Tampilkan postingan dengan label POP Ice Cube. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label POP Ice Cube. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Agustus 2020

[RESENSI] Shadow and Bone Trilogy by Leigh Bardugo: August Fav-read!!

 

source: personal document @arthms12


Mungkin lebih daripada resensi, postingan ini aku khususkan buat bahas hal-hal mengenai series fantasy karya penulis favoritku ini aja ya. Pertama-tama mari kita kenalan dulu sama series pertama di Grishaverse, cikal bakal series-series luar biasa lainnya dari Leigh Bardugo.

Shadow and Bone adalah buku pertama dari series pertama Grishaverse dalam trilogi “Shadow and Bone”. Buku ini sempat diterbitkan di bawah naungan mizan group dulu, cuma mungkin karena nggak laku, lalu lisensinya kedaluwarsa(?) akhirnya bertahun-tahun kemudian series ini kembali dihadirkan lewat penerbit yang berbeda, yaitu POP & Ice Cube (bukan merek minuman, katanya).

Awalnya sebelum series ini diterbitkan, penerbit POP malah lebih dulu menerbitkan series Grishaverse kedua setelah S&B yaitu Six of Crows Duology yang memang lebih ‘populer’ saat itu dibandingkan kakaknya si S&B.

Anyway!! Aku bakal bikin resensi-semi-curcol tentang Six of Crows duology juga kok nanti setelah aku reread bukunya! Tungguin ya!

Back to topic:

Shadow and Bone terbit di Indonesia tahun 2019 dengan judul bahasa Indonesia-nya “Bayang dan Belulang”. Diterjemahkan oleh penerjemah favoritku, Reni Indardini (yang juga nerjemahin Percy Jackson Series, Heroes of Olympus Series, Six of Crows duology yang semuanya adalah buku favoritku haha), dieditori oleh Anida Nurrahmi, dan dengan jumlah halaman 380 hlm.

Shadow and Bone series adalah series pembuka untuk Grishaverse aka Grisha Universe (Dunia Grisha). Latar tempatnya adalah dunia fantasi, di negara bernama Ravka yang terinspirasi dari negara Rusia. Selain manusia biasa yang ada di sini, ada juga jenis manusia yang mempunyai kekuatan sakti. Mereka lah yang disebut dengan Grisha.

Grisha mempunyai 3 ordo utama yaitu Corporalki, Etherialki, dan Materialki.

1.      Corporalki (ordo denyut dan maut) dibagi lagi menjadi dua kemampuan yaitu: Pengoyak jantung dan Penyembuh.

2.      Etherialki (ordo pemanggil) dibagi menjadi tiga yaitu: pemanggil air, api, dan angin.

3.      Materialki (ordo fabrikator) dibagi menjadi dua yaitu: durast (besi kaca dkk) dan alkemi (ramuan).

Di dunia ini, anak-anak yang terlahir sebagai Grisha dikucilkan, dianggap penyihir, dijauhi, segala macem lah. Hanya Ravka yang mau menerima para Grisha. Di Ravka, para Grisha bisa hidup nyaman meskipun yah, kadang rasis juga. Bukan cuma itu, bahkan Ravka menciptakan serdadu tentara yang dianggotai oleh para Grisha yang disebut Tentara Kedua. Tentara Pertamanya manusia biasa ya guys.

Shadow and Bone sendiri bercerita tentang Alina Starkov yang merupakan salah satu Grisha yang langka pada masanya. Dia adalah seorang Pemanggil Matahari. Pemimpin Tentara Kedua, The Darkling –terjemahannya sang Kelam, tapi aku lebih suka The Darkling, yang mengetahui Alina merupakan seorang pemanggil Matahari lalu merekrutnya ke dalam Tentara Kedua.

Di Ravka saat itu ada semacam selubung bayangan yang memecah antara Ravka barat dan timur, dan tempat itu berisikan makhluk kejam seram pemakan manusia yang disebut volcra. Hanya Alina dan kemampuannya yang bisa membuat siapa pun selamat menyebrangi selubung. Sejak saat itu, The Darkling sangat terobsesi kepada Alina.

Untuk menghindari spoiler besar-besaran, mari kita lanjut ke buku kedua trilogi “Shadow and Bone” ini yang berjudul Siege and Storm (Takhta dan Prahara). Buku ini lebih tebal dari buku sebelumnya yaitu 450an halaman.

Di buku ini, kita bakal dipisahkan dari si villain kharismatik, The Darkling. Tapi jangan khawatir, soalnya di buku ini Alina dan Mal (dua heroes kita di series ini) bakal ketemu sama pangeran Ravka bernama Nikolai Lantsov. Berani taruhan kalian bakal langsung suka sama karakter Nikolai. Kalau nggak jadi pengen peluk gemes ya pasti pengen mukul HAHA.

Siege and Storm nggak sama kayak buku pertama yang lumayan bikin tegang sama plot dan konfliknya, menurutku di sini..cukup hambar. Nggak ada kejadian menarik (kalau Nikolai dianggap menarik ya berarti ada satu). Padahal aku suka banget sama kovernya yang cantik, paling cantik di antara ketiga buku, tapi isinya ada di urutan terakhir buatku.

Siege and Storm lebih menunjukan sisi characters development dari Alina dan Mal, hubungan mereka, strategi perang, dan segala macem persiapan menuju pertempuran di buku tiga. Bisa di bilang, buku kedua ini jembatan doang. Anyway, Mal adalah sahabat Alina sejak kecil, dia merupakan (mantan) anggota Tentara Pertama yang bekerja sebagai Pelacak.

Di buku ini, aku menemukan banyak review tentang betapa Mal nyebelin banget, yang menurutku nggak juga kok, emang sih Alina kesusahan sama situasi ini dan Mal terkesan egois kekanak-kanakan, tapi aku ngerti gimana perasaannya dan pada akhirnya, Mal juga berkembang. Salah satu character development yang aku sukai adalah karakternya Mal, kedua baru Alina.

Lanjut ke buku terakhir dari series ini yaitu Ruin and Rising (Runtuh dan Tumbuh). Di sini, segala yang seru-seru muncul. Setelah agak kecewa sama plot Siege Storm yang biasa aja, aku menemukan obat penawarnya di buku ketiga ini. Bukan cuma eksekusi akhir yang tegang, dari awal sampe akhir buku ini punya banyak hal yang menarik.

Dari mulai karakter-karakter yang tadinya cuma kenalan di buku dua, sekarang mereka jadi tim yang solid meskipun saling waspada satu sama lain, pertarungan, PLOT TWIST, dan tentu saja masih ada Nikolai dan bacotannya: kalian harus baca bagian Baghra (ibu The Darkling) yang galak kalau lagi ketemu Nikolai, ini bagian favorit banget, berharap ada banyak scene kayak gini huhu.

Eksekusi yang memuaskan jelas ada di Ruin and Rising. Aku suka gimana plotnya diatur sedemikian rupa, dialog-dialognya yang bikin betah, plot twist kurang ajar tapi aku suka. Pokoknya buku terakhir ini memenuhi ekspektasiku. Meskipun kadang aku merasa narasinya kurang nendang, kejadian-kejadian seru justru berasa dipotong pendek: meskipun berkesan tapi tetap kayak nggak penuh, kopong. Tapi tetap aku suka banget sama endingnya yang bahkan nggak aku sangka, padahal aku udah baca Six of Crows duluan yang latar waktunya setelah S&B berakhir, aku tetep aja nggak nyangka haha.

Kalau kalian menyelami lebih dalam ke setiap detail ceritanya, konflik di Shadow and Bone ini cukup kompleks dari mulai karakter-karakter yang luar biasa dan tentunya politik, apalagi dibalut dengan fantasi yang mungkin bakal bikin kalian butuh tenaga ekstra buat bayanginnya haha. Tapi tenang, ada banyak fanart di luar sana, hati-hati aja jangan sampe kena spoiler.

Karakter favoritku tentu saja Nikolai Lantsov, lalu Mal-Alina satu paket, yang ketiga sekaligus nomor satu (dari sisi villain) adalah: The Darkling, disusul oleh Genya Safin, dan sampai saat ini aku belum terlalu suka sama Zoya meskipun karakternya badass tapi menurutku lebih ke nyebelin haha.

Sebelum tulisan ini makin panjang, lebih baik kita akhiri saja, dan sebelumnya aku mau bilang kalau memang masih terasa ada kekurangan personal, menurutku sendiri, dari keseluruhan trilogi Shadow and Bone. Dibandingkan Six of Crows yang aku cinta setengah mati, series pendahulu ini agak kurang buatku, nggak seseru dan nggak sekuat kesan yang ditinggalkan Six of Crows. Tapi, series ini tetap worth to read kok! Jangan ragu buat mulai terjun ke Grishaverse! ;)

---

Buat kalian yang mau kenalan sama karya penulis favorit keduaku, Leigh Bardugo, dan mau ikutan jadi penduduk di Grishaverse kalian bisa baca sesuai urutannya, kayak gini ya:

1.      Shadow and Bone Trilogy: Shadow and Bone, Siege and Storm, Ruin and Rising

2.      Six of Crows Duology: Six of Crows, Crooked Kingdom.

3.      Nikolai’s Duology: King of Scars, Rule of Wolves.

Catatan: kalian bisa baca Six of Crows tanpa baca Shadow and Bone trilogy (kata Leigh sendiri), tapi kayaknya lebih asik baca Nikolai di Shadow and Bone dulu kalau kalian mau lanjut ke Nikolai’s Duology. Series pertama dan ketiga latarnya di Ravka, dan kayaknya masih sama-sama tentang kekuasaan soalnya aku belom baca KoS. Sedangkan Six of Crows berlatar di negara yang terpisah sendiri bernama Kerch, karakter yang berbeda, dan konflik yang juga berbeda meski masih sama-sama bertema Grisha.

Catatan lagi: Nikolai’s Duology belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sampai konten ini terbitkan di blogku.

 

 

 

 

Sabtu, 27 Juli 2019

[RESENSI] The Wrath and The Dawn by Renée Ahdieh (TwaTD #1)


Resensi The Wrath and The Dawn karya Renee Ahdieh

IG: @arthms12




Judul: The Wrath and The Dawn
Penulis: Renée Ahdieh
Penerjemah: Mustika
Penyunting: Katrine Gabby Kusuma
Penataletak dan Perancang Sampul: Deborah Amadis Mawa
Penerbit: POP Ice Cube (April, 2016)
Jumlah Halaman; 447 hlm.
ISBN: 978-602-6208-74-3

Blurb:

Khalid Ibnu al-Rashid, Khalif Khorasan yang berusia delapan belas tahun, adalah seorang monster. Dia menikahi perempuan muda setiap malam dan menjerat pengantin barunya dengan tali sutra saat fajar tiba. Ketika sahabatnya menjadi korban kezaliman Khalid, Shahrzad al-Khayzuran bersumpah akan menuntut balas. Gadis enam belas tahun itu mengajukan diri menjadi pengantin sang Khalif. Shahrzad tak hanya bertekad untuk bertahan hidup, tetapi juga bersumpah akan mengakhiri rezim sang raja bocah.

Malam demi malam, Shahrzad memperdaya Khalid, menceritakan kisah-kisah memikat yang membuatnya terus bertahan, meski tiap fajar bisa jadi merupakan saat terakhirnya melihat matahari terbit. Tetapi sesuatu yang tak terduga mulai terkuak: ternyata Khalid bukanlah sosok yang Shahrzad bayangkan. Sikapnya sama sekali tidak mencerminkan seorang pembunuh berdarah dingin. Mata emasnya memancarkan kehangatan. Monster yang ingin dilawan Shahrzad itu tak lebih daripada pemuda dengan jiwa yang tersiksa.

Dan Shahrzad mulai jatuh hati kepadanya...

----





WARNIng: Anda akan membaca resensi dari seorang fangirl fanrom aka fantasy-romance XD
Khalid, ya sekarang tiap mendengar atau membaca nama itu aku akan selalu halu wkwk. Seorang remaja 18 tahun, cakep, jago pedang, raja di Khorasan, dingin cuek bebek, kikuk, tapi MANIS banget! Siapa yang tipe bookboyfriend-nya mirip Khalid? Kalau aku, Khalid adalah tipeku BANGET!

Lalu ada Shahrzad atau yang panggilan sayangnya Shazi (biar gampang), cewek 16 tahun, cantik, tomboy, keras kepala, jago PANAHAN!!, ambisius, dan cerdas. Lagi-lagi, Shazi ini tipe heroin favoritku.

Dan dua tipe favoritku jadi satu di novel ini! Kebayang nggak, secinta apa aku sama kisah ini? XD
Kisah berawal dari perpisahan Shazi dan ayahnya karena hari itu Shazi resmi menjadi istri sang Khalif (raja) Khorasan, Khalid. Malam pertama mereka berlangsung biasa saja, tanpa gairah dari keduanya, tapi demi menyelamatkan nyawanya sendiri dari jerat tali sutra, Shazi menawarkan kisah Agib si pencuri, lucunya, Khalid menyukai kisah itu, sampai dia lupa bahwa fajar telah datang.
Shazi selamat, begitu pula malam-malam selanjutnya.

Terlalu banyak menghabiskan waktu bersama, selayaknya kisah cinta pada umumnya, membuat keduanya yang tadinya saling bersikap dingin, mulai mencair. Ketika Jenderal dan para bawahan Khalid memaksa ingin membunuh Shazi, Khalid justru menyelamatkannya.

Shazi telah memutus rantai pembunuhan itu. Khalid peduli padanya dan lambat laun Shazi pun goyah dari niat awalnya membunuh sang Khalif. Namun, satu hal yang tetap menjadi penghalang rasa cinta Shazi, yaitu apa sebenarnya alasan dibalik pembunuhan-pembunuhan itu.

Dia sering memaksa Khalid bercerita, tapi Khalid menolak, mereka akhirnya sering bertengkar. Sementara itu, sahabat sekaligus cinta pertama Shazi, Tariq, tengah menghimpun bala bantuan demi menyelamatkan Shazi yang memasukan diri ke kandang singa itu, sekaligus menyusun rencana untuk menggulingkan pemerintahan Khalid.

Untuk konflik, aku memang sudah pernah membaca cerita yang mirip dengan konfliknya, bisa dibilang cukup klise, toh memang katanya ini terinspirasi dari kisah 1001 malam. Raja yang membunuh para pengantinnya dan tiba-tiba salah satunya membuat dia jatuh cinta dan bum rahasia terbongkar.

Tapi, sebagai bucin penikmat romance, sungguh aku sangatttt menyukai bagaimana penulis membuat cerita ini HUHU aku SUKA banget! Dibuat baper, seneng, sedih, degdegan, geregetan, segalaaaa macem deh! T_T

Kemistri antara Khalid dan Shazi bercampur dua sifat yang paling aku sukai itu sukses bikin aku jatuh cinta, dapet banget feelnya, humornya juga. Shazi yang mulutnya pedes dan Khalid yang kadang kikuk tapi kece HAHA.

Gaya bahasanya, astaga, ENAK BANGET, gatau emang Renee nulisnya enak atau emang penerjemahnya yang OKE ABIS. Saking enjoynya baca buku ini, aku bener-bener baca pelan-pelan demi meresapi setiap detailnya tapi justru nggak bikin novelnya lama abis, sebaliknya malah cepet. 

Sampe-sampe buku ini jadi satu-satunya yang aku baca di tahun 2018 dan bikin aku bilang “Kok udah abis lagi sih?? Kok cepet sihh??”

Settingnya ada di timur tengah kayaknya ya, novel ini ada PETANYA loh! Dan aku suka bangettt novel yang ada petanya :D nama daerah-daerahnya memang asing, ciptaan penulis sendiri sih kayaknya tapi berhubungan dengan timur tengah dan beberapa kali disebut daerah Yunani gitu.

Novel ini juga seimbang antara narasi dan dialognya, tapi meskipun emang kadang banyak narasi, yha gitu, aku nggak bosan sama sekali T_T entah kenapa tapi menurutku narasi yang dibuat Renee itu kayak sihir yang bisa bikin betah dan enjoy selama baca, apalagi doi ini bisa banget deh bikin kalimat-kalimat menohok ataupun yang manisnya kebangetan! >.<

Apalagi ya? Kekurangan? Jelas menurutku NGGAK ada sama sekali HAHA. Aku cinta mati cerita fantasy-romance meskipun di sini romance lebih dominan. Kelebihan? Sudah kusebutkan semua kayaknya, ditambah satu lagi, kovernya yang megah dan cantik banget menurutku.

Overall, ya Tuhan aku cinta banget sama buku ini. Aku suka kisah cintanya yang sanggup bikin baper (oh ya, perhatian ini untuk 17+ yaa), aku suka karakter-karakternya, aku suka gaya bahasanya, aku..akuu..pokoknya semua hal-hal yang aku inginkan ada di novel fanrom, semuanya ada di sini huhu gimana yha. 1000 stars for TWaTD!!!

Quote(s)

“Tanpa tingkat kesombongan tertentu, bagaimana mungkin seseorang mau mencoba sesuatu yang mustahil?” – Despina (hlm 48)
“Tidak ada yang tidak akan kulakukan untukmu. Tidak ada yang tidak akan kupertimbangkan jika itu berarti membuatmu aman. Bahkan dunia harus takut kepadaku kalau dia menghalangi kita.” – Tariq (hlm 304)
“Masa lalu bersama tidak memberikanmu masa depan, sahabatku.” – Omar (hlm 336)
“Kehilangan adalah kehilangan. Dan pelajaran yang dipetik selalu sama.” – Omar (hlm 337)
“Balas dendam tidak akan mengembalikan apa yang telah hilang dariku.” – Khalid (hlm 384)
“Karena tidak ada apa pun, tidak matahari, tidak hujan, bahkan tidak pula bintang paling terang di langit gelap, yang mampu menandingi keistimewaan dirimu.” – Khalid (hlm 406)
“Aku mengerti betapa sulitnya menyerahkan hatimu ke tangan orang lain. Tapi, jika kau tidak melakukannya, bagaimana kau mampu benar-benar memahami seseorang?” – Shazi (hlm 410)



Sabtu, 23 September 2017

[RESENSI] Happiness by Fakhrisina Amalia



Judul: Happiness
Penulis: Fakhrisina Amalia
Penyunting: Rina Fatiha
Perancang Sampul: Teguh Tri Erdyan
Penerbit: Ice Cube/YARN – young adult realistic novel (2015)


Blurb:
“Berarti nggak masalah, dong, kalau Ceria masuk MIPA tapi ambil Biologi?”

“Bisa aja, sih. Tapi kalau kamu tanya Mama, tang banyak hitung-hitungannya itu lebih spesial. Nggak sembarang orang bisa, kan?”

Bagi Mama yang seorang dosen Matematika, hitung-hitungan itu spesial. Mama selalu membanding-bandingkan nilai rapor Ceria dengan Reina –anak tetangga sebelah yang pandai Matematika– tanpa melihat nilai Bahasa Inggris Ceria yang sempurna. Karena itu, sepanjang hidupnya Ceria memaksakan diri untuk menjadi seperti Reina. Agar Mama dan Papa bangga. Agar ia tak perlu lagi dibayang-bayangi kesuksesan Reina. Agar hidupnya bahagia. Ceria bahkan memilih berkuliah di jurusan Matematika tanpa menyadari ia telah melepaskan sesuatu yang benar-benar ia inginkan. Sesuatu yang membuat dirinya benar-benar bahagia.


Lima detik, izinkan aku menghembuskan napas panjang sebelum memulai resensi ini. Sejujurnya, aku udah nggak mau bahas novel ini, bukan! Bukan karena novel ini jelek, tapi karena aku terserang paranoid setelah bacanya HAHA.

Oke. Jadi, novel ini bercerita tentang Ceria yang tidak seceria namanya. Ceria nggak punya temen di sekolah, duduk di bangku belakang sendirian, dan Ceria paling nggak bisa yang namanya ngitung-ngitungan. Paling nggak bisa ilmu eksakta. Tapi dia sekarang ada di kelas Alam alias, kelas IPA.
Semuanya disebabkan oleh lingkup keluarganya. Mamanya seorang dosen Matematika, ayahnya yang meskipun dulu masuk jurusan IPS, tapi kuliahnya jadi akuntan serta abangnya yang masuk jurusan arsitektur. Kedua orangtuanya menuntut Ceria agar sama seperti mereka semua, terutama dengan cara terus membanding-bandingkan Ceria dengan teman satu kelasnya yang juga tetangga sebelah rumah bernama Reina yang sangat jago di bidang eksak.

Setiap hari, Ceria selalu dibantu belajar oleh abangnya, Farhan. Farhan adalah satu-satunya orang yang mengerti bahwa minat dan bakat Ceria tidak ada di bidang eksak, melainkan bahasa. Tapi Ceria bersikeras ingin membuktikan bahwa dirinya bisa, bahkan melampaui Reina, hingga Farhan tidak bisa menetang keputusan bulat adiknya dan hanya bisa membantunya.

Semua berubah ketika Farhan melakukan sesuatu yang dibenci oleh Ceria. Gadis itu menjauhi abangnya, dan mencoba belajar matematika sendirian. Tapi dia tidak bisa melakukannya bahkan setelah berusaha keras. Otaknya benar-benar tumpul ketika menghadapi rumus. Saat itu, munculah Doni, teman sekelasnya yang diam-diam perhatian kepada Ceria dan menawarkan bantuan.

Beberapa minggu menuju UN, Ceria rutin belajar bersama Doni pagi hari di kelas dan malamnya di rumah Ceria. Perjuangan Ceria yang bahkan sampai membuat Doni kewalahan karena lelah menunjukan hasil yang baik; Ceria mendapatkan nilai sempurna dalam UN-nya. Mengalahkan Reina. Orangtuanya sangat bangga padanya dan Ceria merasa ia sudah berhasil.

Namun, konflik lain muncul ketika ia kembali dipaksa untuk masuk jurusan Matematika saat kuliah. Ceria tidak mau, tapi dia masih terbayang euforia orangtuanya yang bahagia dengan hasil UN-nya dan memutuskan untuk mengambil jurusan Matematika. Farhan yang statusnya masih dimusuhi Ceria langsung menentang habis-habisan karena ia tahu, Ceria tidak akan mampu masuk jurusan Matematika.

Bahkan Doni sudah memperingatkannya: Matematika di kuliah beda sama Matematika di SMA. Tapi sayangnya Ceria tidak peduli, dia berpikir dia bisa jika mau lebih keras belajar. Orangtuanya mendukung seratus persen keputusan Ceria.

Hingga akhirnya setelah kembali privat bersama Doni, Ceria lolos di jurusan Matematika. Orangtuanya kembali bangga padanya, meski dia agak kecewa karena tidak bisa melihat hasil ujiannya, apalagi dengan Reina yang masuk universitas itu melalui jalur beasiswa tanpa tes.

Kehidupan Ceria saat mulai berkuliah jauh lebih parah dari sebelumnya. Masalahnya, dia sama sekali tidak mengerti apa yang dosennya bicarakan. Dia mual tiap kali melihat rumus-rumus di layar proyektor. Untuk mengerjakan tugas pun, Ceria masih memerlukan bantuan, sayangnya Farhan sibuk dengan tugasnya dan Doni juga, yang sekarang berkuliah di jurusan Teknik Informatika.

Kovernya menunjukan gambar seorang gadis yang terjatuh bebas, dan di situlah aku bisa merasakan bagaimana hancurnya Ceria ketika dia memutuskan untuk masuk di jurusan Matematika dan melupakan mimpinya di bidang Pariwisata serta Bahasa Inggris.

---

Matematika adalah hal yang Ceria benci, begitupula aku. Bahasa Inggris adalah hal yang Ceria sukai, tapi tidak denganku XD

Sejujurnya, novel ini adalah novel yang penuh dengan emosi dari awal sampai akhir. Aku bahkan sampai sudah membayangkan sepanjang apa resensiku nantinya, yang sedikit banyak menyelipkan curhatanku sepertinya hahaha.

Jadi, aku benar-benar benci orangtua tipe seperti ini, yang meskipun dalam dunia nyata, belum pernah kutemukan sama sekali .__. Tapi aku percaya mereka ada hahaha.

Selanjutnya, karena terlalu banyak unek-unek yang berhasil dimunculkan penulis di dalam otakku karena novel ini, aku memutuskan bikin poin-poin aja, takutnya kecampur aduk sama perasaanku yang gegana ini, jadinya malah berantakan XD

1)      Kover, Blurb dan Premis
Aku suka kovernyaaaaa! Sangat suka. Kontras sama judulnya, Happiness, dan bikin aku penasaran. Blurb, aku nggak tertarik sama sekali, karena premisnya jujur memang klise, tapi novel ini rekomen dari temenku, jadi aku baca. Mungkin untukku, dan terutama ini udah dua tahun kemudian, blurb seperti ini tidak menarik.

2)      Plot. Astaga. Suka. Banget. Memang premis yang sederhana bisa menciptakan sesuatu yang luar biasa kalau penulisnya pintar membuat plot. Aku terhanyut dalam setiap alurnya, ikut merasa kesal, sedih, kecewa, marah, campur aduk deh pokoknya.
Ada 3 bagian yang paling membuatku mengeluarkan emosi: ketika Farhan ternyata (...), ketika Ceria mengaku kepada orangtuanya dan endingnya.

(Aku juga ingin memprotes satu bagian, maaf kalau kesannya agak pribadi hahaha, memangnya, gak ada universitas negeri yang bagus di Palangka Raya sampai-sampai Ceria harus masuk univ swasta? Padahal kan, tahun 2015 udah ada SNMPTN? Kalau perlu keluar Kalimantan kan bisa? Demi gak usah tes lagi? Atau sekalian aja, kalau Ceria emang segenius itu di bahasa sampai bisa studi banding, dia harusnya udah ditawarin beasiswa kayak Reina, dan dia bisa ambil itu tanpa perlu mikirin orangtuanya toh dia nggak dibayarin uang kuliah?)

3)      Jadi itulah yang aku kesalkan dari karakter Ceria (padahal, terserah penulisnya lah mau bikin karakter dia jadi kayak apa kan? Hahaha) aku benci Ceria nurut sama orangtuanya, aku benci keputusannya untuk membuat orangtuanya bangga dengan mengalahkan Reina dan masuk jurusan mtk bla bla.

Farhan: so far, dia adalah abang terbaik yang pernah ada. Dia yang paling mengerti dan mendukung Ceria setelah Doni. Farhan bahkan menurutku, adalah arti sesungguhnya dari judul yang dipilih oleh penulis. Karena memang banyak flashback dan pelajaran hidup ngena yang diambil ketika Farhan dan Ceria berbincang. Ada satu hal yang jelas bikin aku benci banget Farhan (yang katanya peduli banget sama Ceria) tapi malah melakukan sesuatu yang sangat amat dibenci Ceria, yang bahkan aku sendiri nggak terima dia bisa-bisanya lakuin itu. (fyi, aku baca adegan ini di dalem bus kota dan hampir teriak saking keselnya, untung bisa tahan hahahaha)

Orangtua: you know lah.

Doni: i love him. Dia satu-satunya karakter yang menurutku tanpa cela. Sabar banget ngadepin Ceria dan ngajarin dia. Idaman lah.

Reina: gak ada yang salah sama dia. Tapi karena Ceria selalu menggambarkan Reina sebagai sosok antagonis dalam hidupnya, aku juga jadi ikut kesel. Karena tentu aja aku ada di pihak pemeran utama, bagaimanapun juga. Dan ketika kita dibandingkan sama orang lain itu rasanya nyebelin setengah mati. Betul? Otomatis kita bakal jadi benci sama orang itu meski dia gak salah apa-apa.

4)      Penulisan. Nah, nah, di bagian ini agak disayangkan. Bukan berarti jelek, tapi aku merasa kurang variasi dalam pembentukan kalimat. Novel ini menggunakan penulisan yang simpel dan sangat mudah dicerna. Aku bahkan bisa sambil dengerin musik DAN NYANYI ketika baca novel ini tanpa sedikitpun kehilangan konsentrasi esensi ceritanya.
Alasan ini pula yang bisa membuatku tahan untuk tidak menangis sesedih apa pun aku ikut merasakan alurnya yang brilian.

Kecuali di bagian Ceria mengaku kepada orangtuanya, kalimat muntah, sesederhana itu tapi bisa bikin aku nangis kejer hahaha.

Ah ya, dan aku juga gak menyelipkan qoutes ya di resensi ini karena alasan yang sama. Memang ada beberapa yang secara umum masuk sebagai qoutes dan bermakna dalam juga, tapi menurutku pribadi terlalu biasa hehe.

So far, buku ini juga rapi dan bebas dari typo. Cuma nemu satu kata yang kelebihan huruf T, but its okay, aku gak ambil pusing dengan cara mengabaikannya dan nggak nyatet kalimat apa halaman berapa.

5)      Terakhir, bebas mau diskip apa mo dibaca. Curhatan doang sih hahaha. Yang jelas setelah membaca novel ini aku berharap nggak ada lagi kejadian orangtua yang suka otoriter sama anaknya, biarkan setiap anak menuju impiannya masing-masing tanpa terbebani.

Dan juga bagi para anak, emang ngelawan orangtua itu dosa ya dan durhaka, tapi kalau sampai kayak gini, kita gak bisa diem aja. Ayo bergerak sendiri, Tuhan pasti bantu kita, yakin itu. Jika orangtua gak ngerestuin, serahkan aja sama Tuhan. Kalau kita nantinya sukses, justru nanti orangtua kita bakal sadar dengan sendirinya. Jangan kayak Ceria yang demi bikin orangtuanya bangga dan berenti bandingin dia sama Reina, dia nyiksa dirinya sendiri. Juga karena kemungkinan aku ini termasuk jiwa pemberontak, makanya kesel aja Ceria bersikap kek gitu :)

Lalu, aku cukup paranoid ketika selesai membaca buku ini, terutama ketika Ceria harus menghadapi UTS dan UAS. Sejujurnya, aku salah satu yang merasa salah masuk jurusan hahaha. Aku kuliah jurusan Sastra Inggris, hal yang diinginkan Ceria (tambah ironi kan? hiks) dan kenyataan bahwa aku gak bisa berenti dari jurusan ini karena aku gak mungkin ngelepasin beasiswa.....hahaha. (inilah alasan kenapa aku gak mau bahas novel ini dan pengen cepet lupain Happiness, maaf kak Fakhrisina, bukannya nggak suka, tapi aku takut kebayang terus dan malah berdampak buruk buat kuliahkuL)

6)      Overall!! Wuuuhu! Aku SUKA BANGET ceritanya, feelnya, alurnya, kovernya, dan kukasih 4 bintang buat Happiness. Kenapa gak lima? Aku belum bahas ending kan? Nah, endingnya adalah bagian paling aku benci hahahaha. Aku gak rela. Aku gak terima. Aku gak suka. Jadi aku mau simpen satu bintangnya buatku sendiri, karena harus memikirkan endingnya untuk diriku sendiri. Sejujurnya, aku tuh gak bisa diginiin!! Tapi apa mau dikata hahahaha.

Panjang ya? Hehehe. Untuk novel yang bikin aku gereget sih, segini belum apa-apa. Tapi jariku juga butuh istirahat. Paling terakhir, ada funfact tentang aku dan penulis novel ini:


Kami sama-sama bersaing di lomba menulis Ellunar Publisher tahun 2015 tema Amnesia. Dulu aku belum tau Fakhrisina tuh siapa karena emang gak pernah denger novelnya. Ternyata setelah hasil pengumuman juara keluar, Kak Fakhrisina ini menang juara pertama dengan cerpennya yang berjudul Dear Lalita. Sementara aku keluar sebagai juara kedua dengan judul Nocturne Op.9 HEHE. Mulai dari situ, kepoin Kak Fakhrisina dan ternyata memang doi udah jadi penulis beneran! Baru kesampaian sekarang baca novel beliau. Sukses selalu untuk Kak Fakhrisina, salam kenal dari aku :)
Diberdayakan oleh Blogger.

Fav-Qoutes

"Kekuatan ada pada diri orang-orang yang tetap bangun dan menjalani setiap hari meski hal terakhir yang ingin mereka lakukan adalah hidup. Kekuatan datang dari senyum mereka yang bersedih, dari orang-orang yang telah kehilangan segalanya namun tetap bertahan." (Some Kind of Wonderful by Winna Efendi

"Billie tidak bisa berhenti bertanya-tanya dengan naif mengapa beberapa wanita mendapatkan banyak hal sejak mereka dilahirkan -kecantikan, pendidikan, kekayaan, bakat- sementara yang lain harus memulai hidup dengan begitu sedikit anugerah." (The Girl On Paper by Guillaume Musso)

“Dia akan pergi lagi. Dia akan pergi lagi dan lagi sampai umurnya cukup dewasa dan tidak ada lagi yang bisa mengirimnya pulang.” – hlm 363 (Little Fires Everywhere by Celeste Ng)