Selasa, 22 Februari 2022

Cinta Segitiga + Friendzone di Nonversation (a review)

 

source: goodreads


 

Judul: Nonversation

Penulis: Valerie Patkar

Penerbit: Bhuana Sastra (2019)

Jumlah halaman: 348 hlm

Baca via: iPusnas

 

Bagai keluar dari kandang buaya, malah masuk ke kandang macan (ya ini ngarang aja g usah serius2). Ini adalah pikiran gue waktu selamat dari baca Claires, eh malah kejebak di Nonversation.

Sedikit pembukaan, dari dulu gue pengen baca novelnya Valerie. Claires yang judulnya menarik serta kover pink bikin gue penasaran. Tapi ternyata gue memutuskan kalau gue nggak sanggup baca cerita ini karena karakter Ares di 4 bab pertama, nggak ada bagus-bagusnya! Kasarnya, semua red flags ditunjukkin semua dah buset. Jadilah gue nggak tertarik untuk tau apa green flagsnya Ares sampe bisa dapetin Claire yang polos.

Tapi gue belum nyerah buat baca novelnya Valerie, minimal satu aja gitu, kenalan sama tulisannya. Lalu akhirnya Nonversation-lah yang tersedia di iPusnas.

Nothing was wrong when i read some first chapters of this book. Ceritanya tentang cinta segitiga dan friendzone sekaligus. Tetapi masalahnya, udah di-spoiler duluan di halaman awal sama penulisnya ke mana ceritanya akan berlabuh :D jadi buat apa gw baca gitu kan sebenernya tapi yodah.

Dua tokoh utama kita di Nonversation adalah Theala dan Dirga. Theala si anak baik yang naksir Trian dari SMA, tapi berakhir malah sahabatan sama Dirga sejak masuk kuliah di kampus yang sama. Dirga ini adalah playboy sekaligus temen Trian yang tobat dan hanya mencintai Theala sejak bertemu pertama kali entah karena apa gue juga ngga terlalu nangkep.

Dirga emang tobat dan sahabatan sama Theala, tapi dia tetep pura-pura brengsek aja biar Theala nggak nyadar perasaan Dirga, soalnya Dirga tau Theala sukanya sama Trian. Sembari tetep di samping Theala, panggil-panggil sayang, sampe skinship pun Theala nggak nyadar kalau Dirga naksir dia karena Dirga masih gonta-ganti cewek.

OK. Masuk ke gaya bahasanya, satu hal yang gue rasain pas baca ini adalah gue nggak bisa baca cepet. Ya, dari dulu gue termasuk orang yang bisa baca kalimat dengan cepet, tapi anehnya pas baca nonver gue jadi ngelag gitu loh, kayak hape yang kuotanya skarat. Harus bener-bener gue cerna dengan baik.

Gaya bahasanya agak-agak puitis, diksinya tuh kayak sengaja dibuat deep sehingga supaya pembaca baper. Gaya bahasa ditambah gaya hidup karakter-karakternya yang diceritain kadang bikin gue mikir ini kayak high society love story yang nggak mashok dibaca sama rakyat jelata kek gue. Kayak ketinggian aja gitu untuk bisa gue resapi T_T

Setiap bab awal ada puisi pendek. Setiap judul bab adalah gabungan dari dua kata bahasa inggris yang mana menurut gue idenya unik tapi beberapa ada gabungan yang i hope i didnt read it lmao.

POV di novel ini ada tiga orang; Dirga, Theala, dan Trian. Yang mana gue tegaskan sekali lagi, couple buku ini udah jelas siapa, mengapa harus ada pov Trian pun gue nggak tau juga.

Sedikit yang mengganggu gue di POV ini, gue kadang nggak tau siapa yang lagi bernarasi. Kadang narasi mereka tuh kayak curhat, kalo di sinetron tuh kayak suara pikiran tokoh yang kedengeran sama penonton.

Dan menurut gue semua narasi mereka nggak bisa gue bedain. Nuansa pikiran mereka sama semua, poetic semua, deep semua. Nggak ada ciri khas. Mana mereka ya seringnya kan ngobrol satu sama lain makanya kadang-kadang gue ilang fokus dan harus balik lagi ke atas buat mastiin ini pov siapa. Haha.

Masuk ke karakter, nggak ada satupun karakter yang gue suka di buku ini. Sorry to say. Theala cuma gadis baik biasa, loyal, punya trauma, lembut, yang diem aja dan sabar saat dilabrak mantan Dirga, ibu peri banget pokoknya.

Dirga si playboy yang doyan main cewek, hm apalagi ya, gatau mau deskripsiin dia apa? Bucin? Tulus? Pengertian? Gue nggak terlalu bisa menilai dia karena dia baiknya sama Theala doang dan teman-temannya. Both of them have daddy’s issues anyway.

Nah Trian nih gue bingung, dia bener-bener cuma tempelan doang di sini. Cuma kayak tokoh pembantu yang karakternya dibikin ngarang aja asal ada konflik dan kemajuan buat kedua tokoh utamanya. I felt bad for him. Sumpah di bagian karakterisasi Trian, gue beneran marah dan nggak terima sama penulisnya.

The plot: karena dari awal ke tengah gue bisa tahan baca novel ini, gue jadi nggak bisa buat DNF saat plot mulai nunjukin tanda-tanda trope yang paling gue benci. Tanggung. Sebenernya di plot inilah gue mulai turn off sama Nonversation.

I do like ‘love triangles’ trope or ‘friendzone’, in short, i like reading romance no matter what theme it has.

Tapi plot yang kayak gini? Big turn off and there was no way to go back. I had to finish what I started. Makanya gue bilang gue berasa selamat dari Claires tapi kejebak di Nonversation.

Penasaran plot seperti apa yang bikin gue turn off? Gih baca!

Yang jelas, gue bener-bener ngerasa Trian ternistakan banget haha. Poor Trian.

Memasuki puncak konflik ini pun, gue ngerasa ternyata Theala nggak sebaik yang gue pikirkan selama ini. Dia bersikap jahat dengan cara yang paling baik. Kalau Dirga nggak usah ditanya, a walking green flag just for Theala. Pokoknya cerita ini bener-bener nekenin kalau Dirga itu yang paling tepat dan paling benar dan paling sempurna untuk Theala!!

Tapi menurut gue, orang waras manapun pasti bakal liat duluan track record Dirga kayak gimana. Gue sendiri skeptis sama orang yang bisa tiba-tiba tobat karena jatuh cinta. Bisa jadi kalau udah bosen, ya liarnya kumat lagi. Yes, i didn’t trust Dirga. That is what i think, how ‘bout you?

So, dari tema cinta segitiga dan plotnya yang dikemas begini, cerita ini termasuk klasik dan mainstream menurut gue. Gue sangat amat berharap plotnya nggak akan nyeret-nyeret Trian sekejam ini sebenernya, he’s actually lovely, tapi yah..mau gimana.

Sebenernya masih banyak banget unek-unek gue soal Nonversation. Gue nulis ini H+3 setelah selesai baca, kalau gue nulisnya pas setelah selesai baca banget, dijamin ini bakal sampe 2000+ words dah haha.

Overall, hampir semua elemen di novel ini nggak gue suka. This book is definitely, 100%, not my cup of tea. Gue nggak cocok sama karakter-karakternya, ga cocok sama gaya hidup mereka, dan ga cocok sama plotnya. Kalau gaya bahasa masih bisa gue terima meskipun tetep merasa ada ketidakcocokan sama selera gue. Ceritanya terlalu biasa. Kehidupan sehari-hari yang membosankan. Endingnya ketebak dan not satisfying at all.

Hanya dua hal yang gue suka dari novel ini adalah kovernya dan judulnya yang menarik. Dah segitu aja. Anyway, gue tadinya berencana untuk menyudahi ‘pertemanan’ gue sama tulisan Valerie karena baru kenalan sama dua buku aja udah gini, tapi gue kayaknya agak berubah pikiran dan berharap bisa baca Luka Cita suatu saat nanti.

2 for Nonversation from me.

Cheers! Don’t forget to click follow/submit your email below! Have a nice day!

 

Diberdayakan oleh Blogger.

Fav-Qoutes

"Kekuatan ada pada diri orang-orang yang tetap bangun dan menjalani setiap hari meski hal terakhir yang ingin mereka lakukan adalah hidup. Kekuatan datang dari senyum mereka yang bersedih, dari orang-orang yang telah kehilangan segalanya namun tetap bertahan." (Some Kind of Wonderful by Winna Efendi

"Billie tidak bisa berhenti bertanya-tanya dengan naif mengapa beberapa wanita mendapatkan banyak hal sejak mereka dilahirkan -kecantikan, pendidikan, kekayaan, bakat- sementara yang lain harus memulai hidup dengan begitu sedikit anugerah." (The Girl On Paper by Guillaume Musso)

“Dia akan pergi lagi. Dia akan pergi lagi dan lagi sampai umurnya cukup dewasa dan tidak ada lagi yang bisa mengirimnya pulang.” – hlm 363 (Little Fires Everywhere by Celeste Ng)