Kamis, 25 Juni 2020

[RESENSI] Paper Princess (Putri yang Hilang) by Erin Watt

source: goodreads



Judul: Paper Princess – Putri yang Hilang (The Royals #1)

Penulis: Erin Watt

Alih bahasa: Dewi Savitri

Editor: Nadya Andwiani

Desain Sampul: Marcel A. W.

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2020)

ISBN: 978-6020-3810-91

Jumlah halaman: 384 hlm.

Baca via: Gramedia Digital

 

Blurb: Ella Harper mungkin tak seperti remaja kebanyakan. Setelah sendirian berpindah-pindah tempat tinggal dan sekolah sampai menjadi penari telanjang demi mencari nafkah, ia mendapati dirinya dalam perwalian Callum Royal. Dan bukan sekadar wali, melainkan miliarder yang mengaku sahabat mendiang ayah yang tak pernah dikenalnya. Mulai dari rumah hingga sekolah, dimulailah hidup baru Ella di tengah kemewahan. Sayangnya, hidup baru Ella tak semulus dugaannya. Anak-anak elite yang dikomandoi Royal bersaudara tidak sudi menerimanya begitu saja. Peduli setan. Yang jelas, Ella akan bertahan.

---

Another fairytale – welcome! Jujur, sebelum baca ini, aku memang pengen kisah klasik kayak gini dan novel ini sungguh masuk sesuai ekspektasiku. Cewek miskin yang tiba-tiba jadi ‘anak’ orang kaya trus dikelilingin anak-anak cowok dari si tuan rumah? Hmm..klise tapi tetap menarik dan menantang.

Setelah baca bab-bab awal, novel ini langsung masuk ke inti ceritanya dan gak bertele-tele, di bagian ini aku cukup suka. Ella akhirnya masuk ke rumah Royal, itupun karena diiming-imingi sejumlah uang yang besar setiap bulannya. Di sana, dia bertemu 5 Royal bersaudara; Gideon, Reed, Easton, dan si kembar Sawyer-Sebastian.

Dimulailah petualangan(?) Ella dikelilingi para cowok-cowok hawt. Pertama, gaya bahasanya enak, ngalir tapi nggak bikin enjoy. Kenapa? Mungkin karena konfliknya cukup biasa, kehidupan sehari-hari remaja Amerika kali ya hm hm..

Konfliknya, cukup sederhana, hanya tentang bagaimana proses Ella Harper diterima oleh semua Royal dan akhirnya terjebak romansa ke salah satu Royal..yah, bisa ditebak kan? Puncak konfliknya ada di bagian agak ke belakang, lumayan seru tapi tidak terlalu excited sih pas baca. Plot novel ini secara keseluruhan menyenangkan dan annoying sekaligus karena banyak bahasa yang vulgar gitu. Dan setelah aku cari tau, kalau nggak salah series ini ada 7 atau 8 gitu, jadi kurasa wajar aja novel pertamanya cuma kayak...pemanasan. haha.

Dari banyak karakter yang ada, aku sebenernya gak punya favorit, tapi aku suka Ella Harper yang badass dan mandiri, dia tipe cewek seterong yang bisa ngehandle segalanya. Kadang aku sirik, kok bisa dia nggak stres hahaha. Lalu ada Royals bersaudara, favoritku Easton si anak ketiga. Gideon jarang muncul soalnya dah kuliah, Reed resek pake banget, Sebastian-Sawyer sama brengseknya kayak kakak-kakaknya tapi mereka lebih ‘mind-your-own-business’ type of people, gemes sih haha.

Overall, seperti kataku tadi, novel ini kayaknya baru pemanasan doang, soalnya memang endingnya kurang ajar banget hahahaaskskskks. Bakal lanjut baca kalau dilanjut gramedia? Oh tentu saja. Ceritanya simpel tapi cukup menarik kok. Gak bikin mikir apa gimana. Recommended buat kalian yang berumur 18+ yang suka kisah romance-intrik-sekolahan-bla-bla. Ratingku 3.8ó

“Hidupku adalah milikku. Aku yang menjalaninya. Aku yang mengendalikannya.” – hlm 16

“Apa ada yang mengajarimu cara menjadi orang brengsek atau itu muncul secara alami?” – hlm 111

“Rasa malu dan prinsip itu untuk orang-orang yang tidak perlu mengkhawatirkan hal-hal kecil, seperti berapa banyak makanan yang bisa kubeli dengan uang sedolar atau haruskan aku membayar tagihan rumah sakit ibuku, atau membeli ganja agar Mom bisa terbebas dari rasa sakit selama satu jam. Rasa malu itu suatu kemewahan.” – Ella (hlm 132)

“Apakah kaupikir ada lelaki di luar sana yang tidak akan menyakitimu? Itulah yang dilakukan para lelaki, Ella. Mereka menyakitimu.” – Brooke (hlm 235)

Oh poor Ella, you shouldve listened to her :’)


[RESENSI] Scythe by Neal Shusterman

source: google



Judul: Scythe

Penulis: Neal Shusterman

Alih bahasa: Mery Riansyah

Editor: Primadonna Angela

Desain sampul: Robby Garsia

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2019)

ISBN: 9786020622286 (digital)

Jumlah halaman: 464 hlm.

Baca via: Gramedia Digital

 

Blurb: Bagaimana kalau yang bisa kita kendalikan hanya tinggal kematian?

Tak ada lagi kelaparan, penyakit, perang, penderitaan di dunia ini: manusia berhasil mengendalikan semua itu, bahkan menaklukan kematian. Sekarang, hanya Scythe yang bisa menghabisi nyawa seseorang –dan itu memang tugas mereka, untuk mengontrol jumlah manusia.

Citra dan Rowan terpilih menjadi murid Scythe –meski mereka tidak menginginkannya. Kedua remaja ini harus menguasai “seni” mencabut nyawa. Kegagalan melaksanakan tugas bisa mengakibatkan hilangnya nyawa mereka sendiri.

Lalu, mereka diberitahu bahwa salah satu dari mereka harus mencabut nyawa yang lain...

----

Tertarik sama blurb Scythe sejak lamaaaa, tapi mikir dua kali setelah liat kover versi Indonesia. Jujur aja nih, aku gak suka kovernya, menurutku juga gak cocok sama isi ceritanya. Kover kayak gini cocoknya buat novel horor lokal deh hueheuheu

Akhirnya kesampaian juga baca tanpa perlu beli fisiknya :p

Bab awal dibuka dengan satu scythe yang sama di dua tempat, tempat yang ada Citra nya dan tempat yang ada Rowan nya. Scythe itu, bernama Michael Faraday, nama para Scythe memang diambil dari tokoh-tokoh popular di Era Mortalitas alias zaman sekarang ini.

Sebelum lanjut, aku mau bahas dikit tentang setting novel utopia ini. Buminya kayaknya masih bumi yang sekarang, tapi semua hal-hal buruk sudah hilang, seperti kata blurb. Manusia bahkan nggak bisa mati, ada tempat khusus yang disebut pusat pembangkitan kalau-kalau kita nggak sengaja bunuh orang, dan orang itu bisa hidup lagi seperti semula dalam beberapa hari tergantung kerusakan.

Lalu, di dalam tubuh manusia pun dipasang sebuah benda(?) aku sendiri bingung ini wujudnya apaan tapi namanya adalah nanite. Nanite berfungsi untuk menyembuhkan luka dan rasa sakit, dan kalau gak salah bisa juga ngatur mood agar selalu happy, biar nggak ada manusia yang depresi kali ya, mantap.

Hanya satu yang ditakuti para manusia di sini, yaitu adalah Scythe. Scythe bisa membunuh mereka, atau istilahnya di sini adalah “memungut”. Orang terpilih, tidak akan dikirim ke pusat kebangkitan dan akan dimakamkan selamanya. Scythe memakai jubah warna pilihan dan memiliki sebuah cincin. Jika seorang Scythe memungut seseorang, maka seluruh keluarga orang tersebut boleh memiliki imunitas alias aman dari pungutan Scythe selama setahun kedepan dengan cara mencium cincinnya.

Yah, segitu aja deh, sebenarnya masih banyak aturan Scythe yang lain tapi yha baca saja wkw

Singkatnya, Scythe Faraday tertarik dengan keduanya, Citra dan Rowan, sehingga ia pun memutuskan untuk mengangkat keduanya menjadi murid magang. Meskipun nanti akhirnya, Faraday hanya akan memilih satu yang lulus dan yang lain harus pulang.

Setelah beberapa bulan pelatihan, pada pertemuan Scythe, Scythe Goddard yang terkenal kejam, tidak menerima keputusan Faraday dalam mengambil murid magang, seharusnya hanya satu murid. Ia pun mengajukan tuntutan agar salah satu harus memungut yang lain jika nanti terpilih menjadi Scythe. Meski Faraday sudah berkorban, nyatanya hidup Citra dan Rowan tidak berjalan mulus.

Mulai dari gaya bahasanya, aku sempet mikir ini agak berat, tapi ternyata setelah beberapa bab, aku mulai menikmatinya, nggak berat-berat amat ternyata. Mungkin cuma efek font kecil di hp ku yang kecil juga, beneran sumpah dah berharap GD ngeluarin versi mobile read!1!1

Di setiap bab, dibuka dengan potongan jurnal dari Scythe Curie dan kadang ada Scythe Goddard, Faraday, Citra dan Rowan. Lebih banyak narasi ketimbang dialog, tapi menurutku it’s okay aja soalnya narasinya pun seru dan enak diikutin. Terlebih, aku suka world buildingnya yang cakep, rapi, nyata. Suka konsep nanite dan pusat pembangkitan.

Novel ini sama sekali nggak ngebosenin, tapi kadang bikin ngantuk, entah kenapa. Tapi mungkin karena nggak banyak aksi atau apa, cerita sehari-harinya murid magang yang belajar jadi Scythe dan kadang diseling dengan ikut Faraday untuk memungut. Bisa dibilang, banyak juga kisah-kisah dan makna yang terselip di setiap pemungutan.

Ketika Faraday berkorban, di sinilah titik mengejutkannya. Aku gak bisa cerita banyak tapi beneran makin menarik ceritanya. Aku suka pengembangan karakter Rowan. Kalau Citra, buatku dia biasa aja heuheu.

Untuk konfliknya sendiri aku memang dibuat kaget sih, banyak twist gitu dan memang mencekam. Sayangnya, Scythe belum mampu mengalihkan perasaanku 100%. Novel ini seru pas lagi dibaca tapi kalau nggak lagi dibaca yauda gitu nggak kepikiran haha.

Dan satu lagiiii, kupikir ini penting untuk kalian yang juga pencinta romance kayak aku *minor spoiler starts*, dua tokoh utama cewek dan cowok disatuin jadi murid magang? Wow sudah pasti aku mengharapkan bumbu cinta di sini. Memang ada sih, tapi gak banyak, dikit, beneran minor, gak berasaaaa, jadi jangan berharap banyak, dan siap-siap kaget sama endingnya hehehe *spoiler ends*

Overall, penyuka kisah utopia dan banyak kematian, aku rekomen novel Scythe untuk dibaca. Aku pasti lanjut Thunderhead, tapi belum tau kapan karena meskipun endingnya WOW banget aku nggak dapet perasaan untuk langsung lanjut baca novel keduanya hehehe. Dari novel ini, kita bisa belajar tentang arti kematian dan kehidupan sekaligus. 4/5ó

“Selamat tinggal, Citra. Kuharap kita bisa berbicara lagi.”
“Tapi aku harus mati dulu untuk itu terjadi.”
“Aku yakin kau bisa mengaturnya.” – hlm 366

Kutipan dari salah satu jurnal H.S Curie yang aku suka:


“Aku bukannya tidak bahagia,” katanya kepadaku. “Aku hanya.. sudah selesai.” – hlm 367

“Menurutku, semua perempuan muda dikutuk dengan rangkaian kekonyolan tak bertepi, dan pemuda dikutuk degan serangkaian kebodohan mutlak.” – hlm 375

 


Diberdayakan oleh Blogger.

Fav-Qoutes

"Kekuatan ada pada diri orang-orang yang tetap bangun dan menjalani setiap hari meski hal terakhir yang ingin mereka lakukan adalah hidup. Kekuatan datang dari senyum mereka yang bersedih, dari orang-orang yang telah kehilangan segalanya namun tetap bertahan." (Some Kind of Wonderful by Winna Efendi

"Billie tidak bisa berhenti bertanya-tanya dengan naif mengapa beberapa wanita mendapatkan banyak hal sejak mereka dilahirkan -kecantikan, pendidikan, kekayaan, bakat- sementara yang lain harus memulai hidup dengan begitu sedikit anugerah." (The Girl On Paper by Guillaume Musso)

“Dia akan pergi lagi. Dia akan pergi lagi dan lagi sampai umurnya cukup dewasa dan tidak ada lagi yang bisa mengirimnya pulang.” – hlm 363 (Little Fires Everywhere by Celeste Ng)