Minggu, 17 April 2022

Teenlit Campur Scifi di Dreamology by Lucy Keating (resensi)

Judul: Dreamology

Penulis: Lucy Keating

Alih Bahasa: Aline Tobing

Penerbit: Elex Media Komputindo (2018)

Jumlah halaman: 252 hlm

Baca via: Gramedia Digital

 

Pertama kali liat Dreamology versi originalnya, aku langsung jatuh cinta sama cover-nya. Dari situ aku mutusin kalau aku harus bacaaa novel ini. Harusss. Mana judulnya juga unik banget. Pasti ceritanya kece. Iya, dulu bener-bener cuma tertarik sama judul dan cover tanpa tau itu ceritanya tentang apa haha.

Cover yang bikin aku jatuh cinta itu kayak gini:


source: goodreads


Bertahun-tahun kemudian, waktu lagi main ke Gramedia, aku nggak sengaja nemu si kuning kecil ini.


source: goodreads


Wait, what? Dreamology? Dreamology yang cover orinya cakep itu? Dan ternyata bener, Dreamology udah diterjemahin ke bahasa Indonesia. Tapi kok nggak terlalu hype ya. Diem-diem bae.

Dan setelah 4 tahun terbit versi Indonesianya, aku baru punya kesempatan untuk baca Dreamology sekarang. Ekspektasiku tuh, judul unik, cover cewek banget, sinopsis oke, wow pasti ceritanya ringan dan cute gitu kan. Ditambah lagi jumlah halaman yang nggak sampe 300! Semanget banget buat baca.

Ketika buka novelnya di hp, jederrr, ternyata font-nya juga ikutan cute T_T [mnelan ludah] bisa nggak ya baca? Bisa sih kayaknya, cuma teenlit..kan?

So, Dreamology bercerita tentang Alice yang setiap hari memimpikan anak cowok bernama Max. Di mimpinya, yang udah berjalan tahunan, Alice dan Max sekarang pacaran. Mereka udah akrab dan deket banget di dunia mimpi.

Lalu tiba-tiba Alice harus pindah ke rumah peninggalan neneknya dan tentu aja harus masuk ke sekolah baru. Yang mengejutkan Alice, di sekolah barunya dia malah ketemu sama Max. Max asli. Nyata. Versi dunia. Versi real-nya.

Kalau di dunia mimpi Max itu hangat dan baik hati, Max asli ini lebih dingin dan cenderung jauhin Alice. Seakan belum puas bikin Alice kaget, ternyata Max juga selama ini mimpiin Alice. Mereka berbagi mimpi yang sama dan saling mengingat satu sama lain.

Kok bisa..?

Well, kesan pertamaku pas lagi baca ini, awalnya aku bener-bener semangat karena masih mikir ini premis yang lucu dan unik. Kebayang kisah klise ala wattpad gitu cuma dikemas dengan lebih rapi. Dont get me wrong, aku suka baca cerita klise yang imut asalkan rapi aja sih dan gaya penulisannya juga enak.

Tapi justru yang aku alami adalah aku malah bosan. Mataku capek baca font kecil ini. Ditambah lagi narasinya yang menurutku terlalu ‘maksa’ supaya jadi asik tapi jatohnya malah aku hilang fokus tiap baca narasinya.

Menurut aku terjemahannya udah rapi sih, jadi kemungkinan yang bikin aku turn-off emang gaya bahasa si penulisnya sendiri. Aku nyelesain buku ini cukup lama, karena ngantuk terus tiap baca, malah aku yang anti selingkuh sama buku lain, jadi tergoda untuk selingkuh haha.

Salah satu ekspektasi aku yang lain adalah, aku kira novel ini cuma novel remaja biasa dengan bumbu sedikit fantasi karena kedua tokoh utamanya saling mimpiin satu sama lain. Ternyata aku salah, Dreamology bercerita tentang sains modern. Bisa dibilang ini ngebahas fiksi sains.

Untuk sci-finya, aku mungkin nggak akan bahas terlalu banyak, karena aku sendiri nggak ngerti HAHA apaan sih ga jelas banget, mau nangis tiap ngebahas sainsnya. Nggak masuk di logikaku, entah karena faktor font kecil yang bikin males atau gaya bahasa yang bikin pusing.

Intinya, fenomena Alice dan Max bisa dapet mimpi itu adalah karena mereka pernah diterapi waktu kecil, bersamaan, di tempat yang sama. Alice mimpi buruk terus karena satu hal, makanya dia mulai ngejalanin terapi. Dari situlah mimpi mengenai Max muncul, bisa dibilang, mimpiin Max adalah choping mechanism-nya Alice dari traumanya. Begitupun sebaliknya.

Konflik di novel ini adalah saat Alice dan Max ternyata sadar kalau mereka nggak bisa terus mertahanin mimpi ini, juga karena ternyata fenomena ini bisa membahayakan mereka. Dari situlah keduanya, dibantu Sophie dan Oliver, berencana untuk menghapus mimpi-mimpi itu selamanya.

Selain gaya bahasa yang nggak enak dibaca, aku sendiri nggak gitu srek sama kedua tokoh utama di novel ini. Mereka cuma remaja sih, remaja biasa. Wajar masih suka bingung, naif, plin-plan, ngedepanin emosi daripada logika. Sayangnya karena terlalu biasa inilah, aku nggak nemuin bagusnya apa.

Karakter keduanya nggak ngena di perasaanku. Jadi aku bener-bener baca ini murni karena pengen tau aja endingnya. Musnah sudah impianku buat baca cerita yang imut-imut. Karena menurutku, cerita remaja mereka (di luar bahas sains) nggak imut sama sekali. Nggak bikin senyam-senyum. Nggak ikutan baper. Cuma dua kata sih: flat abiz. Aku cuma beberapa kali nyengir, nggak sampe lima kali, itupun cuma dua detik aja, yang bahkan aku udah lupa di scene apa haha. Parah banget gue.

Overall, mungkin ini murni karena berekspektasi ketinggian, nggak baca review orang lain dulu (soalnya takut jadi males baca), Dreamology wasnt my cup of tea. Capek, bosen, ngantuk, nggak ada yang spesial, bab mimpi bikin puyeng karena mimpi mereka kebanyakan sureal/abstrak, eksekusi yang biasa aja, font kecil punnn. Bah.

Akhirnya aku cuma bisa kasih 2 buat Dreamology karena ide/premisnya yang unik dan menjanjikan serta cover-nya yang lucu. Segitu aja kesan-kesanku buat novel ini. Aku bersyukur banget nggak beli fisiknya hahaha.

Dont forget to click follow button/submit your email below! See you on another review!

 

 

Selasa, 05 April 2022

Mengenal Budaya ‘tragis’ Lewat Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam by Dian Purnomo (resensi)

 

source: goodreads


 

Judul: Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam

Penulis: Dian Purnomo

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2020)

Jumlah halaman: 320 hlm.

Baca via: Gramedia Digital

 

Novel ini adalah salah satu novel yang sering banget aku liat seliweran di timeline Twitter-ku, khususnya di salah satu base buku yang paling terkenal. Nggak usah sebut merk lah ya haha.

Terus aku mulai cari tau deh, ini novel tentang apa, kenapa sampai direkomendasi sekenceng itu, bahkan cap trigger warning di cover buku ini bikin aku tertantang untuk baca which was so stupid of me lol. Juga karena antrean di iPusnas yang sampai ribuan.. gila sih. I wanted to read this book so bad!

Singkat cerita, akhirnya aku baca deh. Di bab pertama, bahkan halaman pertama, aku udah disuguhin kata-kata mencurangi kematian dan aksi bunuh diri. Waktu baca ini, bagiku ini bukan salah satu trigger warning yang bikin aku mundur, justru makin gaskeun haha.

Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam berkisah tentang seorang gadis Sumba bernama Magi Diela, sarjana pertanian, gadis kuat yang bercita-cita ingin membawa tanah Sumba menjadi lebih baik lagi.

Celakanya, salah satu budaya adat Sumba bernama membawa kabar buruk untuk cita-cita Magi. Tradisi itu adalah tradisi untuk menculik seorang gadis ke rumah laki-laki untuk dinikahi. Nantinya, pihak laki-laki akan mengunjungi rumah si perempuan untuk melamarnya, gitulah kira-kira. Biar direstui.

Tapi itu cuma berlaku untuk zaman dulu, sebelum ada HAM kali ya. Sekarang, seharusnya tradisi itu harus dilakukan dengan perjanjian dulu sebelumnya, memang ada rencana pernikahan di antara kedua belah pihak, dan tradisi ini hanya sebagai jalan untuk mempermudah prosesnya. Pls cmiiw because that is what I learned from the book.

Magi Diela diculik oleh lelaki mata keranjang yang jahat bernama Leba Ali. Dipaksa menikah oleh Ama Bobo (ayahnya) karena menganggap peristiwa penculikan selama dua hari itu sebagai aib Magi dan keluarga mereka. Bagi Ama Bobo, nggak akan ada yang mau lagi menikahi Magi karena peristiwa itu.

Tapi Magi sebagai perempuan yang tangguh, terutama karena dia berpendidikan, nggak mungkin diam saja pasrah menerima ketidakadilan dan pemaksaan ini. Dari sinilah cerita itu dimulai, cerita Magi untuk menjaga harga dirinya, martabatnya, mendapatkan hak kebebasannya, dan memperjuangan setiap hak perempuan lain yang mungkin mengalami hal yang sama dengannya akibat tradisi ini.

Cukup segitu cerita garis besarnya, nanti spoiler. Fyi, karena ini menyangkut tradisi, budaya salah satu daerah di Indonesia, bahkan isu sosial kayak HAM; pelecehan, pemerkosaan, kekerasan dll pokoknya yang berat-berat deh, makanya aku nggak bisa bikin proper review kali ya. Soalnya aku takut salah haha.

But here are my thoughts about this book:

Aku sempet mau DNF pas baca flashback penculikan Magi selama dua hari di rumah Leba Ali. Di situ ternyata barulah trigger warning-nya berfungsi di otakku T_T ngeri banget dan aku nggak terlalu suka konten eksplisit, apalagi ini konteksnya penculikan.

Tapi aku tetap mutusin untuk baca, aku pengen tau gimana perjuangan Magi, gimana akhir ceritanya, gimana agar tradisi itu jadi tradisi yang sebaiknya nggak lagi dipertahankan di Sumba.

Selama baca ini, ke tengah-tengah cerita, aku mulai nyaman karena nggak ada lagi konten eksplisit. Cerita ini mulai lebih fokus ke masalah keluarga, Ama Bobo yang masih ngotot ingin Magi tetap melanjutkan pernikahan sementara Magi teguh juga dia mau mempertahankan martabatnya terlebih karena Leba Ali itu orang jahat. Super jahat.

Dan jujur kalau ada di posisi Magi, bener-bener dia serba salah. Banyak hal yang dia korbankan demi menegakkan keadilan. Perasaannya, keluarganya, cita-citanya, harga dirinya. Kayak.. dahlah mau nggak mau memang harus berkorban sampe Magi nggak punya apa pun yang tersisa T_T

Cerita ini cukup menyiksaku karena ternyata, hidup ini seberat itu ya. Meskipun beban dan masalah semua orang itu berbeda-beda, tapi rasa sakitnya tetep ada, tetep sama beratnya, sama sakitnya. Jujur aku nangis di beberapa bagian pas baca buku ini. Makin ke belakang makin ngeri sendiri, takut, deg-degan, ini Magi gimana?? Magi mau ngapain?? AAAAA..

Lalu di seperempat terakhir, aku kembali ke-triggered karena nggak nyaman sama konten eksplisit yang kembali hadir. Pengen rasanya skip saking mualnya. Tapi ya gimana, udah tanggung juga. Jadi aku cepet-cepet aja bacanya biar ga kebayang-bayang.

Tapi ternyata hasilnya...jeng jeng. Baca sendiri aja deh biar seru.

Overall, novel ini mengandung banyak hal yang bisa aku pelajari. Mulai dari adat istiadat, tradisi, budaya di Sumba, termasuk bahasanya. Di sini, percakapannya menggunakan bahasa Sumba, maaf nggak tau apa nama bahasanya kalau emang ada, yang mana aku awalnya bingung bacanya gimana, ada kata yang sama kayak bahasa Indo tapi disingkat gitu. Tapi lama-lama aku ngerti dan aku seneng bacanya^^ lebih berwarna aja gitu dibanding baca dialog yang bahasa Indonesia informal.

Penceritaan semua karakternya kuat dan khas banget, aku seperti di bawa langsung ke Sumba untuk mengikuti kisahnya. Bahkan aku sampe bulak-balik Gmaps buat liat perjalanan Magi biar lebih nyata haha terniat.

Dan aku sangat amat puas banget dengan endingnya!! Rasanya satisfying banget tau gimana kondisi si itu sekarang haha.

Selain belajar budaya Sumba, aku juga belajar untuk menjadi tangguh, cerdas, dan tetap berhati lembut serta patuh kepada orangtua/leluhur seperti Magi Diela. Ya, cuma belajar aja, praktiknya kapan-kapan haha. Kadang mikir aku gereget banget sama Magi yang...SEBAIK itu. Kok bisaaaa?

Karena sejujurnya aku nggak mungkin bisa sebaik Magi. Ya Tuhan, aku itu anak bandel dan rebel. Bukannya nurut demi kemauan/menyenangkan ortu, mungkin aku bakal ngamuk HEHE. Instead of nurutin keinginan ortu yang aku nggak mau, aku mungkin bakal bujuk ortu untuk berubah pikiran hm hm. Mamaku gampang diomongin untungnya.

So, aku bener-bener nggak tau harus ngasih bintang berapa untuk novel ini. Novel ini bukan untuk mencari hiburan, apalagi dinikmati ceritanya. Karena terlalu suram, pedih, dan menyakitkan pokoknya. Dan aku nggak menikmati novel ini sedikitpun (karena temanya) tapi penulisan novel ini bagus dan sangat disayangkan untuk dilewati pokoknya. Highly recommended but beware of the trigger warning(s)!

Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya beneran berharga. Values inilah yang bikin aku ngasih 5 untuk Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam, perempuan-perempuan yang lagi berjuang, perempuan-perempuan Sumba, perempuan-perempuan Indonesia, dan seluruh perempuan di dunia. We are the strongest human being that ever existed!

 

Diberdayakan oleh Blogger.

Fav-Qoutes

"Kekuatan ada pada diri orang-orang yang tetap bangun dan menjalani setiap hari meski hal terakhir yang ingin mereka lakukan adalah hidup. Kekuatan datang dari senyum mereka yang bersedih, dari orang-orang yang telah kehilangan segalanya namun tetap bertahan." (Some Kind of Wonderful by Winna Efendi

"Billie tidak bisa berhenti bertanya-tanya dengan naif mengapa beberapa wanita mendapatkan banyak hal sejak mereka dilahirkan -kecantikan, pendidikan, kekayaan, bakat- sementara yang lain harus memulai hidup dengan begitu sedikit anugerah." (The Girl On Paper by Guillaume Musso)

“Dia akan pergi lagi. Dia akan pergi lagi dan lagi sampai umurnya cukup dewasa dan tidak ada lagi yang bisa mengirimnya pulang.” – hlm 363 (Little Fires Everywhere by Celeste Ng)