Minggu, 30 April 2017

[RESENSI] Running Romance by Astri Kumala

“Setelah mendapat petunjuk, kau harus menemukannya sekarang juga! Atau kau akan kehilangan kesempatanmu untuk menang.”






Judul: Running Romance
Penulis: Astri Kumala
Editor: Cicilia Prima
Desain kover: Chyntia Yanetha
Penata isi: Yusuf Pramono
Penerbit: Grasindo (2017)
Jumlah halaman: 138 hlm



Blurb

“Kalau begitu kau akan bermain seperti di Running Man!”

***

Bagi Tae-Ho, perayaan seratus hari hubungannya dengan Ji-Ae sangatlah penting. Sepenting menyelamatkan hubungannya dari ancaman Yun-Woo, seorang murid pindahan yang sok keren dan selalu mencuri perhatian Ji-Ae. Di sela permainan Running Man-nya, Tae-Ho berusaha menyingkirkan Yun-Woo dari benang merah yang sudah melilit kelingkingnya dengan sang gadis pujaan.

Sementara bagi Ji-Ae, hubungan Tae-Ho dan Ha-Neul sudah lebih dari sekadar hubungan tetangga. Bahkan gadis itu mengaku ingin menikah dengan Tae-Ho. Hingga akhirnya dia membuat perjanjian yang mempertaruhkan hubungan cintanya sendiri.




Well, gaises, siapa yang udah ikutan sesi ObrolinBuku dan giveaway novel ini di instagramku?? Sekarang kita bahas novel lokal korea pertama yang aku baca ini yaaa. Siapa sih pecinta korea yang nggak tahu Running Man? Salah satu variety show korea yang terkenal dan kocak. Selalu ada aja tantangan konyol yang bikin perut terkocok.

Meski bukan penggemar berat RM, aku suka nonton setiap ada kesempatan. Apalagi waktu masih ada Joongki Oppa. Pertama kali lihat kover novel Running Romance, membuat Korean-lovers manapun pasti langsung mengingat Running Man. Dan dari segi judul, aku langsung tertarik dengan novel ini.

Kedua, kover. Ya! Aku menemukan lagi salah satu garapan Kak Chyntia Yanetha! And I adore this so much :) Eye-catching dan sesuai dengan isi. Hanya saja ada satu kekurangan, sosok cewek di kover depan itu pasti Ji-Ae kan ya? Nah, tapi di novelnya, Ji-Ae itu rambutnya panjang. Hiks.

---

Writing

Aku kurang puas dengan bagian gaya bahasa Kak Astri, rasanya kurang pemilihan diksi, kurang permainan kata-kata, dan jauh dari kesan korea. Yah, tapi yang terakhir aku nggak begitu mempermasalahkan karena bagaimana pun juga, ini kan novel lokal. Tapi alangkah baiknya kalau penulis agak ‘meniru’ gaya bahasa yang dipakai di novel-novel terjemahan korea :)

Terlepas dari itu, penulisannya rapi dan mengalir. Cepat dan to the point, aku nggak dibuat bosan karena memang tidak ada narasi monoton, mungkin juga karena memang novelnya yang cukup tipis. Tapi aku membayangkan juga, seandainya lumayan tebal, novelnya akan tetap asik kok ;)

Characters

Ini bagian oke nomor dua! Memang pemilihan karakternya umum dan tidak ada yang unik, tapi aku suka penggambaran karakter yang pas dan tingkah laku yang sesuai dengan umurnya. Nggak lebay dan realistis. Hanya saja, aku merasakan bahwa karakter mereka sangat Indonesia sekali XD

Juga dari beberapa dialog yang memang masih terbawa kelokalannya. Tapi sama sekali nggak mengganggu kok, ceritanya tetep keren!

Plot

The best part of the novel. Penggemar korea itu emang imajinasinya unik-unik yaaaa! *nunjuk diri sendiri* Yah, mungkin juga karena pengaruh drama-drama korea yang bagus, mendorong imajinasi penggemarnya juga. Dan I love this plot so much, seriously :)

Aku suka cerita yang penuh tebak-tebakan, aku suka plot yang mengundang penasaran tentang apa yang akan terjadi, dan aku menemukan semuanya di novel ini. Kejadian-kejadian yang terjadi pada karakternya nggak pernah bisa kutebak. Kejutan-kejutan yang ‘sederhana’ tapi keren!
Salah satunya ketika scene di mana Ji-Ae harus membuat perjanjian dengan Ha-Neul yang mempertaruhkan hubungan cintanya sendiri.

Shortage

Aku memang memberikan beberapa di atas, tapi ada satu kesalahan yang benar-benar membuatku terganggu.

“Tae-Ho yang tidak dapat lagi dapat menyembunyikan emosi, …” – hlm 86

Selebihnya nggak ada:)

Fav-scene

Sebenarnya banyak! Tapi yang paling berkesan adalah endingnya :))) Aku jadi suka banget dengan karakter Ji-Ae yang cerdas. Mengikuti Tae-Ho yang dibodoh-bodohi Ji-Ae, aku justru dengan santai mengikutinya, dan terjebak sendiri dengan penyelesaian yang disuguhkan. Unpredictable, dan penulis berhasil membuatku nggak bisa menebak ke arah situ meskipun jelas-jelas hal itu tidak dilewatkan.

Fav-qoute

“Tenang saja, Ji-Ae~ya. Hujan tidak akan membuatmu sakit kalau kau yakin kau tidak akan jatuh sakit.” – hlm 39

OMG TRUE! (Berhubung aku suka hujan-hujanan dan nggak pernah sakit karena itu)

“Hujan mampu melepas semua masalahmu.” - 40

(Sebenarnya dari sini, sampai akhir, aku tidak menemukan alasan Tae-Ho yang sebenarnya mengapa dia menyukai hujan .__.)

“Kata orang, jika tangan seseorang terasa hangat, berarti seseorang itu juga memiliki hati yang hangat.” – hlm 106

“Kemungkinan hanya akan menjadi awal dari kekecewaan.” – hlm 120

---

Overall, cerita K-fiction lokal pertama yang kubaca ini keren! Dan aku jadi makin penasaran dengan K-fiction yang lain terbitan penerbit Grasindo. Ditunggu karya selanjutnya Kak Astri, semoga sukses selalu dan, salam sastra :)


Senin, 17 April 2017

[RESENSI] The Bond by Eve Shi

dok.pribadi



Judul:  The Bond
Penulis: Eve Shi
Editor: Prisca Primasari
Proofreader: Tharien Indri
Designer sampul: Dwi Anissa Anindhika
Penata letak: Gita Mariana
Penerbit: Twigora (2016)



Blurb:

Aku akan memberitahumu sebuah cerita yang membuatku sangat tidak nyaman. Semuanya dimulai ketika aku menemukan sejumlah kaset peninggalan mendiang Mama. Mendengar kembali suara orng yang seumur hidup kau cintai menghangatkan hati dan jiwamu. Tapi yang aku temukan tak hanya itu. Mama bilang, ada sesuatu yang mencurigakan tentang rumah yang sedang aku tempati ini. Sesuatu yang belakangan membuatku terlibat dalam urusan masa lalu yang belum tuntas.

Sepanjang cerita ini, aku akan menyebutkan sejumlah karakter; ada yang penting, dan ada juga yang hanya selewat lalu. Ada yang membuatku berdesir hangat, ada juga yang berniat menikamku dan mewarnai akhir cerita ini dengan lumuran darah.

Di situ jugalah letak masalahnya: aku benar-benar tak bisa membedakan mereka….



(attention: mohon maaf kalau ada beberapa kalimat yang mungkin termasuk spoiler, nggak maksud ._.v)

The Bond, adalah novel horor Indonesia kedua yang aku baca setelah Danur (mungkin? Lupa juga sih). Ada dua hal yang membuatku suka (pada pandangan pertama) kepada suatu buku, yaitu kover dan sinopsis. Jujur, aku nggak begitu suka dengan kover The Bond meski cocok sama ceritanya sih, kuno, rumah Belanda, dan cermin yang meski disebut hanya sekilas.

Tetapi dari sinopsisnya, sumpah, keren pake banget!

Novel ini bercerita tentang Nina, seorang freelance designer yang ditinggal mati ibunya. Di rumah mendiang ibunya, dia menemukan empat kaset di dalam lemari. Di dalam kaset itu ada rekaman suara seorang gadis muda, bernama Shava, yang tidak lain tidak bukan adalah ibunya sendiri ketika masih muda.

Selagi mendengarkan rekaman itu, Nina mempunyai beberapa masalah. Dia tertipu proyek kerjaannya, rumah ibunya yang akan dijual juga sebuah rumah Belanda turun-temurun yang juga tidak lagi Nina butuhkan.

Ternyata, isi rekaman itu adalah kisah masa lalu ketika Shava tinggal di rumah Belanda, yang diwarnai banyak kejadian mistis, mengundang Nina untuk menyelesaikan masalah yang belum tuntas.

Maka Nina pergi ke rumah Belanda itu, mencoba menguak kebenaran lewat rekaman suara ibundanya..

---

Bicara soal rumah Belanda yang berhantu, hal ini sudah sangat umum kuketahui. Dulu, ketika aku tinggal di kompleks pinggiran Bandung, kisah soal rumah Belanda ini sangat terkenal karena berhantu. Aku dan teman-temanku sibuk sendiri jika melihat rumah Belanda dari jauh sambil berkata: “Itu tuh, rumah Belanda!”

Aku sih dulu cuma pura-pura ngeliat biar keliatan keren (abis jaraknya jauh banget). Pernah juga kami main ke sana, rumah Belanda itu terletak di tengah-tengah sawah, dan diapit beberapa bangunan konstruksi besar. Biasanya setiap pulang dari sana, kami selalu membual bahwa kami melihat sesuatu. WKWK.

Rumah Belanda milik Nina berbeda, rumah ini terletak di perumahan biasa di kawasan Bogor dan tidak terkucil seperti di ceritaku dulu. Penggambaran penulis soal rumah kuno ini cukup bagus dan aku bisa dengan mudah membayangkannya, terutama settingnya berlatarkan tahun 1989 dan sekarang.

Awalnya, aku cukup heran karena sudut pandang di sini menggunakan sudut pandang orang ketiga dari sisi Nina (sekarang) dan Shava & Daven (th 1989). Kupikir, Nina akan menjadi tokoh utama dari novel ini, tapi menurutku yang jadi tokoh utama itu adalah Shava dan Daven.

Meski Nina yang hidup di masa sekarang dan didapuk menyelesaikan masalah yang belum tuntas, peran Shava dan Daven lebih menonjol karena mereka hidup di mana konflik terjadi.

Rekaman suara itu berisi curhatan Shava tentang keseharian mereka berdua di rumah Belanda yang mulai dipenuhi mistis. Sebagai penggambarannya, dibuatlah POV dari sudut pandang Shava dan Daven.

Mereka berdua adalah kakak-beradik. Shava yang saat itu baru saja di-PHK dan Daven yang gagal masuk kuliah setelah lulus SMA. Shava lebih aktif ketimbang adiknya yang sering mengurung diri karena minder. Lalu seorang orangtua tunggal, ibunya mengalami kesulitan di usahanya dan membuat mereka terpaksa tinggal di rumah peninggalan nenek moyang Shava.

Jujur, silsilah keluarga Shava sampai ke Nina membuatku agak bingung. Kehadiran Oma Detta sebagai pemeran pembantu adalah hal yang paling membuatku pusing (entah akunya emang lagi nggak konek), yang jelas beberapa kali aku harus bulak-balik halaman depan untuk memastikan, siapa sih Oma Detta itu dan dia berasal dari pohon keluarga yang mana. HAHA.

(Psst, aku sampai buat bagan keluarga mereka di selembar kertas!)

Karena ini novel horor, tadinya aku berpikir akan menemukan gaya bahasa yang rumit, dan mengajak pembaca untuk berpikir dua kali tentang plot-twist atau semacamnya, tapi aku tidak merasa begitu. Gaya bahasa yang dipakai lancar jaya, membuatku menikmati lembar demi lembar yang disajikan.

Secara keseluruhan, plot yang dipakai sangat menarik. Aku juga terkejut ternyata Daven yang pemurung itu bisa dengan ‘cepat’ berteman dengan hantu hanya karena sentuhan-sentuhan kecil yang seharusnya bikin merinding.

Yeah, konflik yang terjadi di sini adalah bahwa rumah Belanda menampung dua orang hantu. Saudara sepupu bernama Eira dan Taruna. Yang lambat-laun menghantarkan Shava dan Daven untuk menggali kebenaran tentang mereka berdua. Serta kejanggalan yang pernah terjadi pada satu setengah tahun yang lalu oleh dua keluarga di daerah tempat mereka tinggal.

---

Untuk karakter, Nina sebenarnya tidak begitu penting menurutku, apalagi tentang jati dirinya di masa lalu. Sampai sekarang aku belum ‘ngeh’ apa maksud penulis untuk membuat hubungannya dengan Shava (ibunya) seperti itu. Dia juga hanya penting di akhir cerita.

Shava berperan lebih banyak. Ketika Daven justru menganggap hal mistis yang ada di sekitarnya sebagai suatu yang tidak perlu ditakutkan, Shava diganggu Taruna, yang mana efek cerita horor ini lebih nyata karena Taruna bukan hantu yang baik seperti Eira (namun Taruna hanya muncul dikit banget -_-)

Untuk Daven, yah, aku agak sangsi ini novel horor atau novel romance? Tapi setelah melihat bab ‘afterword’di akhir, aku tahu kisah ini terinspirasi dari kisah nyata di bumi bagian lain. Aku kecewa berat dengan karakter Daven, secara pribadi. Dia ini punya kisah yang hampir sama denganku: gagal dalama ujian Sipenmaru (sistem penerimaan mahasiswa baru) kalau sekarang namanya SNMPTN/SBMPTN.

“Dia mencurahkan segenap upaya dan pikiran demi niat itu. saat upayanya terjegal, bisa jadi batinnya terguncang. Lantas dia malu mengakui kekecewaannya.” – hlm 34

Jujur, aku sempat nangis ketika penulis menggambarkan kenelangsaan Daven yang ini, merasa aku punya teman. WKWK.

Yang membuatku kesal sama Daven adalah bahwa dia jatuh suka sama Eira. Um, yah, agak, wah! Apa-apaan nih, stres-boleh-bego-jangan, gituloh. Masa iya suka sama hantu? Hubungan yang memang aneh yang juga memang pernah aku dengar.

Dan yang lebih parahnya lagi, Shava setuju soal kedekatan Daven & Eira karena itu memberikan dampak positif bagi Daven (dia jadi nggak pemurung lagi dan mulai ceria) but, aku tetep kayak, are u serious? Apa Shava nggak pernah mikir panjang kalau bisa aja Daven dicap gila sama warga atau yang lebih buruk, diajak mati biar bisa sama-sama Eira selamanya?

Tapi sekali lagi, cerita ini terinspirasi..hm

---

Semakin ke belakang, rahasia kematian Eira dan Taruna perlahan terungkap. Dan hal itu termasuk ‘wow’ banget. Aku suka. Lama-kelamaan Taruna jarang muncul lagi, kejadian mistis yang bikin merinding hilang di masa-masa Shava. Sebaliknya, kejadian mistis di masa Nina mulai muncul sejak dia bisa menguak apa yang terjadi di masa lalu ibunya.

Hal. 195 aku baca saat itu hampir pukul 12 malam dan aku nyaris menjerit (untung masih bisa kutahan), langsung aku tutup novel ini karena mau lanjut baca juga takut nggak bisa tidur karena kepikiran. Horor banget! Scene mistis paling hebat yang ada dalam keseluruhan novel ini!

Diceritakan bahwa Daven meninggal jauh sebelum Nina lahir, dan bahkan membaca POV dari sudut Shava dan Daven juga membuatku agak merinding karena di masa sekarang, mereka berdua sudah meninggal.

Daven sendiri meninggal karena terpeleset dan jatuh ke kolam, kepalanya membentur tegel yang keras. Kematian Daven inilah yang coba diungkap oleh Nina. Serta beberapa fakta tentang Eira dan masa-lalunya yang masih ‘mengikuti’ dia hingga ke rumah Belanda.

So, kisah ini memang Happy Ending buat Daven (rasanya pengin teriak ke muka Daven: selamat Bang! Bisa sentuh-sentuhan sama Eira! *saking keselnya*). Aku pokoknya gemes banget sama endingnya Daven, aku suka ending yang happy, but harus di jalan yang ‘benar’ juga. WKWK *ngomong apasih lu ci*

Tapi ini jelas bukan happy ending buat Shava. Setelah kembali ke masa sekarang di sudut Nina, ketegangan mulai kembali dan plot-twist yang ‘mendadak’ muncul membuatku terkesiap sambil bilang ‘wow!’ cukup masuk akal dan genius! Kenapa aku bilang mendadak? Karena aku memang nggak menemukan sedikit pun ‘clue’ yang membuatku bisa berpikir: ‘oh iya ya, kan di bab segini si itu gini’.

Overall, aku tetep suka! Dari Danur sampai The Bond, kesanku soal novel horor Indonesia tinggi-tinggi. Dan pastinya nggak bakal ilfeel deh baca novel horor lokal lagi kedepannya. Dan salah satu yang aku sukai dari novel ini adalah banyaknya kata-kata baru yang kutemukan.

Lalu ada lagi, aku menemukan satu umpatan kasar dari bahasa Inggris yang cukup buat aku kaget di halaman-halaman awal. Jujur, aku bukannya munafik bilang nggak terbiasa dengan kata itu:) tapi aku juga pernah membaca dari ulasan-ulasan di goodreads ataupun dari editor di sosmed kalau kata-kata semacam itu nggak pantas lolos untuk novel yang notabene lewat penerbit mayor. But, cuma 1 doang kok! Its okayyyy!

Big thanks banget buat penulis, aku jadi punya pembendaharaan yang lebih kaya lagi~ (aku catat di notes ponsel). Aku kasih 3.75 dari 5 bintang untuk The Bond :)

“Come out a clear winner and say, screw it all, I’m a survivor!” – hlm. 183

Kamis, 06 April 2017

[RESENSI] So I Married The Anti-Fan by Kim Eun Jeong

“Dia itu bagaikan mimpi buruk. Selalu menimbulkan masalah.”





Judul: So I Married The Anti-Fan
Penulis: Kim Eun Jeong
Penerjemah: Putu Pramania Adnyana
Penyunting: Nyi Blo
Proofreader: Dini Novita Sari
Ilustrasi isi: Frendy Putra, @teguhra
Cover: Chintya Yanetha
Penerbit: Haru Media ( cetakan ke-3 2016)
Jumlah halaman: 525 hlm



Blurb:

Aku tinggal dengan idola paling terkenal se-Korea. Tapi.. Aku adalah antifan-nya.

H, salah satu bintang pemicu hallyu wave akan tinggal dengan antifan-nya dalam sebuah variety show.

Mr. H: Tentu saja aku bisa menangani antifan-ku. Aku ini pria yang penuh dengan kejutan.

Ms. L: Sebagai antifan-nya, aku akan membuka semua rahasia busuknya. Lihat saja nanti.

Begitu berita itu keluar, para fans Mr. H segera membentuk pertahanan untuk melindungi idolanya.

Dan jika Ms. L melukai Mr. H barang sedikit pun maka mereka tidak segan-segan untuk bertindak.



Siapa yang suka korea???

Sebagai pecinta korea baik drakor/kpop or whatever, belum lengkap dong kalau nggak baca novel asal negeri ginseng sana. Iya kan??

Bahkan, sebelum benar-benar suka baca novel, aku itu awalnya udah suka duluan sama hal berbau korea. Semua bermula karena Endless Love yang sering kakakku tonton. *kakak berkuasa, yang pegang remot*

Sampai sekarang aku memang masih menyukai Korea.  Khususnya drama korea dan soundtrack-nya. Playlist ponselku isinya lagu korea semua, bahkan di laptop pun paling banyak file lagu korea XD

Kalau untuk kpop, aku sebenarnya pernah suka beberapa girlband dan boyband, tapi nggak sampai fanatik bangetlah, sebatas suka aja. Boyband terakhir yang kusukai adalah EXO. Di SMA ketemu temen yang sama-sama suka EXO yauda deh jadi ngebiasin mereka. Sekarang sih biasa-biasa aja meski masih follow Chanyeol XD

---

So I Married The Antifan bercerita tentang seorang wanita muda bernama Lee Geunyong yang bekerja sebagai reporter. Suatu hari, Geunyong bersama rekan kerjanya disuruh untuk mendatangi sebuah launching Klub Benny milik seorang rapper bernama JJ. Sebenarnya dia malas untuk menerima job itu karena ingin berlibur tahun baru.

Tanpa disangka, pekerjaan itulah yang membuat dia bertemu dengan Hujoon, seorang artis tampan yang merupakan rekan dari JJ. Konflik dimulai ketika Geunyong memutuskan untuk mabuk karena kesal dengan pekerjaannya, lalu dia melihat Hujoon sedang berbicara dengan seorang gadis.

Tentu saja Geunyong menganggap hal itu sebagai keuntungan karena bisa menyaksikan langsung informasi pribadi seorang artis. Sayangnya saat itu dia agak mabuk. Yang dia ketahui selanjutnya adalah bahwa Hujoon memperlakukan gadis itu dengan kasar.. tentu berita buruk untuk kariernya kalau sampai publik mengetahuinya, bukan?

Hal tidak terduga lainnya adalah Geunyong harus mengalami kesialan karena berurusan dengan Hujoon. Akibat mabuk, dia tidak sengaja muntah di sepatunya Hujoon. Lalu untuk kedua kalinya, Geunyong harus muntah di mobil Hujoon. Tentu saja itu membuat Hujoon kesal, double kesal, dan dia menunjukan hal itu dengan cara mengabaikan permintaan maaf Geunyong.

Diperlakukan seperti itu oleh public figure, tentu saja Geunyong merasa kesal. Dia malah membocorkan apa yang dilihatnya di dalam klub ketika Hujoon memperlakukan seorang gadis dengan kasar.

Mulutmu harimaumu, pepatah yang tepat untuk Geunyong setelah kalimat itu terlontar dari mulutnya. Dia dipecat dari pekerjaannya. Dan itu semua karena Hujoon..

Lalu, dimulailah Klub Anti-fan Resmi Pertama, Lee Geun Yong.

---

Drakor banget! Bagi kalian yang suka nonton drama korea, nggak ada salahnya coba deh baca buku yang berasal dari korea. Yang jelas lebih kerasa aja feel-nya, terus kita bisa bayangin sesuka hati tokoh utama cowoknya! *yes bisa bayangin bias*

Sebenarnya, K-Iyagi pertama yang kubaca itu sama-sama tulisannya Kim Eun Jeong, judulnya Cheeky Romance. Aku juga udah pernah baca My Boyfriend Wedding Dress, kecuali yang terbaru, Puzzle of Lies. Dari ketiga novel karya KEJ itu, aku paling suka yang Cheeky Romance.
Lebih kocak! Suka banget, bikin baper juga. Mwahaha XD

Jadi entah kenapa karena mungkin Cheeky Romance ditulis setelah SIMTA, aku jadi kurang nge-feel sama SIMTA. Ceritanya sih bagus, banget malah, cuma udah kekalahin aja sama CR.

Drama korea kan terkenal dengan ‘kejadian-tidak-terduga’-nya. Salah satu yang aku sukai khasnya korea. Ternyata dalam bentuk novel pun sama, aku masih suka ketawa sambil geleng-geleng kepala kalau liat scene yang nggak abis pikir. Antimainstream dan belum pernah sekalipun aku lihat di novel-novel romance lokal.

Geunyong memang punya karakter cewek kebanyakan. Dia agak petakilan dan galak. Tapi dia juga manis kalau lagi jinak. Dipasangkan dengan si artis sombong; Hujoon. Meski di depan kamera dia selalu tampak sempurna, Hujoon ini punya sifat asli yang nyebelin tingkat Zeus. Arogan, seenaknya sendiri, tukan remehin orang lain. Tapi bukan tanpa alasan seseorang punya sikap buruk, bukan?

Dia memang nyebelin tapi KEJ bisa membuatnya mudah dicintai dengan susunan kalimat indah dan hal-hal yang terjadi khususnya ketika berurusan dengan Geunyong. Bukannya bikin pembaca ikut kesel seperti Geunyong, justru mengundang tawa.

Aku selalu suka bagaimana alur cerita dari korea yang mempertemukan dua tokoh utamanya dengan unik, atau hubungan antara mereka berdua yang nggak pernah terpikir sebelumnya.

Lalu aksi konyol keduanya saat membintangi variety show So I Married The Antifan membuatku ngakak. Selama ini nonton drakor, romcom asal korea memang terbaik! Aku suka scene saat Geunyong harus nyetir mobilnya Hujoon. Pokoknya selama variety show berlangsung, nggak ada hentinya Hujoon bikin Geungyong sial.

Scene lain favoritku adalah ketika Hujoon harus syuting iklan bir. Yatuhan ngakak banget sama kelakuan Geunyong yang tadinya mau balas dendam malah gagal. XD

Lalu Geunyong yang dipecat dan juga diusir dari indekosnya, terpaksa tinggal di apartemen Hujoon yang dipakai sebagai tempat syuting. Dan pastinya lama-lama Hujoon tahu hal itu. Menghabiskan waktu yang cukup lama dan dekat, tentu membuat perasaan Hujoon dan Geunyong berubah. Mereka berbagi cerita dan akhirnya mulai mengenal satu sama lain.

Setelah semua yang manis-manis ala romcom korea, tentunya kurang afdol kalau masa lalu nggak diangkat sebagai konflik kan? Dalam perjalanan mereka berdua, lama-kelamaan Genyong tahu kalau Hujoon punya seseorang yang sangat berarti untuknya.

Aku sebenarnya nggak suka banget sama konflik orang ketiga, tapi untungnya si cewek itu adalah masa lalu Hujoon, meski Hujoon masih menyayanginya, semua sudah telambat karena cewek itu udah jadi milik orang lain. Tapi cewek itu, In Hyong, sempat juga mengusik perasaan Geunyong.

Hujoon dan cinta masa lalunya yang cukup menyedihkan menurutku, juga ada Geunyong dan keluarganya. Mereka masih menolak kehadiran ‘perasaan’ itu dan masih kayak Tom and Jerry. Lambat-laun, dari romcom yang mengundang tawa, datang juga saat-saat romantis yang datang dari Hujoon.

Scene-scene saat Hujoon sudah menyadari bahwa dia menyukai Geunyong dan itu.. ah, so sweet banget. Dijamin pecinta kebaperan pasti suka sama cerita ini di bagian akhir-akhirnya. Meski ada plot-twist penyelesaian konflik yang bikin cukup merinding juga bacanya. Tentang segala tragedi yang pernah terjadi di masa lalu Hujoon.

---

Beberapa quotable versiku:

“Kalau makan sebanyak ini, maka kau akan punya tenaga untuk menjalani hidup ini kan? Atau, apa kau tidak butuh banyak tenagamu sehari-hari?” - 302

“Memangnya aku harus menjelaskan sedetail apa lagi? Memangnya penting berapa sendok krim, berapa sendok gula saat membuat kopi? Yang penting kan rasanya enak!” – hlm. 476 

“Aku senang karena dirimu. Aku tidak menyadari hal ini sebelumnya. Aku dulu tidak menyadari kehadiranmu di dekatku, dan aku terlambat menyadarinya. Bahwa kau selama ini telah menghiburku, telah membuatku kuat…” – hlm 477

“Aku rindu padamu. Sangat… Aku ingin mulai… mencintaimu. Cinta yang tidak berakhir dengan tragis.” – hlm 508

---


Overall, aku suka banget kisah ini. Apalagi filmnya yang mainnya Chanyeol *padahal belum nonton*. Tapi buku selalu lebih baik dari filmya, right? Aku rekomendasikan novel ini bagi kalian yang suka baca buku tapi dengan plot ala drakor yang keren abis.

4 dari 5 bintang buat So I Married The Antifan ^_^

Rabu, 05 April 2017

[RESENSI] When Love Is Not Enough by Ika Vihara

“There’s only one possibility: win, draw, or lose.” – Franz Beckenbauer




Judul: When Love Is Not Enough
Penulis: Ika Vihara
Editor: Afrianty P. Pardede
Penerbit: Elex Media Komputindo (2017)
Jumlah halaman: 271 hlm


Blurb:

Awalnya, Lilja Henrietta Møller berpikir, menikah dengan sahabatnya, Linus Zainulin, dan tinggal bersamanya di Munchen, akan menjadi sebuah pernikahan yang sempurna. Tidak ada yang salah dengan pernikahan mereka. Karena Linus dan Lily bisa sama-sama melakukan apa yang mereka suka. Tapi semua tidak sesempurna angan-angan Lily. Karier Linus sebagai pembuat kereta cepat, yang semakin menanjak, ternyata malah menghancurkan gerbong kehidupan pernikahan mereka.

Lily kehilangan laki-laki yang dia cintai. Ayah dari anaknya. Suaminya. Yang lebih buruk lagi, dia kehilangan sahabatnya. Sosok yang sudah bersamanya sejak dia dilahirkan. Lily kembali ke Indonesia, mencoba membangun kembali hidupnya, tanpa Linus bersamanya.

**

Seri Le Mariage dari Elexmedia yang pertama aku punya ini hadiah dari Writing Challenge Bersama Kampus Fiksi dan penulisnya sendiri, di blogku. Buat yang penasaran, boleh cek curhatanku (true-story) yang kutulis untuk ikutan challenge pertamaku di sini.

When Love Is Not Enough bercerita tentang Lilja (sumpah ini aku nggak tahu cara bacanya) atau Lily dan Linus. Dua orang yang bersahabat dari kecil, dan akhirnya memutuskan untuk menikah.
Udah banyaaak banget kisah-kisah sahabat jadi cinta teenlit yang ujung-ujungnya nikah dan hidup bahagia selamanya. Konyol sih, tapi bisa aja terjadi, dan aku pun berpikiran hal yang sama. Kalau nikah sama sahabat sendiri, kita udah mengenal sifat baik dan buruk masing-masing kan? Lalu ada juga fact yang pernah kubaca kalau menikah sama sahabat sendiri itu bisa lebih bahagia/langgeng(?)

“Kata orang, kalau sahabat menjadi pasangan kita, makan kita mendapatkan persahabatan sekaligus cinta yang abadi.” – hlm lupa lagi.

Tapi semua nggak berjalan lancar untuk Lily dan Linus. Bahkan di bab pertama, aku udah dibuat sedih. Langsung, nggak pakai aba-aba. Itu juga yang membuatku cepet banget baca novel ini, karena aku nggak bisa berenti buat buka halaman selanjutnya.

She is not in a better place” adalah subjudul untuk bab pertama. Mereka berdua harus kehilangan Leyna, anak mereka yang baru berusia kurang dari enam bulan.

“Saat seorang suami ditinggal mati oleh istri, maka dia disebut duda. Istri yang ditinggal mati suami, dia disebut janda. Anak yang ditinggal mati ayah, dia dinamakan yatim. Dan anak yang ditinggal mati ibu, dia dinamakan piatu.
Bagaimana dengan seorang ayah atau seorang ibu yang ditinggal mati anaknya? Tidak ada nama untuk mereka. Mungkin orang tidak berpikir untuk memberikan sebutan bagi orang sepertinya dan Lily.”

Setelah itu semua, aku cukup kaget karena ternyata Lily menyalahkan Linus karena meninggalnya Leyna. Konflik itulah yang membuat Lily kehilangan suami sekaligus sahabatnya seperti yang dicantumkan di blurb.

Lily jadi kehilangan arah setelah Leyna pergi, dia selalu melamun dan hampir tidak pernah berinteraksi dengan Linus di apartemen mereka di Jerman sampai akhirnya Lily minta cerai. Alasan kenapa Lily seperti itu adalah karena Linus tidak pernah menginginkan keberadaan Leyna. Bahkan Lily harus mengurus Leyna sendirian.

Setelah Lily pulang ke Indonesia, semuanya makin kacau di hidup Linus yang awalnya tetap mempertahankan pekerjaannya di Munchen. Keputusannya sudah bulat, Linus akan melepas kariernya yang cemerlang, demi merebut kembali Lily, membawanya pulang ke kehidupannya.

---

Ide konflik yang brilian, menurutku. Aku suka dengan cerita yang langsung masuk ke dalam konflik seperti ini. Awalnya, Lily setuju untuk menunda kehamilan karena Linus beralasan bahwa mereka masih belum mapan, Linus masih kuliah dan mereka butuh rumah yang lebih luas dan nyaman untuk membesarkan seorang anak. Tapi, lama-kelamaan Lily tidak sabar ingin segera mempunyai anak. Jadilah insiden ‘menjebak’ Linus agar Lily bisa hamil.

Linus yang terkejut dengan berita kehamilan Lily, malah emosi dan akhirnya membuat Lily sakit hati dengan kata-kata Linus yang tidak menginginkan anak itu.

Yah, cukup menguras hati. Kehidupan dan eksplor perasaan baik Lily ataupun Linus digambarkan dengan sangat-sangat baik. Di sini aku #TeamLinus karena aku tetap berpikir kalau Lily punya porsi yang lebih pantas untuk disalahkan. Tapi ketika diceritakan dari sudut pandang Lily yang membesarkan anak seorang diri dan betapa Linus nyebelin setengah mati (meskipun sama anak sendiri), aku juga ikutan kesel.

Novel ini bikin perasaan campur aduk. Aku nggak tahu harus dukung siapa atau menentukan yang mana yang salah atau benar, karena sesungguhnya hal itu terlalu abu-abu.
Jujur aku masih bisa dibilang ‘remaja ingusan’ kalau harus nyebutin pelajaran apa yang bisa didapatkan dari kisah ini. Tapi khusus untuk diriku sendiri, aku banyak dapet pelajaran yang berarti. Pentingnya komunikasi dan saling terbuka, salah satunya.


Peran keluarga besar Lily dan Linus juga  digambarkan sangat bagus, mereka mungkin sama seperti peran pembantu yang lainnya, tapi porsi mereka di sini sangat pas. Aku bukan tipe orang yang mudah dinasehati, tapi mendengar sosok orangtua yang menceramahi di novel ini, justru aku jadi terharu.

Setelah Linus menyusul Lily pulang ke Indonesia, di sini aku merasa bahwa Linus itu suamiable banget. Dia jelas tipe laki-laki yang diinginkan banyak gadis. Cerdas, tampan, karier yang bagus dan penyayang. Hanya satu kekurangannya, dia nggak mudah mengekspresikan perasaannya, khususnya ketika Leyna lahir.

Aku dibuat sedih sekaligus suka dengan sikap Linus yang berusaha memperbaiki hubungannya dengan Lily. Yang paling aku suka adalah ketika Linus mengorbankan kariernya dan memilih perusahaan biasa saja di Indonesia demi Lily.

“Cinta tidak selalu bisa menyelesaikan masalah. Iya kan?” – hlm 58

Lain lagi dengan Lily, aku dibuat kesal karena dia ini hatinya seperti batu. Yah, aku ngerti sih perasaan dia apalagi ketika dia benar-benar membutuhkan Linus untuk sama-sama merawat Leyna, tapi tetep aja, Linus udah ngeluarin kata-kata yang membuat terenyuh pun, Lily masih nggak mau membuka hatinya lagi.

Kadang suka kesel sama cewek yang terus ngasih kesempatan meskipun udah disakitin berkali-kali, tapi kesel juga sama cewek yang nggak ngasih kesempatan sedikit pun. Whyyyy?

Ya Lord. *Bang Linus, sini sama aku aja*

---

Salah satu yang paling aku suka dari novel ini adalah subjudul di setiap bab. Sumpah judulnya keren semua:( bikin penasaran sama isi bab itu. Bikin ‘nyes’ di hati juga. Gaya penulisaannya enak dibaca, dan nggak berat untuk ukuran novel dewasa ini. Mengalir dan mudah diikuti, serta mudah bikin baper. Ini serius, aku jatuh cinta sama setiap kalimat indah yang dirangkai Kak Ika Vihara.

Bahkan aku punya banyak stok quotable. WKWK.

Overall, sepanjang cerita aku dibuat terus-terusan terharu. Lily yang tiap kali teringat Linus dan kenangan mereka, tapi langsung sakit hati saat mengingat Leyna. Keseharian Lily yang bisa dibilang datar justru membuatku sedih, bukannya bosan. Lalu Linus yang.. perjuangannya bikin meleleh.

Novel ini memang dilabeli dewasa, dan memang benar, novel ini mendewasakan pembacanya. Memberi banyak nasihat tentang kehidupan pernikahan. Suka-duka melanjani rumah tangga. Konflik yang diciptakan malah membuatku ingin merasakan rasanya hidup berkeluarga. Hihi XD

---

Qoutable:

“Hidup satu rumah dengan laki-laki itu tidak mudah. Betul, kan?” – hlm 20

“Apa bedanya aku sama anak kos kalau tidurnya peluk guling?” – Linus (hlm 33) 

*sebagai anak kost, saya merasa tersindir XD*

“Masa kanak-kanak adalah masa-masa ketika lutut kita yang terluka, bukan hati kita. Masa-masa kita tidak sengaja mematahkan roda mobil-mobilan atau tangan boneka. Bukan mematahkan hati orang yang kita cintai.” – hlm 43

Sebenernya masih banyak, cuma males ngetik. Hoho.

---

Terakhir aku kasih 4 dari 5 bintang buat novel When Love Is Not Enough ini. Jujur aku sempet bingung harus gimana menjelaskan perasaanku soal novel ini, jadi hanya inilah yang bisa kutulis. Terlalu sulit untuk mengungkapkan kesan-kesan kisah Linus dan Lily dalam bentuk kata-kata.

Pahit, manis, nyesek, sedih, terharu, terenyuh.. apalagi yang bisa kutulis? Novel ini benar-benar membuatku campur aduk dalam mendeskripsikannya.

Selasa, 04 April 2017

[RESENSI] Une Personne Au Bout De La Rue by Yayan D

“Seseorang di ujung jalan.”




Judul: Une Personne Au Bout De La Rue
Penulis: Yayan D.
Editor: Gita Romadhona dan Adhista
Penata letak: Erina Puspitasari
Desain sampul: Dwi Annisa Anindhika
Penerbit: KataDepan (2017)
Jumlah halaman: 366 hlm
Rating: 3.5 of 5 stars



Blurb:

Daiva

Berhentilah bermimipi Daiva, ini dunia nyata.
Di dunia nyata, terkadang, kita harus belajar menerima kenyataan bahwa mungkin tidak ada yang menunggu kita di ujung sana. Dan, Pangeran Tampan hanya ada dalam cerita pengantar tidur.

Tristan

Saat aku berusaha melupakan luka, aku bertemu dengannya. Gadis yang selalu bisa membuatku mengingat betapa sederhananya menjadi bahagia. Aku jatuh cinta. Seharusnya, semua kembali baik-baik saja, bukan? Sayang, kau tidak pernah bisa menduga, cinta membawa apa.

**

Ini kisah tentang Daiva, yang selalu percaya akan ada seseorang yang tepat pada waktu yang tepat. Namun, seseorang itu tak juga kian terlihat.
Ini juga kisah tentang Tristan yang merasa bisa membeli segalanya, kecuali rasa setia.
Ini kisah tentang seseorang di ujung jalan. Seseorang yang mungkin menunggumu. Seseorang yang mungkin mengubah cara pandangmu tentang cinta.


---


UPABDLR adalah novel jebolan wattpad kedua yang kubaca. Sebenarnya aku ini bisa dibilang pemain lama wattpad, dulu cuma jadi reader dan aku hampir tahu gimana tipe-tipe cerita yang ditulis di wattpad. Sampai eneg deh, nemunya yang gitu-gitu lagi. Kalau nggak badboy, ya CEO. Kalau nggak perjodohan, ya ‘lo-sekarang-pacar-gue’ hah apaaaa? XD Yeah, aku sih nggak masalahin menjamurnya si tokoh utama: badboy atau CEO, yang jelas kalau plot yang dipakai bagus, aku pasti suka.

Une Personne Au Bout De La Rue bercerita tentang Daiva, seorang sekretaris muda yang agak galak, bossy dan sedikit petakilan menurutku. Dia ini jomblo, baru ditinggal pacarnya nikah sama cewek lain, sementara sang Ibu malah jodoh-jodohin sana-sini, pake acara nyuruh Daiva makan sirih pernikahan biar dapet jodoh XD

Di bab pertama, kegalauan Daiva digambarkan sangat baik, aku yang masih remaja aja jadi ngerasain paitnya cewek berumur yang harusnya udah nikah malah kena pengalaman kayak gitu. Ditambah lagi, adiknya Daiva malah mau nikah duluan. Apes? Banget.

Di sisi lain ada Tristan. Seperti yang sudah bisa ditebak, dia ini si Bos. Tampan, kaya, cerdas. Sayangnya doi udah punya tunangan, namanya Karin. Kalau kata Daiva dia ini skuter: selebriti kurang terkenal.

Berbagai kejadian di kantor yang ‘menyenangkan’ membuat Daiva dan Tristan harus bertemu dan saling berinteraksi satu sama lain. Hingga akhirnya mereka menyadari bahwa mereka saling nyaman kepada satu sama lain. Tapi perjalanan mereka berdua nggak semulus itu, karena tiba-tiba masa lalu mendadak muncul dan memporak-porandakan semuanya.

---

Writing

Aku suka gaya menulis Kak Yayan. Terutama di bab-bab awal, tulisannya mengalir dan asik buat diikuti. Aku sempat pikir gaya menulisnya terinspirasi dari penulis luar, enjoy banget dan suka banget sama pemilihan katanya. Bagaimana Kak Yayan membuat kalimat juga bagus.

Tapi, aku hanya merasakannya di awal. Maksudku, lama-kelamaan gaya menulisnya berubah, aku nggak tahu mungkin mood penulis udah ganti atau terlalu fokus sama plot yang udah dibuat jadi gaya menulisnya terkesan biasa saja, nggak ‘sedalam’ di bab awal. Tapi aku nggak bilang ini jelek, Aku tetep enjoy karena ceritanya juga simpel.

---

Characters

Seperti kebanyakan tema Bos-Sekretaris yang marak beredar, Daiva dan Tristan juga punya sifat yang hampir sama, nyaris sama, kayak kebanyakan itu.

Daiva yang keras kepala, nyablak, dan humoris. Dia sebagai sosok penyegar di novel ini yang bikin pembaca ketawa terus. Tapi meskipun di luar dia selalu terlihat ceria, di dalamnya Daiva ini cukup rapuh, dan dia juga punya pikiran yang sederhana tentang apa-apa yang terjadi di hidupnya.

“Saya merasa saaat ini memang belum bertemu dengan seseorang itu. Seseorang yang seharusnya menemani saya berjalan, yang mungkin sedang menunggu saya di ujung jalan.” – Daiva hlm 202

Sementara Tristan, terlepas dari titel ‘tampan-kaya-cerdas’, aku kurang bisa menemukan keunikannya. Berbeda dengan Daiva yang menonjol, Tristan ini menurutku kurang dieksplor karakternya. Dia terlalu datar, seolah-olah Tristan ini diciptakan dengan pikiran seperti ‘sikap-ini-salah-nah-kalau-yang-ini-benar’. Seperti itulah Tristan. Jujur bukan pria fiksi favoritku, tapi sikap Tristan yang lembut, penyayang, kadang ngeselin dan cemburuan bikin aku senyam-senyum sendiri WKWK.

Untuk karakter lain seperti Karin, dia ini bumbu doang menurutku, konflik paling ‘Bum!’ itu karena keberadaan Karin. Maura dan Randall juga hanya ‘dipakai’ ketika Daiva dan Tristan butuh momen untuk saling berdekatan, tapi ada lucu-lucunya juga sih mereka. Unik. Terus ada Dave, temennya Tristan, entah fungsi dia apa di sini, tapi menurutku dia nggak begitu penting, muncul sekejap terus ilang. Dan efeknya terbesarnya dalam cerita ini cuma bikin Tristan cemburu.

---

Plot

Ketebak adalah satu kata yang bisa kugambarkan untuk 'keseluruhan' novel ini. Tapi halaman demi halaman yang membawa Tristan dan Daiva menuju satu sama lain bikin baper. Hubungan keduanya dibuat mengalir, hingga lama-lama saling menyadari perasaan masing-masing. Nggak ada adegan yang mainstream yang bisa bikin pembaca muter mata sambil bilang ‘tipikal banget sih’ XD

Kisah Bos-Sekretaris ini lebih realistis (berhubung penulisnya juga pernah menjadi sekretaris). Penulis bilang bahwa kisah Daiva-Tristan ini dibuat untuk menghilangkan kesan kisah bos-sekretaris (jebolan wetped) yang terlalu vulgar dan kadang selalu dibayangkan sebagai kejadian nyata di lingkungan kantor. Dan penulis berhasil. Aku suka alur yang dipakai.

Masa lalu yang ada di dalamnya juga cukup bikin aku kaget karena nggak ketebak sama sekali. Sampai-sampai aku teriak ‘What?!

UPABDLR keren!

---

Favorite scene

Banyak! Wuaahaha! Terutama yang adegan Karin berantem sama Daiva di parkiran. Karin dibilang hulk dan Tristan malah ketawa XD

Dan yang kedua adalah ketika Karin ultah, Tristan nggak punya waktu buat ngurusin kado, akhirnya Daiva yang nyiapin kado itu. Nah, ini beneran out of the box banget, nggak ketebak dan aku ngakak terus baca scene ini XD

Lalu ada scene di mana Tristan masuk ke rumah sakit dan dijenguk Dave, Sony dan ada Maura juga. di situ Maura bilang gini: "Kenapa kita berbisik-bisik? Kita mau melakukan kejahatan apa, Om?" #Ngakak

Good job, Kak Yayan :)

---

Qoute fav

"I love it when someone's laugh is funnier than the joke." - hlm 100

"Ia mentari cerah di ufuk timur dan aku adalah pendar muram temaram senja nun jauh di barat. Terlalu kentara perbedaan itu." - hlm 182

"Segeralah bertindak, sebelum pemain layang-layang lain memutuskan layang-layang milik lo." - hlm 231

"Karena ada kalanya engkau begitu terlena dengan kebahagiaan, hingga tak sadar bahwa sesuatu yang jahat sedang mengintaimu. Berusaha menyelinap masuk untuk merampas kebahagiaanmu." - hlm 263

---

Overall, ceritanya sangat menghibur. Sah-sah aja kalau mau ambil plot mainstream apapun, asal kalau bisa mengolahnya dengan baik, pasti ceritanya jauh lebih keren, seperti UPABDLR ini. Kita diajak buat tahu gimana sih keseharian sekretaris itu langsung dari sekretaris yang asli.

Juga gimana perasaan orang dewasa dalam menemukan pasangannya.. ini yang aku suka dari novel romance dengan tokoh yang sudah cukup umur. Enak dibaca dan nggak lebay, beda sama teenlit yang kesannya baru pacaran aja udah ngerasa jatuh-bangun-pengorbanan-bla-bla.

---

Ditunggu karya selanjutnya!

Diberdayakan oleh Blogger.

Fav-Qoutes

"Kekuatan ada pada diri orang-orang yang tetap bangun dan menjalani setiap hari meski hal terakhir yang ingin mereka lakukan adalah hidup. Kekuatan datang dari senyum mereka yang bersedih, dari orang-orang yang telah kehilangan segalanya namun tetap bertahan." (Some Kind of Wonderful by Winna Efendi

"Billie tidak bisa berhenti bertanya-tanya dengan naif mengapa beberapa wanita mendapatkan banyak hal sejak mereka dilahirkan -kecantikan, pendidikan, kekayaan, bakat- sementara yang lain harus memulai hidup dengan begitu sedikit anugerah." (The Girl On Paper by Guillaume Musso)

“Dia akan pergi lagi. Dia akan pergi lagi dan lagi sampai umurnya cukup dewasa dan tidak ada lagi yang bisa mengirimnya pulang.” – hlm 363 (Little Fires Everywhere by Celeste Ng)