkan kembali ke dunia 
yang tidak dilihatnya selama ratusan tahun.
Kemerdekaannya yang terikat pada lampu
mengharuskannya untuk memenuhi
tiga permintaan Aladdin.

Namun, saat raja dari para jin
menawarkan kebebasan kepada Zahra,
gadis itu mengambil kesempatan itu,
hanya untuk menyadari bahwa dia jatuh cinta
pada pencuri jalanan itu.

Saat kemerdekaannya hanya bisa diraih
dengan mengkhianati Aladdin,
jalan manakah yang akan dia pilih?
Apakah kebebasannya sepadan
dengan kehancuran hatinya?

-----

Novel retelling pertama yang aku baca! Sejujurnya aku banyak menaruh ekspetasi pada review orang-orang dan ke-hype-an novel ini waktu baru keluar oven(?). Udah lama punya, tapi baru sempet baca sekarang.

Ceritanya bersudut pandang orang pertama yaitu Zahra, ditemukan oleh Aladdin di sebuah reruntuhan kerjaan setelah lima ratus tahun. Di sini Aladdinnya itu pencuri yang punya dendam kepada orang istana karena membunuh orangtuanya di masa lalu.

Sementara itu, Nardhuka, raja jin memberi tugas kepada Zahra untuk memasuki istana dengan imbalannya dia akan dibebaskan. Nah loh. Zahra tentu tergiur, tapi dia terikat dengan Aladdin. Mau nggak mau, Zahra ngebujuk Aladdin untuk balas dendam dengan cara memasuki istana itu.

Tentu saja sebenarnya Zahra cuma mau menuntaskan misinya demi kebebasan.
Namun, siapa sangka, dia malah terjebak oleh pesona Aladdin yang berperan sebagai pangeran di istana itu.

Satu kata: lambat. Adalah kesanku ketika membaca novel ini. Lambat bukan berarti ceritanya nggak seru ya. Tapi jujur aja seratus halaman awal  (atau mungkin lebih) aku dibuat bosan hahaha. Padahal cukup segar sih plotnya, apalagi waktu Aladdin ditawan pasukan cewek tangguh. Mungkin yang membuat aku bosan adalah cara penulis menyampaikan ceritanya a.k.a narasi. Narasinya menurutku terlalu mendayu-dayu dan hampir-hampir mirip rangkaian syair yang kadang bikin aku nggak ngerti.

Plotnya juga lambat. Aku merasa bosan baca satu adegan berlatar sama yang panjangnya sampe berlembar-lembar. Tapi idenya seru. Dari awal sampe akhir bener-bener cerita yang segar seandainya narasi lebih cepat. Mungkin 404 halaman ini bisa bener-bener padat dan mengesankan sampai ending.

Satu-satunya bagian yang bikin aku enjoy saat bacanya adalah ketika Aladdin hampir ketauan dan itu astaga! Bikin degdegan setengah mati hahahaha. Bagian ini juga sampe berlembar-lembar tapi nggak tau deh, enjoy aja bacanya. Mungkin karena suasananya tegang. Tapi anehnya lagi, ketika Zahra bertarung dengan Nardhuka (yang harusnya tegang) aku malah nggak bisa ngikutinnya karena terlaluuuu panjang dan bikin bosan.

Ditambah mungkin karena aku kurang bisa membayangkan rupa dan latar peristiwa itu sendiri. Akhirnya, malah baca tanpa dihayati. Hm:(

Ah ya, aku juga suka hubungan antara Zahra dan Aladdin. Sweeeeet banget sih mereka... Apalagi dengan deskripsi tokoh Aladdin yang bikin ngiler HAHA. Aku suka semua karakter yang ada di novel ini. Khususnya Zahra, apalagi dia bisa dikatakan agak antagonis di sini. Aladdin yang polos-polos-pinter mungkin bukan tipeku sih, tapi okelah karena penggambarannya fisiknya HAHA. Caspida sendiri diceritakan seorang putri penerus takhta yang tangguh, tapi aku nggak terlalu bisa mendapatkan feelnya. Entah kenapa menurutku dia biasa saja.

Sementara tokoh jahatnya, Darian dan sang Ayah nggak sama sekali bikin aku ikut kesel. Kayak..well mereka antagonis dan sudah seharusnya mereka bersikap begitu. Hm. (ini aku yang pengertian apa gemana ya).

Konfliknya sempat membuat aku lupa kalau novel ini adalah kisan retelling tapi endingnya, kesan retelling ini kuat sekali dan mau tak mau bikin aku tersenyum sambil berkata "ohh iya ya" hahahaha.

Well, karena ternyata novel ini nggak begitu berhasil memikatku, aku cuma ngasih 3.5🌟 tapi segini pun aku udah suka sama ceritanya yang seru dan bikin kepikiran Aladdin mulu hahahaha.

Aku juga suka dengan ide penggambaran dunia manusia dan jin di novel ini, kayak, dapet petahuan baru, meskipun fiksi, beberapa ada yang nyata juga.

Dan satu poin penting yang bikin aku SUKA novel ini adalah, TFW mampu bikin aku terhanyut dalam dunia yang dibuat penulis, seolah-olah aku memang tinggal di dunia itu. Dan ketika aku istirahat membaca, aku merasa ada rasa kehilangan (kayak: lah, gua di mana nih? Dunia gua kan di Parthenia!). TFW sukses bikin aku terseret ke dunianya. Buku ini kayaknya mengandung sihir, deh. 😂

Qoute fav-ku cuma ada satu di novel ini (pas baca langsung bikin berkaca-kaca, sumpah.)
"Tidak ada rahasia untuk mencapai kebahagiaan. Karena kebahagiaan itu sendiri adalah sebuah konsep mitos, mimpi yang kalian para manusia ceritakan kepada diri kalian sendiri agar bisa melewati setiap hari." - Zahra (hlm. 260)

Sabtu, 23 September 2017

[RESENSI] Underwater by Marisa Reichardt

“Sometimes, the safest place to be is in underwater.”




Judul: Underwater
Penulis: Marisa Reichardt
Penerbit: Spring (2017)
Jumlah halaman: 329 hlm.

Blurb:
Memaafkanmu akan membuatku bisa memaafkan diriku sendiri

Morgan tidak bisa keluar dari pintu depan apartemennya, rumah yang dia tinggali bersama ibu dan adik laki-lakinya. Gadis itu merasa sedang berada di bawah air, tidak mampu naik ke permukaan, tidak mampu bertemu dengan teman-temannya, tidak mampu ke sekolah.

Saat Morgan kira dia tidak bisa menahan napasnya lebih lama lagi, seorang cowok pindah ke sebelah rumahnya. Evan mengingatkannya pada laut yang asin, dan semangat yang dia dapatkan dari berenang. Mungkin, Evan adalah bantuan yang dia butuhkan untuk terhubung kembali dengan dunia luar.....


Well, aku menyelesaikan novel ini dalam satu hari dan kesan yang kudapat dari novel ini adalah gereget luar biasa. Menjengkelkan dan menyenangkan dalam satu waktu. Underwater berkisah tentang seorang cewek bernama Morgan yang mengalami gangguan mental PTSD atau sindrom pasca trauma.

Dia menjadi jauh dengan dunia luar dan hanya dapat berdiam diri di dalam rumah. Sekolah online dan melakukan segala hal sendirian saat ibu dan adiknya pergi untuk ‘hidup’. Di bab awal, Evan Kokua sudah muncul, menawarkan ‘pertemanan’, tapi Morgan masih ragu. Selama keraguannya untuk membuat cerita ini lengkap karena hadirnya Evan, aku dibuat bosan setengah mati dengan kegiatan Morgan di rumahnya.

Seolah-olah aku ikut dikurung di dalam apartemennya, seolah aku berada di ruang sempit yang membuat napasku sesak. Marisa berhasil membuatku ikut terkurung bersama Morgan melalui bab-bab awal Underwater. Ini pujian, aku serius.

Meski kebosanan, aku nggak bisa berhenti membalik halaman novel ini, karena cerita lambat dan clue tentang konflik yang seolah jatuh satu-persatu seperti daun dari ketinggian 1000 meter membuatku penasaran setengah mati.

Berulang kali aku menghela napas dan memandangi kovernya, memandangi bookmarknya yang terdapat gambar pistol, kembali aku memoskuskan diri membaca novel ini. Sebegitulah niatku untuk menyelesaikannya dalam satu hari. Aku tidak tahan, Marisa membuatku tidak tahan dengan konflik yang disajikannya dan aku salut.

Underwater memakai sudut pandang orang pertama, Morgan. Untuk itu aku benar-benar dibawa ke bagaimana dia melalui masa-masa sulitnya, mencoba untuk baik-baik saja dengan meminum pil ketika serangan panik itu datang, serta melakukan hal-hal yang disuruh Brenda, psikiaternya, untuk membantu membuatnya sembuh.

Kehadiran Evan bukan hanya menjadi sesuatu yang ditunggu Morgan, tapi aku juga menunggunya. Rasanya lebih berwarna jika ada Evan, rasanya Morgan tidak terlalu aneh jika ada Evan. Hubungan mereka terutama ketika Morgan mengirim surat kepada Evan dan mengakui penyakitnya, membuat seolah-olah akulah yang sedang memberi surat itu pada Evan. Untuk urusan feel yang didapat, aku punya banyak bintang untuk Marisa. Aku suka dan tidak berhenti deg-degan.

Tapi aku kurang setuju dengan blurbnya yang mengatakan Evan membantunya terhubung dengan dunia luar. Menurutku, Brenda punya peran yang lebih besar dan dia yang membuat Morgan berani melakukan itu.

Lama-kelamaan, aku dibuat benci kepada Morgan. Mulai dari tingkahnya yang merasa Evan akan terbebani karena penyakitnya dan memutuskan menjauh, juga saat Brenda memberikan nasihat-nasihat kepada Morgan yang membuatku menyalahkan tingkah Morgan.

“Hanya karena mereka tampak baik-baik saja, bukan berarti mereka tidak terluka seperti dirimu.” – hlm. 180

Ditambah kehadiran Taylor, teman cewek Morgan di sekolah lamanya (yang sekarang ditutup akibat kejadian mengerikan Lima Belas Oktober) yang sekarang jadi teman satu sekolah Evan, kenyataan bahwa Taylor mempunyai bekas luka peluru akibat kejadian masa lalu itu dan tetap bertahan, membuatku makin tidak menyukai Morgan karena dia terlalu lemah.

Dia terpuruk dan trauma ketika orang-orang lain yang berada di lokasi kejadian memutuskan bertahan dan melanjutkan hidup, melupakan dan memaafkan.

Tapi ternyata tidak sesederhana itu, kekesalanku berubah menjadi keterkejutan yang amat sangat ketika aku membaca alasan dibalik traumanya Morgan. Brenda terkejut, aku juga. Kami sama-sama berkata: “Ya Tuhan.”

Yang jelas, setelah bosan, degdegan sambil tersenyum gila, lalu kesal, aku dibuat tidak bisa berkata-kata dengan konflik aslinya. Lalu tentang masa lalu keluarga Morgan, topik ayah kembali dibahas dan aku tidak bisa tidak mengeluarkan air mata.

Ibunya memang tidak terlalu mendapatkan peran di hatiku, tapi Ben, adik Morgan, benar-benar membuatku ingin melepaskan status anak bungsu demi memiliki adik semenggemaskan itu XD Aku suka bagaimana Marisa menyusun latar belakang keluarga Morgan dan itu sangat menyentuh :”

Sejauh ini aku benar-benar sulit menulis resensi tanpa spoiler. Yang terjadi selanjutnya adalah bagaimana Morgan melalui masalahnya, bagaimana dia bertahan, dan selalu ada orang-orang yang mendukung, menyayangi dan mendampinginya ketika dia melewati semua itu.

Underwater mengajarkanku untuk bertahan dan tetap berjuang. Terlebih ketika banyak orang peduli yang mengelilingimu. Aku iri bagaimana Morgan berhubungan dengan semua orang-orang di dekatnya.
“Jika kau menjauhi seseorang terus-menerus, pada akhirnya orang-orang akan pergi!” – hlm 180
Aku bahkan merasa aneh sendiri ketika menyadari bahwa novel ini ditulis oleh satu orang, pikiran yang sama, tapi kenapa karakter Morgan begitu melekat seolah-olah dia tercipta karena kemauannya sendiri sementara Marisa berusaha mengubah itu dengan memunculkan Evan dan Brenda. #hala

Overall, aku fifty-fifty jika dibilang menyukai novel ini atau tidak. Romance antara Evan dan Morgan membuat wajahku memerah dengan sendirinya, hubungan Morgan dengan Aaron di masa lalu membuatku ngeri dan tegang, hubungan Morgan dan ayahnya (apalagi surat di akhir itu) membuatku menangis tersedu-sedu, tapi aku masih merasa ada yang hilang.

Efek tidak ada puncak klimaks? Aku nggak yakin sih, konflik utama penyebab Morgan trauma sudah terjadi beberapa bulan yang lalu dalam novel ini, dan diceritakan dengan flashback-flashback yang meskipun membuatku terkejut, tapi itu ... masa lalu ._.

Usaha penyembuhan Morgan memang heartwarming, tapi tetap saja aku perlu ‘tembakan pistol’ itu lebih nyata. HAHA.
Jadi aku kasih 3.5 dari 5 bintang untuk Underwater! Aku akan dengan sangat senang hati menunggu novel kedua Marisa Reichardt :)

Its time to qoutes:
“Aku mendengarkan desis mentega di wajah. Bunyi itu mengingatkanku betapa cepatnya hal-hal berubah. Satu detik kau utuh, detik berikutnya kau meleleh.” – hlm 11
“Hatimu memerlukan kenyamanan dan penghiburan. Berikan. Jangan menjadi korban, tapi jadilah penyintas.” – hlm 162
“Jangan bahas soal adil denganku. Hidup itu tidak adil.” – hlm 179
“Aku ingin membencimu, tapi membencimu tidak membawamu kemana-mana. Memaafkanmu akan menjadi awal sembuhku. Memaafkanmu akan membuatku memaafkan diri sendiri.” – hlm. 195
Bagian tersedih favoritku dari novel ini adalah surat dari Morgan untuk ayahnya. Aku hampir-hampir membasahi buku ini oleh air mataku yang tiba-tiba turun dengan sendirinya. Aku ingin menuliskan keseluruhannya karena memang tidak banyak, tapi kupikir, kalian harus membacanya sendiri. Harus!
“Aku selalu menyayangimu. Bahkan ketika rasanya sakit. Bahkan ketika kau tidak ada. Bahkan ketika aku cemas kau telah melupakan siapa diriku. Aku selalu menyayangimu.” – hlm 323

 p.s kalimat pembuka yang aku pakai berasal dari kover asli (atau versi mana lah gitu) dari Underwater, sayang sekali Spring melewatkan kalimat itu, padahal ngena banget. trus, jujur aku lebih suka kover Underwater yang ceweknya tiduran di sofa di bawah air (entah versi negara mana). Itu keren banget :)

Rabu, 19 Juli 2017

[RESENSI] Everything, Everything by Nicola Yoon

“Risiko terbesar adalah tidak mengambil risiko.”



Judul: Everything, Everything
Penulis: Nicola Yoon
Penerjemah: Airien Kusumawardani
Penyunting: Brigida Ruri
Proofreader: Selsa Chintya
Design Cover: Irene Ritonga
Penerbit: Spring (2016)

Blurb:

Penyakitku langka, dan terkenal. 
Pada dasarnya, aku alergi terhadap seluruh dunia. Aku tidak bisa meninggalkan rumahku, dan belum pernah keluar dari rumah selama tujuh belas tahun. Orang yang aku temui hanyalah ibuku dan Carla, perawatku.

Tapi suatu hari, sebuah truk pindahan tiba di rumah sebelah. Aku melongok keluar dari jendela dan aku melihat cowok itu. Dia tinggi, kurus, dan mengenakan baju serba hitam. Dia memergokiku sedang menatapnya dan dia balik memelototiku. Namanya Olly.

Mungkin kita tidak bisa memperkirakan masa depan, tapi kita bisa memperkirakan satu atau dua hal. Seperti misalnya, aku yakin aku akan jatuh cinta pada Olly. Tapi, hal itu hanya akan menjadi bencana.

——★

Everything, Everything bercerita tentang seorang gadis bernama Madeline Whittier, atau Maddy yang mempunyai penyakit langka bernama SCID atau Severe Combined Immunodeficiency (penyakit yang membuat sistem kekebalan tiruan menjadi lumpuh dan mudah terserang penyakit). Hal itu membuatnya harus tertahan di dalam rumahnya selama hampir seumur hidup.

Hanya ibunya, yang sekaligus dokternya, dan Carla sang Perawat yang boleh menemui Maddy. Namun hari itu, sebuah keluarga baru pindah ke depan rumahnya. Di sana ada Olly, cowok seumurannya yang hanya bisa dilihatnya dari jendela kamar.

Olly yang juga sering melihat Maddy entah dari halaman rumah atau jendela kamarnya yang bersebrangan dengan jendela kaar Maddy mulai penasaran kenapa Maddy tidak pernah keluar. Pertama-tama dia mencoba memberikan kue bundt sebagai tanda kepindahannya, namun jelas Maddy tidak bisa menemuinya.

Perlahan, komunikasi lewat tulisan di kaca jendela masing-masing membuat mereka akhirnya bertukar e-mail, hubungan keduanya pun dimulai dari sana. Namun kedekatan itu pula yang membuat Maddy ingin menemui Olly secara langsung, dengan bujuk rayunya kepada Carla, mereka akhirnya dipertemukan.

Tapi memang Maddy sudah tahu, bahwa semuanya hanya akan jadi bencana.

——★

Ketika membaca blurb dan kata bencana, aku benar-benar menemukan bencana itu. Well, kita bahas dari awal. Aku suka kovernya yang cantik, seriously pertama beli nggak bisa ngelepasin mata dari kovernya yang menawan. Blurb yang seru dan memang keseluruhan cerita ini luar biasa.

Ide cerita yang unik dan belum lagi berbagai ilustrasi lucu yang ada dalam novel ini membuatnya terlihat begitu segar, ringan, dan menyenangkan. Gaya bahasa yang dipakai Nicola Yoon mengalir serta humor ringan yang khas.

Aku sangat menikmati membaca buku ini dari halaman awal sampai akhir. Sama sekali nggak bosan dan aku menamatkan buku ini sekali duduk. Tidak heran kalau akhirnya novel ini akan difilmkan.

Konflik ringan yang awalnya disuguhkan Maddy selaku pemegang sudut pandang membuat cerita ini terasa kesan remajanya, bagaimana dia membunuh kebosanannya justru membuatku tidak bosan membacanya, lalu seringkali konflik batin yang memaksanya untuk keluar dari zona nyamannya membuatku ikut sedih. Bab yang menurutku paling emosional adalah bab dengan subjudul ‘Kisah Dua Maddy’ halaman 120.

Karakter Maddy jelas adalah kekuataannya. Aku suka dia dan dia cukup menyenangkan untuk ukuran gadis yang tidak pernah keluar dari rumah dan bersosialisasi selama hampir tujuh belas tahun. Begitupun dengan Olly, latar keluarganya yang keras tetapi mampu membentuknya jadi cowok idaman yang humoris membuatku jatuh cinta.

Juga dengan Carla yang hampir sepanjang cerita membuat Maddy bahkan para pembaca mengambil makna dari cerita ini dan selalu menasihati dengan kata-katanya yang menohok. Serta sosok sang Ibu yang meski tidak terlalu banyak mendapat porsi, tetapi cukup untuk menggambarkan rasa sayang yang luar biasa kepada Maddy. Aku sempat dibuat menangis ketika Maddy marah pada Ibunya.

Well, sampai lagi ke kata bencana. Ya, sejujurnya aku memang bisa menebak apa yang terjadi pada Maddy, tapi aku tetap menikmati alur yang dibuat Nicola Yoon karena memang setiap kejadian dibuat menyenangkan. Tentang masa lalunya juga petualangan kecil Maddy dan Olly membuatku merasa hangat. Seperti jargon novel ini: risiko terbesar adalah tidak mengambil risiko.

Apakah akhir keputusan Maddy adalah mengambil risiko atau tidak? Yah, silakan cari tahu lewat novelnya dan aku pastikan kalian akan terkejut ketika membacanya. High recommended buat kepengin bacaan remaja yang unik, ringan dan menyentuh.

Overall, aku sangat suka cerita ini terutama gambarnya HAHA (psst, salah satu gambar yang membuatku syok tapi pengin ketawa juga). And then, 4 of 5 stars untuk novel yang menyebutkan nama ikan humuhumunukunukuapua’a ini. XD

———★
Qoutes

Oh ya dan novel ini juga banyak qoutesnya lho, beberapa yang kusukai;

“Mungkin aku memupuk harapan bahwa suatu hari nanti, entah kapan, keadaan akan berubah.” – Maddy (hlm 19)
“Kukira hanya masalah waktu sebelum depresi mengalahkanmu.” – Carla (hlm. 40)
“Hidup ini berat, Sayang. Tapi semua orang bisa menemukan jalannya.” – Carla (hlm 41)
“Laut adalah Ibu Alam–menakjubkan, indah, tak memiliki kehendak, dan berbahaya. Pikirkan saja: meski ada air sebanyak itu, kau masih bisa mati kehausan. Dan tujuan utama ombak adalah untuk menarik kakimu agar kau tenggelam lebih cepat. Laut akan menelanmu utuh lalu memuntahkanmu lagi, tapi sama sekali tidak peduli bahwa kau ada di sana.” – Olly (hlm  83)
“Menginginkan satu hal hanya akan membawa ke lebih banyak lagi keinginan. Keinginan itu tidak pernah ada ujungnya.” – Maddy (hlm 91)
“Aku tahu Carla hanya berusaha melindungiku, sama seperti aku berusaha melindungi diriku sendiri beberapa minggu yang lalu, tapi kata-kata Carla membuatku menyadari bahwa jantung di dalam dadaku adalah otot yang sama seperti yang lainnya. Jantungku bisa terluka.” Maddy (hlm 122)
“Mungkin menjadi dewasa artinya mengecewakan orang-orang yang kita cintai.” – hlm 237
“Aku tidak punya kesabaran untuk membaca buku-buku yang berpura-pura bahwa hidup itu berarti.” – Maddy (hlm 270)
“Hatiku terlalu terluka dan aku ingin menyimpan rasa sakit itu sebagai pengingat. Aku tidak mau hatiku disinari matahari lagi. Aku tidak mau hatiku sembuh. Karena kalau itu terjadi, mungkin aku akan tergoda untuk menggunakannya lagi.” – Maddy (hlm 273)
“Otakku adalah ruang asing dengan pintu jebakan di mana-mana.” Maddy (hlm 291)

Banyak banget ya? Ya, karena novel ini memang benar-benar keren!! 

Senin, 06 Februari 2017

[RESENSI] Being Henry David By Cal Armistead


Halo! Akhirnya di awal bulan Februari ini bisa mulai latihan review novel lagi. Bulan ini, novel yang berhasil aku selesaikan adalah Being Henry David karya Cal Armistead. Novel ini sebenarnya aku beli barengan sama The Girl On Paper, dan aku baca setelah TGOP selesai. Sayangnya, tidak seperti TGOP, ada hal-hal yang membuat aku menunda baca BHD dan baru selesai dua hari kemarin HE.

“Hal terakhir yang kuingat adalah ‘sekarang’.”

sumber: google



Judul: Being Henry David
Penulis: Cal Armistead
Penerjemah: Dewi Sunarni
Penyunting: Novianita
Proofreader: Seplia
Layout Cover: @teguhra
Penerbit: Spring
Jumlah halaman: 279 hlm.



Blurb:

‘Hank’ tersadar di Stasiun Penn, New York tanpa ingatan. Pemuda berumur tujuh belas tahun itu tidak tahu namanya, siapa dirinya, dan dari mana ia berasal. Satu-satunya petunjuk yang ia miliki adalah sebuah buku berjudul ‘Walden’ karya Henry David Thoreau yang ada di tangannya.

Menggunakan buku itu, ia mencoba mencari jati dirinya. Dapatkah ia mengingat kembali siapa dirinya?

Atau lebih baik ia tidak mengingatnya sama sekali?

dok.pribadi


Yah! Jadi review kali ini, aku sedang mencari jati diri gaya ulasan yang pas buatku, jadi aku masih ganti-ganti cara reviewnya yaa!

Jujur, sejujur-jujurnya, aku ketipu sama buku ini. HAHA. Nggak juga sih, akunya aja yang rada o’on sepertinya WKWK.

Jadi, sebagai penggemar berat novel terjemahan, aku ngefans sama penerbit Spring, ikutin semua sosmednya (meskipun bukunya baru punya tiga HEHE). Dan waktu Spring baru nerbitin novel ini, aku udah jatuh cinta sama sinopsisnya. Ya, sinopsis, nggak kayak TGOP yang aku jatuh cinta duluan sama covernya, baru sinopsisnya.

Salah satu hal yang aku sukai dari novel terjemahan adalah, idenya yang unik, dan nggak pasaran, malah sinopsisnya bikin penasaran setengah mati. Kalau soal covernya, jujur aku nggak tertarik tapi setelah aku cari-cari info soal penulisnya dan novel ini, memang cover aslinya pun nggak jauh beda dari tema cover versi Indonesianya (dan memang sesuai dengan isinya).

Kenapa tadi aku bilang ketipu? Soalnya novel BHD bener-bener jauh dari ekspetasiku. Aku yang tadinya kebayang akan petualangan ‘Hank’ dan cara menantang yang bakal dia lalui untuk menemukan jati dirinya, atau teka-teki, dan masa lalunya yang twist.

Tapi o’onnya aku, aku lupa kalau genre novel ini bukanlah adventure/action or fantasy. Jadi harapanku menemukan kisah menakjubkan(versiku) pupuslah sudah. Itulah juga yang bikin aku sering tunda-tunda baca BHD dan seling sama novel yang lain.

Review

Seperti yang dituliskan di sinopsisnya, novel ini bercerita tentang ‘Hank’ –sebut saja begitu (kan dia nggak inget apa-apa ya) yang terbangun di Stasiun Penn dengan keadaan hilang ingatan dan hanya ada sebuah buku berjudul Walden karya Henry David dan uang sepuluh dolar.

Nah, di sini nih, aku gereget banget bahkan belum sampai konflik sesungguhnya udah senyam-senyum nggak jelas. Di stasiun Penn, dia ketemu gelandangan namanya Frankie, yang lucunya, dia makan se-galanya. Yap, dia makan apapun! #gereget

Sempat berantem dikit sama Frankie karena dia makan buku Walden, datanglah polisi yang melerai. Nah, diceritakan kalau Hank itu punya firasat dia nggak boleh berhubungan sama polisi (yang tambah bikin aku bertanya-tanya ada apa dengan masa lalu Hank, kayaknya dark-dark gimanaaa gitu).

Lalu ekspetasiku muncul: dia ketemu sama anak gelandangan lain yang sebaya, namanya Jack (nama samaran) dan Jack jugalah yang memberi nama Hank pada Hank karena Hank bilang namanya Henry.

“Henry,” ucap Jack bimbang, mencoba melafalkan. “Kau tidak terlihat seperti seorang Henry. Aku akan memanggilmu Hank.” Dan begitu saja, aku menjadi Hank.(hlm. 16)


#Ngakak

Novel ini punya sudut pandang orang pertama, yaitu Hank, kalau orang ketiga, ya nggak bisa dong jadi novel penuh rahasia di setiap halamannya WKWK #youdontsay

Lama-kelamaan, masih di bab-bab awal, faktor yang membuat aku kurang srek dan nggak nyaman baca novel ini adalah penulisannya. Terjemahannya memang begitu, atau emang kurang enak aja dibaca. Contohnya gini:

“Si Thoreau menulis buku ini pada pertengahan 1800-an, karena itu awalnya tulisan dia terasa sedikit aneh bagiku.” Hlm. 29

Dan ada beberapa lain yang mengangguku tapi lupa catet halamannya hee. Selain itu ada sedikit plot hole menurutku. Pengennya pap sih tapi ribet dan akunya males HE. Jadi di halaman 34 dijelaskan kalau Hank dan Jack berantem sama pemabuk dan pencandu bernama Simon.

“Dia berhasil melepaskan diri dari cekikan Jack, melemparkannya dari punggungnya, membuat Jack pingsan.” Hal. 34.

Oke, garis bawahi ‘Jack pingsan’.

Tapi di hal 35 aku menemukan: “Jack dan aku mundur dua langkah …”

 Oke, beberapa baris aja Jack udah sadar lagi XD

Lalu ada lagi kalimat menganggu seperti: “dedaunan dan tanah dan pinus.” Aku nggak tau ya, mungkin novel aslinya emang begitu tapi menurutku kebanyakan kata hubung ‘dan’.

Selepas dari itu semua, selanjutnya aku sangat menikmati kisah Hank. Terutama ketika dia mulai mengenal sosok Thomas –seorang peneliti perpustakaan yang berperan banyak dalam membantu Hank menemukan siapa dirinya. Kalau Hank nggak ketemu Thomas, mungkin sekarang Hank lagi luntang-lantung di jalanan kayak Jack dan nggak ada ‘kebetulan-kebetulan’ menyenangkan dan menguntungkan untuk Hank :))

“Aku tidak bangga akan itu. aku dulu anak yang pemarah dan pemberontak. Aku masih pemberontak, tapi aku tahu cara menyalurkan energi itu.” – Thomas (hal.130)


~mauu dong caranya mauuu mas Thomas~~

“Perasaan tidak diinginkan siapa pun dan kau tidak diterima di mana pun bisa membuat seseorang sedikit gila.” – Thomas (Hal. 132)


Karena semua di sini tokoh remaja, apalagi Jack yang nggak bisa jadi panutan, Hank juga nggak menginspirasi karena hilang ingatan, Thomaslah yang membuat banyak perubahan pola pikir, dan memberikan banyak pesan moral di novel BHD. Menurutku si Mas Thomas ini adalah karakter penguatnya.

Jangan lupakan romance. Meskipun aku penikmat fantasi, tapi aku selalu mengharapkan ada romance yang sedikit banyak bikin baper HAHA. Setelah memutuskan untuk berpisah dengan Jack, Hank melakukan perjalanannya –Being Henry David– dan di kota Concord, dia bertemu gadis cantik yang membuat dirinya terpikat, namanya Hailey. Jujur, kisah asmara mereka nggak banyak bikin baper, tapi aku suka gimana cara remaja di sana menyikapi rasa cinta. Lucu, dan sederhana. Meskipun bukan itu intinya, Hailey hanya selingan dan sadly, in the ending, she’s disappear. How can you just –argh! *ngomel ke Cal*

***

Yeah, semakin ke akhir semakin spoiler karena memang sulit untuk mereview BHD secara keseluruhan, intinya lama-kelamaan Hank memang akan benar-benar menemukan petunjuk siapa dirinya karena novel Walden karya Henry David, meskipun sampai akhir, nggak dijelasin dari mana asalnya novel itu bisa ada bersama Hank di Stasiun Penn ataupun kalimat yang membuktikan bahwa Hank memang membawa buku itu bersamanya. Semua masih menjadi teka-teki~

Hingga akhirnya Hank menemukan masa lalunya, menemukan asal muasal ‘monster’ penghuni jiwanya, dan seriously, aku nggak tahan buat nggak nangis. Aku seolah merasakan apa yang Hank alami selama ini, perasaan terdalamnya. Jujur aku lebih menghargai baper tentang kehidupan dan suka-duka hidup di dunia daripada masalah cinta.

Meski cerita ini tidak seperti yang kuharapkan, tapi cerita ini mampu mengambil sudut simpatiku yang terdalam. Sumpah, novel ini kece banget. Plis, para remaja, jangan kecanduan tokoh fiktif pembuat bapermu, coba baca kisah Hank, meskipun dia bukan tipe cowok romantis bikin blushing dan senyam-senyum gak jelas, tapi jelas kisah Hank jelas lebih berfaedah HAHAHA :v

Aku nggak nyesel menginginkan buku ini, nggak nyesel lanjutin sampai akhir. Meskipun endingnya nggak bikin perasaanku ‘plong’ setelah badai-gelombang yang menerpa hidup Hank. Terlalu singkat, dan terlalu dipaksakan endingnya seperti itu. Tebakanku sih, (ngeliat babnya dikit banget cuma 18 dan ternyata ini novel pertama Cal) pasti ini ketentuan penerbitnya yang membatasi halaman. Jadi, Cal terpaksa membuat ending seperti itu. Hiks.

***

Banyak cuap-cuap, akhirnya sampai di ending reviewku. Ini semua daftar favorit quotesku. Sebelum benar-benar memantapkan diri belajar review, aku dari dulu selalu mencatat kalimat-kalimat yang membuatku baper, yang 11-12 sama keadaan hidup dan perasaanku lah #ea

“Mimpi-mimpi kenangan buruk adalah ketika aku melihat diriku sendiri menjadlani hari-hari sebagai ‘anak baik’, padahal dalam kenyataannya aku menahan diri sedemikian rupa hingga aku ingin menghancurkan perabotan dan melemparkan barang-barang ke tembok dan berteriak sampai pembuluh darah di kepalaku pecah. (cut spoiler). Dari luar, aku anak yang sempurna –seperti patung pualam yang sempurna, tenteram, dan tidak nyata. Di dalam, isinya ular-ular dan belatung-belatung dan pecahan kaca.” – hal 193
“Kau tahu, terkadang aku bertanya-tanya apakah dia terganggu karena sebenarnya dia tidak pernah tiba di puncak. Dia sudah begitu dekat, dan pada saat itu dia berpikir dia berhasil. Kukira itulah yang penting.” – hal 203

“Merenungkan masa depanku sama seperti mengintip ke dalam lubang hitam. Semua orang sudah harus merencakannya pada umur delapan belas tahun: daftar tujuan hidup, sebuah rencana hidup yang lengkap. Iya, benar. Aku takut untuk menceritakan ini kepada siapa pun, tapi aku tidak punya rencana. Aku bahkan tidak punya petunjuk.” – hal 207

“Aku tidak pernah menemukan teman yang begitu setia seperti kesendirian.” – hal 244



Makin akhir makin baper:

“Akhirnya, aku tak sanggup lagi menjalani hidupku, tak bisa mengatasi rasa bersalahku. Aku tahu aku harus lari atau akhirnya aku akan menggantung diri di garasi. Sesederhana itu.” – hal 265



“Ini akan menjadi akhir yang bersih bagi hidupku yang sia-sia. Cara yg baik untuk mati.” – hal 271



“Memilih hidup berarti menghadapi rasa sakit dan aku tidak cukup kuat. Kematian adalah akhir, pelarian pamungkas bagi kita yang berada dalam pelarian. Jadi inilah akhirnya: berpegang pada batu dan hidup. Atau melepaskan dan mati.” – hal 272



Kuingatkan sekali lagi, BHD cuma sampai halaman 279 loh, hal 272 aja ada kalimat kek begitu, jadi coba tebak…happy end or sad end?? Hihi :D

Terakhir, aku kasih 3.5 dari 5 bintang buat ‘Hank’ or DH. ♥

Senin, 23 Januari 2017

[RESENSI] The Girl On Paper by Guillaume Musso

 “Gadis itu terjatuh dari dalam buku.”


sumber: google



   

Judul: The Girl On Paper – La Fille de Papier
Penulis: Guillaume Musso
Penerjemah: Yudith Listiandri
Penyunting: Selsa Chintya
Proofreader: Titish A.K.
Design Cover: Chintya Yanetha
Penerbit: Spring
Jumlah halaman: 448 hlm.

   



Blurb: 

Gadis itu terjatuh dari dalam buku.

Hanya beberapa bulan yang lalu, Tom Boyd adalah seorang penulis miliader yang tinggal di Los Angeles dan jatuh cinta pada seorang pianis ternama bernama Aurore. Namun, setelah putusnya hubungan mereka yang terekspos secara publik, Tom menutup dirinya, menderita writer’s block parah, dan tenggelam dalam alkohol dan obat terlarang.

Suatu malam, seorang gadis asing yang cantik muncul di teras rumah Tom. Dia mengaku sebagai Billie, karakter dalam novelnya, yang terjatuh ke dunia nyata karena kesalahan cetak dalam buku terakhir Tom.

Meskipun cerita itu gila, Tom harus percaya bahwa gadis itu benar-benar Billie. Akhirnya mereka membuat perjanjian. Jika Tom mau menulis novel agar Billie bisa kembali ke dunianya, Billie akan membantu Tom untuk mendapatkan Aurore kembali.
Tidak ada ruginya, kan? Iya, kan?

dok.pribadi



SUMMARY

Pertama-tama, aku mau ucapin terima kasih banyak untuk Mbak Chintya Yanetha yang telah mendesain cover The Girl On Paper secantik ini! Serius, aku tuh tipe orang yang liat dulu sebuah novel dari covernya. HEHE. Dan, waktu liat cover novel ini, aku ngerasa kayak jatuh cinta pada pandangan pertama.

Ditambah lagi baca blurbnya, yang little bit fantasy. Aku penggemar berat hal-hal yang berbau fantasy, dan membaca blurb TGOP membuatku makin gemas ingin punya novel ini.
Well, sebenernya genre novel favoritku itu Teenlit dan Fantasy (terjemahan), karena aku masih remaja dan belum sreg sama novel-novel teenlit or fantasy Indonesia. Tapi aku biasanya lahap apapun novel yang nganggur di depan mata. HE.

The Girl On Paper bercerita tentang seorang novelis terkenal bernama Tom Boyd, yang lagi patah hati gegara diputusin pacarnya, seorang pianis ternama bernama Aurore. Di bab-bab awal diceritain gimana Tom bener-bener pengen Aurore kembali ke hidupnya, dia bahkan nggak segan melakukan hal-hal gila.


“Dia bukan teroris atau orang gila. Dia hanya seorang pria yang sedang jatuh cinta. Hanya seorang pria yang tidak bahagia.” (hlm. 17)

Karena stress berat kehilangan Aurore, Tom jadi kena writer’s block parah, dia nggak bisa lanjutin novel seri ketiganya dan terpaksa membuat sahabatnya, Milo jadi uring-uringan. Hingga akhirnya disuatu malam yang lagi mati lampu, gadis itu datang. Mengejutkan Tom yang setengah sadar karena pengaruh obat-obatan. Gadis itu, telanjang bulat..

Oke skip. Kita lanjut ke curhatku ya. The Girl On Paper terbit September 2016, yang mana aku lagi nggak punya uang buat belinya. Hiks. Karena aku pengen banget punya novel ini, segala macam cara aku lakuin buat dapetin novel ini (bukan beli, ikut GA-nya) #halah. Tapi sepertinya aku tidak cukup beruntung mengikuti semua giveaway itu hingga akhirnya aku menyerah dan bisa membeli buku ini di bulan Januari. Yah, telat emang. Tapi lebih baik telat daripada enggak sama sekali, kan? #ea




REVIEW

Teman-temanku yang baik hatinya, mau kasih tau, ini review pertamaku. Jadi kalau masih banyak salah dan kekurangan mohon dimaklumi ya. HEHE.

❄ S T Y LE / Writing

Novel ini pakai dua sudut pandang, yang pertama sudut pandang orang ketiga dan yang kedua sudut pandang orang pertama (Tom). Sebenarnya aku paling nggak bisa ngomentari style seorang penulis, karena kalau aku udah suka sama ceritanya, aku nggak begitu merhatiin stylenya dan malah tenggelam sama ceritanya…

But, aku selalu suka sama gaya penulisan novel terjemahan; enak dibaca, kalimat yang dipakai nggak seberaturan kalimat bahasa Indonesia tapi justru disitu daya tariknya, buatku. Percakapan-percakapan yang kayak nggak nyambung, tapi nyambung. #maksudlo

Mungkin karena itulah aku lebih suka baca novel terjemahan dan kurang suka novel lokal. Juga, narasi yang menjelaskan budaya di sana sama sekali nggak bikin aku terganggu karena berbeda jauh dengan budaya kita. Aku suka dan menerima banyak hal yang kutemui di dalam novel ini.

❄ P L O T

Kalau udah masuk bagian bahas plot. Fix, ini adalah hal pertama yang bikin aku berniat membaca bukunya sampai akhir dengan perasaan bahagia (buka halaman perhalaman tanpa tau waktu). Dari blurbnya, aku udah ngebayangin bagaimana kisah Billie dan Tom yang diramu oleh Musso. Dan itu bener-bener sesuai ekspetasi. Nggak nyesel jatuh cinta sama novel ini, plotnya bikin aku jatuh sejatuh-jatuhnya.

Sejujurnya aku (sebagai seorang penulis amatir) ini tipe yang suka dengan kejadian tidak terduga yang dialami tokoh dalam kurun waktu satu hari. Dan Musso memberikanku semua itu di dalam novel ini, membuatku membayang-bayang bagaimana kalau saja seandainya kehidupanku yang monoton ini bisa semengagumkan kisah Tom dalam waktu satu hari saja, meskipun hal terduga itu mengancam nyawa, tapi kayaknya seru. *daydreamer mode on*

“Aku benar-benar Billie Donelly. Aku benar-benar tokoh fiksimu dan percayalah, itu juga membuatku takut seperti halnya kau.”

Aku suka tiap-tiap kejutan yang Musso berikan, aku suka alurnya yang cepat dan detail. Meskipun terkadang aku lebih suka bagian yang penuh tantangan, novel ini mengalir dan banyak bagian yang adem-ayem namun penuh luka masa lalu yang bikin hati terenyuh.

❄ C H A R A C T E R S
     
Tom Boyd: Hei, Mastom. Aku sempet gereget sama dirimu karena patah hati sampai segitunya. Tapi, entah setelah terhipnotis oleh cara Musso mendeskripsikan hidupmu atau kisahmu sendiri memang menyedihkan, aku jadi mengerti kenapa kamu sebegitu terpuruknya.
Aku suka cara Tom memperlakukan dan berinteraksi dengan Billie (meskipun Tom tidak termasuk salah satu tokoh yang aku idolakan dari dunia fiksi) tapi Tom cukup bisa mengambil hatiku. Juga cara Tom mengasihi kedua sahabatnya, its so cute. Persahabatan kalian bikin aku iri. Hiks.

“Beberapa orang sangat pintar melakukannya: memulai hidup mereka kembali. Yang bisa kulakukan hanyalah meneruskannya.” – Tom (hlm. 437)

Billie Donelly: Kesan pertama kehadiran Billie adalah, aku langsung suka karakternya! Tipe cewek slengekan yang ceria, ceplas-ceplos dan menyebalkan dalam artian positif. Billie bagai angin segar yang membuat novel ini lebih hidup, karena karakter-karakternya yang lain begitu datar dan cenderung biasa saja, sementara Billie itu berwarna-warni, setidaknya itu yang aku pikirkan tentangnya.

“Ayolah, Tom, santailah sedikit. Untuk apa begitu cemas. Biarkan hidup memberimu hal-hal baik, dan jangan selalu takut kehidupan akan menyakitimu.” – Billie (hlm. 192)

Billie jugalah yang membuat hal-hal tidak terduga terjadi dan menggiring pembaca ke alur yang menyenangkan (secara kehadirannya sebagai tokoh fiksi yang jatuh dari buku aja udah tidak terduga). Pokoknya aku cinta banget sama karakter Billie.

Milo Lombardo: Yap, dia ini salah satu sahabatnya Tom. Bisa dikatakan dia itu manager-nya Tom, yang ngurusin segala macem hubungan antara Tom dan Penerbitnya. Milo berperan besar dalam promosi novel-novel Tom bahkan sampai keuangan Tom. Dan yang bikin Milo uring-uringan karena Tom kena writer’s block adalah mereka bangkrut. HA. Mau nggak mau, Milo harus lakuin apapun agar Tom mau menulis lagi.

Kesan pertama Milo tuh, dia kayaknya lebih berwarna dari Tom. Kalau Tom itu abu-abu, Milo hitam deh. Milo adalah karakter sahabat yang bikin pembaca pengen ngebandingin dia sama sahabat aslinya di dunia nyata. Meskipun bawel, Milo itu perhatian banget dan bikin gemes kalau udah berhubungan sama perasaannya yang sesungguhnya.

“Kau benar-benar ingin aku mengatakannya? Kalau dia benar-benar cinta dalam hidupmu, dia seharusnya berada di sini, hari ini, bersamamu, berusaha mencegahmu agar tidak menghancurkan diri sendiri.” – Milo ( hlm. 33)

Dia juga punya kehidupan gelap walaupun nggak segelap:

Carole: (aku nggak tahu nama panjangnya siapa, atau udah disebutin tapi lupa HEHE) Carole ini tipe cewek wonder woman. Dan dia ini bikin aku ngiri sama bagaimana dia berhasil bangkit dari hidupnya yang kelam dan sekarang menjadi seorang polisi wanita. Keren ya? Aku suka bertanya-tanya ketika lagi baca bagian Carole, gimana kalau aku juga sehebat Carole…

Yah, Carole adalah inspirasi, aku bahkan berharap dia itu nyata. Dan aku juga berpikir apa orang-orang negeri sana punya sosok yang benar-benar setegar ini.

“Carole menceritakan rasa bersalahnya, bagaimana dia harus menahan semuanya sementara dia ingin melemparkan dirinya ke bawah bus setiap hari ketika dia pulang dari sekolah.” (hlm. 365)


*Kumenangis*

❄ S H O R T A G E

Kurasa nggak ada, dan aku maunya nggak ada! HAHA. Karena udah jatuh cinta banget, jadi aku rasa novel ini sudah sangat memuaskan. Nggak ada typo ( kata aku), nggak ada plot hole atau semacamnya. Novel ini, perfekt! (terus ngapain ditulis? biarin aja suka-suka)

❄ S U P E R I O R I T Y

Tentu saja aku akan bilang plot adalah keunggulan novel ini. Serius, ceritanya bikin gereget dari halaman awal sampai akhir. Apalagi mendekati ending, bagian yang jadi ‘penyelesaian konflik’ bikin aku sampai mengumpat beberapa kali saking geregetnya. HEHE. Endingnya menurutku nggak ketebak, tapi masuk ke bagian ending, jujur aku kurang puas sama endingnya tapi cukup bikin aku mesem-mesem.

Aku juga sukaaaaa banget ide Musso, di mana dia menjabarkan tentang Billie –si Gadis Kertas. Dari mulai tinta di dalam tubuhnya, hydrogen peroksida (zat pemutih kertas) di dalam tubuhnya, hingga darah yang memiliki kandungan selulosa! (bikin flashback zaman SMA :3)

❄ F A V O R I T E  S C E N E

Aku suka bagian awal saat Billie dan Tom melakukan petualangan dari Los Angeles ke Meksiko demi memenuhi perjanjian mereka. Konyolnya Billie dan logisnya Tom bikin tiap kebersamaan mereka penuh dengan tawa dariku. Dan tentunya, saat puncak konflik di mana Billie melakukan sesuatu di depan Aurore yang diyakininya bisa membuat gadis itu kembali kepada Tom.
*saya kelepek-kelepek*

❄ F A V O R I T E  Q O U T E S


Karena dia terlahir sebagai orang kaya raya. Karena baginya, hidup adalah sebuah permainan, sedangkan bagi kita, hidup adalah perjuangan. (hlm. 33)

Tetapi, memangnya siapa aku ini hingga berhak menghakimi mereka? Bukankah aku sendiri juga menjadi salah satu dari orang-orang yang kubenci? (hlm. 40)

Billie tidak bisa berhenti bertanya-tanya dengan naif mengapa beberapa wanita mendapatkan banyak hal sejak mereka dilahirkan –kecantikan, pendidikan, kekayaan, bakat– sementara yang lain harus memulai hidup dengan begitu sedikit anugerah. (hlm. 74)

Dunia tidak memberimu hadiah apapun, percayalah. Kalau kau ingin punya kehidupan, curilah. – Lou Andreas Salomė

Kalau seni ada karena kehidupan nyata dirasa tidak cukup, mungkin ada saatnya ketika seni tidak cukup lagi dan satu-satunya kesimpulan logis adalah kegilaan dan kematian. (hlm. 109)

❄ O V E R A L L

Novel romance young-adult ini, yang seharusnya jadi kisah cinta dalam nan serius berhasil dibuat menjadi kisah petualangan kecil yang penuh cinta, luka, dan perjuangan. Aku nggak pernah terpikir sebelumnya bisa suka sama novel romance, tapi The Girl On Paper merubah segalanya. Aku suka semuanya yang ada di dalam novel ini.

Rekomended banget bagi kalian yang suka kejutan dan hal-hal yang diluar nalar, lalu.. jangan lupakan twist yang diberikan di novel ini. Aku jamin kalian bakal ketagihan baca karya Musso yang lain! (Sst, katanya sih, Penerbit Spring mau terjemahin karya Musso yang lainnya! *yeay*)

❄ S T A R S
Terakhir, aku kasih 5 dari 5 bintang untuk cerita yang luar biasa dari negeri paling romantis, Perancis ini.

Diberdayakan oleh Blogger.

Fav-Qoutes

"Kekuatan ada pada diri orang-orang yang tetap bangun dan menjalani setiap hari meski hal terakhir yang ingin mereka lakukan adalah hidup. Kekuatan datang dari senyum mereka yang bersedih, dari orang-orang yang telah kehilangan segalanya namun tetap bertahan." (Some Kind of Wonderful by Winna Efendi

"Billie tidak bisa berhenti bertanya-tanya dengan naif mengapa beberapa wanita mendapatkan banyak hal sejak mereka dilahirkan -kecantikan, pendidikan, kekayaan, bakat- sementara yang lain harus memulai hidup dengan begitu sedikit anugerah." (The Girl On Paper by Guillaume Musso)

“Dia akan pergi lagi. Dia akan pergi lagi dan lagi sampai umurnya cukup dewasa dan tidak ada lagi yang bisa mengirimnya pulang.” – hlm 363 (Little Fires Everywhere by Celeste Ng)