Minggu, 29 Maret 2020

[RESENSI] Second Chance by Flara Deviana

source: goodreads


Judul: Second Chance
Penulis: Flara Deviana
Editor: Ruth Priscilia Angelina
Penyelia naskah: Vania Adinda
Ilustrasi sampul: Sukutangan
Penata letak: Bayu Deden Priana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2020)
ISBN: 9786020636320 (digital)
Jumlah halaman: 296 hlm.
Baca via: Gramedia Digital

---

warning: bacanya santai aja ya biasa aja takutnya ada yg baper haha

----

Aku mau nulis blurbnya sendiri, soalnya blurb aslinya kepanjangan untuk novel simpel kayak gini. 

Bercerita tentang Flavia, seorang pengasuh di day care yang terlilit utang mendiang ibunya lalu putus kuliah demi membayar utang-utang tsb. Sahabatnya, Dela, menyarakannya untuk kerja menjadi pendamping bocah kembar Okan dan Olin yang punya Papa galak bernama Ray. Via jadi pengasuh dan harus tinggal nginep di rumah Ray, tauuu kan mauuu di bawa kemana kapal ini uwu.

Meski jalan keceritanya ketebak gitu, tapi pembawaan novel ini bagus loh, kisah masa lalu Ray juga oke meski sudah bisa ketebak intinya aslinya gimana. Aku suka narasinya yang rapi banget dan enjoy ketika dibaca, perbabnya banyak halaman tapi aku tumben cepet baca novel ini hehe.





Aku juga suka konfliknya meski secara garis besar udah biasa banget, lah ya, si kembar maunya cuma sama tante Via titik, cuma Via yang sanggup ngadepin si kembar titik. Aku tertarik baca ini karena sering banget liat temen-temen di goodreadsku update lagi baca ini, bahkan sebelum bukunya resmi terbit huehue. Dan setelah ada di GD, cuss langsung donlot.

Aku sih nggak masalah sama tipe konflik yang udah ketebak gini, memang sengaja pengin baca, lagi pengen keuwuan soalnya. Gapapalah klise asal uwu, gitu pikirku, hehe. Tapi setelah baca ini, jujur aku agak kecewa karena aku tidak merasakan keuwuan yang kuharapkan kkkkk.

Konfliknya simpel tapi ngena, alurnya pas, sederhana tapi adaan lah gitu. Yang aku kurang suka di sini cuma karakternya huhu. Dua-duanya pun aku tak suka maafff.

Pertama, Ray, digambarkan sosok pria galak bertato gitu, trus dia tuh nggak deket sama si kembar, dingin abis. Awalnya aku masih b aja gitu, tapi pas puncak konflik aku merasa dia sangat immature. Sebenarnya ada dua opsi, Ray memang immature atau aku yang gagal menyerap penderitaan dan trauma dia. Udah. Karena memang jujur aku merasa karakter keduanya kurang kuat dan aku gak dapet emosinya. Puncak konflik dah pokoknya super ilfeel.

Yang kedua, Flavia, aduh nak, aku paling sebel sama kamu huahsuahsua sebenernya dia digambarin jadi karakter yang oke, independent, cerdas, sabar, supel bla bla sempurna amat idup lu udah dah, dikelilingi cowok ganteng dan sahabat-sahabat yang oke punya. Utang ibunya? Nyaris cuma sebagai background doang dan sama seperti Ray, aku nggak ngerasain emosi/feeling apa pun tentang penderitaan Flavia.

TAPI sebenernya bukan itu yang membuatku males sama tokoh Flavia, melainkan karena tawaran PAPANYA NORA, sahabat Via. Lagi-lagi aku merasa tokoh ini immature, atau gede gengsi, keras kepala, atau apalah gatauuuu pokoknya sebel dah baca aja sendiri kalau penasaran apa yang ditawarin papanya Nora ke Via pas dia putus kuliah(?) sumpah kalau kalian masih sayang Via, kita musuhan. Hahahahabweifjwifcej. Bercanda.

Overall, terlepas dari kedua karakter utama yang biasa aja (dan mencak-mencaknya aku) novel ini rapi dari segi konflik dan alur, sederhana dan enak dibaca, ada 17+ nya juga kalau-kalau mau tau haha, eksekusi novel ini bagus sekali dan masuk akal.

Novel ini nggak aku rekomen sih soalnya gak bagus-bagus amat tapi juga nggak jelek sama sekali. Bebas silakan yang tertarik ya monggo dibaca. 3/5ó dari aku, tadinya mo ngasih seteng, tapi novel ini nggak nyebelin kok jadi ku masih kasih 3, nilai aman versi aku ^_^

Jangan lupa subscribe email kalian di bawah atau klik tombol follow kalau mau dapet update review 
dari aku. See ya!




Minggu, 08 Maret 2020

[RESENSI] Miss Wanda by Eriska Helmi




source: google


Judul: Miss Wanda
Penulis: Eriska Helmi
Penata letak: Syafitri
Desainer sampul: @Hayharits
Penerbit: Elex Media Komputindo (2019)
ISBN: 978-623-00-0615-19 (Digital)
Jumlah halaman: 326 hlm
Baca via: Gramedia Digital

Blurb: Menjadi seorang guru yang disenangi para murid serta tunangan pengusaha kaya dan tampan, nyaris membuat hidup Wanda sempurna. Namun mimpi buruk selalu datang tiba-tiba, mencuri segenap kebahagiaan yang dimiliki. Kecelakaan telah merenggut Bagas dari hidupnya, meninggalkan segenap kesedihan yang amat mendalam.

Ardhito sudah menaruh perhatian kepada Wanda sejak mereka bertemu pertama kali di sekolah. Namun dia mundur teratur sejak tahu bahwa Wanda milik Bagas, temannya. Ketika Bagas meninggal, dia memiliki celah untuk masuk ke hidup Wanda. Hanya sedikit, karena perempuan itu sama sekali tidak pernah melihat dirinya seperti cara orang-orang melihatnya, sebagai artis yang banyak dikagumi.

Apakah Wanda bisa bangkit dari keterpurukan dan menemukan kembali harapannya bersama Ardhito?

----

Woy sumpah blurbnya spoiler bat tapi ya mau gimana lagi, tadinya mau nulis blurb sendiri tapi kepikiran takut pada nyangka spoiler kalau aku bilang Bagasnya mati.

Oke, jadi, aku udah tertarik baca novel ini dari lamaaa, karena ceritanya tentang guru, kisah cintanya dan melibatkan murid juga. Asik nih. Wew. Tapi baru sempet baca Miss Wanda sekarang.





Kesan pertama, aku...nggak terlalu suka pemilihan nama Ardhito, jadi keingetan aktor enkacetehai. Mana tokohnya artis pula, halah.. bawaannya males aja nih kalau ada si Ardhito di novel ini, padahal dia tokoh utama ugh.

Kedua, sebenernya perasaanku buat novel ini setengah-setengah, aku bingung apa aku suka atau nggak sama novel ini. Karena konsepnya seteng-seteng, aku review-nya langsung dibagi dua aja yak.

Mulai dari hal-hal yang aku kurang suka dulu:

Pertama, nama Ardhito, hehehe.

Kedua, ide mematikan tokoh Bagas. Serius dah, Bagas muncul hampir(?) mau ke tengahnya, dan memang isinya tentang dia yang bagus-bagus doang wong mau dimatiin karakternya, cuma ya aku kurang srek aja, kenapa gak dari awal aja matinya..kalau dimatiinnya ditengah sebagai puncak konflik kayaknya gak pas aja gitu.

Ketiga, konsep instalove-nya Ardhito. Ini sih paling ganggu. Sejak pertama melihat? Seorang artis cakep terbiasa liat cewek-cewek cakep lain sesama artis bisa jatuh cinta sama guru biasa kayak Wanda? Seriously ..... ? Bukan maksud menghakimi kecantikan Wanda yang mungkin ulala, tapi jatohnya kayak fairytale banget deh disukai sama artis, mana jelas-jelas bidang pekerjaannya jauhhh, mana si artis sukanya at first sight gitu huhu. Jadi berasa baca fanfiction :’)

Keempat, banyak narasi yang gak perlu hehe menurutku yahhh, jujur aku banyak skip-skip karena udah bosen sama narasinya mau langsung tau aja gimana cerita mereka, terus si narasinya juga banyak ngegambarin pergerakan tokoh yang bikin capek aja gitu bayanginnya. Ini pendapat pribadi yah!!

Segitu hal-hal yang aku kurang suka. Sekarang bagian yang aku sukanya:

Pertama adalah karakter Wanda, oke sebenernya seteng-seteng juga sih sama hal ini. Di awal aku suka sama dia, tegas, baik, guru idaman, terutama saat dia lagi ngehindarin banget si Ardhito yang annoying, sumpah can relate banget wkwk tapi setelah Bagas meninggal, aku ngerasa si Wanda ini jadi berubah ‘lembek’, perubahan sikapnya ke Ardhito juga nggak kuat, padahal dulu dijauhin mati-matian. Sama kayak instalove-nya si Dhito, perubahan sikap Wanda ke Ardhi juga gitu, tiba-tiba, ada sih alasannya, tapi menurutku gak kuat.

Kedua, blurbnya bohong! XD Ardhito mundur teratur? Pffftt. Kagak. Dia fakboi annoying banget menurutku hahaha tapi gegara reaksi Wanda yang cakep aku jadi demen nih cara gangguin si Ardhito. Bikin ikutan kesel, serasa aku yang digangguin wkwkw. Nilai kebaperan 7/10 buat bagian yang ini.

Ketiga, murid-murid tersayang, Ari, Mike dan Edel lumayan bikin aku bersemangat lanjutin baca. Terutama Ari. Dan humor di novel ini juga mayan lah 5/10.

Keempat, latar sekolah! Aku sukaa banget kebetulan juga aku mendadak banting stir dan bakal jadi calon guru magang tahun depan, sama-sama di bidang bahasa Inggris kayak Wanda hehe. Suka juga sama istilah-istilah kependidikan gitu heeee.

Udah sampai di situ aja. Jujur setelah Bagas meninggal dan giliran Ardhito beraksi tanpa rintangan (kecuali perasaan Wanda yang belom move-on) aku mulai kurang tertarik sama ceritanya, tau lah gimana akhirnya, tau juga gimana jurus-jurus si Ardhito, nggak bikin baper sama sekali 1/10 (angka satu buat ngelus kepala meskipun heran juga si Wanda mau mauan aja).

Overall, ceritanya biasa aja menurutku, yang berkesan pas awal-awalnya aja waktu masih ada Bagas. Kalau dikalkulasiin, tingkat kebaperannya 5/10 aja buatku. Jumlah hal yang disuka dan tidak disuka pun sama-sama ada 4. Yah, jadi aku cuma ngasih 2.5ó yang dibuletin jadi 3ó di goodreads buat novel ini. Recommended gak? Yah gak tau juga ya, nilaiku cuma setengah, silakan simpulkan sendiri tertarik apa nggak baca novel Miss Wanda. Hehe.

See you in the next review! Jangan lupa masukin e-mail kamu di bawah atau klik tombol follow kalau mau dapetin update review dari aku. Bye~



Minggu, 01 Maret 2020

[RESENSI] The Boy I Knew From Youtube by Suarcani

source: google


Judul: The Boy I Knew From Youtube
Penulis: Suarcani
Penyunting: Midya N. Santi
Penyelaras Aksara: Wienny Siska
Desain Sampul: Sukutangan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2020)
ISBN: 978-602-06-3820-1 (digital)
Jumlah halaman: 256 hlm.
Baca via; Gramedia Digital

Blurb: Pada hari pertama di SMA, Rai terkejut. Ternyata Pri, pemilik channel Pie Susu, adalah kakak kelasnya. Mereka sering berinteraksi di kolom komentar YouTube, bahkan lanjut ke e-mail.

Pie susu tidak pernah mengetahui identitas Rai. Video cover lagu-lagu yang Rai nyanyikan di channel Peri Bisu hanya menayangkan sosoknya dari belakang. Itu pun sebatas pundak ke atas. Karena sudah tiga tahun Rai tidak lagi nyaman menampilkan bakat menyanyinya di dunia nyata.

Saat tiba-tiba Rai terpaksa harus tampil lagi di depan umum, Kak Pri bersedia mengiringinya dengan gitar. Persiapan lomba akustik pun menggiring interaksi mereka di dunia nyata. Namun, Rai masih tidak percaya diri. Terutama ketika gosip dan perlakuan tidak menyenagkan atas ukuran tubuhnya kembali mencuat.

-----

*warning*

Berisi pendapat pribadi terdalam *eaa

Nggak tau bakal tajem atau nggak sih tapi di-warning aja dulu ehe. Jangan baper.
Ini ketiga kalinya aku baca karya kak Suarcani, pertama yang Welcome Home Rain, lalu Purple Prose dan yang ini ketiga. Yang paling aku suka: Purple Prose jelasssss, aku suka penulis kejam ehe.





Dan jujur saja....aku agak sedikiiiit kecewa sama novel ini. Kita mulai dari judul dan kovernya, dua hal ini adalah daya tarik pertama yang memikatku buat baca, terutama karena banyaknya update-an temen-temenku di goodreads yang pada baca buku ini. Jadi yah, kepo juga. Judulnya unik, kovernya juga bagus, satu bintang buat keduanya.

Tapi, setelah baca isinya, aku jadi mikir, judulnya sama sekali tidak merepresentasikan isinya heu. Aku kira, sesuai judul, isinya bakal disampaikan pake pov pertama dan menceritakan tentang si Pri ini dong. Misalnya ternyata dia anggota sindikat gelap atau apa gitu, wkwk atau menceritakan sisi youtuber dengan lebih luas, tapi ternyata enggak.

Sesuai blurb, novel ini menceritakan tentang Rai yang sesekolah sama youtuber Pri, Rai punya bakat nyanyi tapi gak mau ditunjukin karena sesuatu, terus Pri mendukungnya buat balik lagi nyanyi, tapi permasalahan soal ukuran salah satu bagian tubuh Rai menghambatnya. Udeh. Sisanya tentang Peri Bisu yang misterius di mata Pri, buatku nggak terlalu mengesankan, mungkin kurang porsi misteriusnya? Entahlah.

Oke sekarang ke gaya bahasa, udah baca tiga bukunya doi aku jadi udah terbiasa, enak seperti biasa, mengalir, tapi menurutku kali ini terlalu banyak narasi, aku sampe skip skip gitu hehe ((mana bacanya di GD, bayangkan sj)).

Kedua, konflik: BAGUS! Wow aku terkejut ternyata salah satu yang dibahas ada ukuran yang itu, membuatku inget kalau aku juga sering insecure tentang bagian yang itu hahaha meskipun punyaku nggak segede punya Rai. Dan konflik tentang pelecehan itu uwow banget lah pokoknya, belum lagi tentang menghadapi trauma dan menemukan lagi kepercayaan diri, itu bagus banget menurutku. Satu bintang buat konfliknya.

Tapi,

Ehe, ada tapinya. Mungkin bagian ini yang membuatku nggak begitu bisa merasakan emosi dari konflik ini, jujur aku datar-datar aja bacanya...kenapa? Karena di dunia nyata, nggak semua cewek seberuntung Rai, nggak semua punya sahabat kayak Kiki, nggak semua punya ibu kayak ibu Rai dan punya kakak kayak Saka.

Apalagi yang paling membuatku tersenyum sedih merenung menatap langit-langit kamar adalah nggak semua punya temen kayak Pri yang rela lakuin ini itu buat ngedukung Rai ehe, boro-boro temen sekelas yang jadi polisi koridor dadakan. Yang ada, temen-temen paling cuma bisa bilang “sabar ya”. Ya pantes aja sih Rai bisa bangkit, ehe.

Ketiga, karakternya...hmm..cenderung biasa aja sih nggak ada yang unik. Tapi menurutku Raihani si protagonis dan Lolita si antagonis itu sangat relatable BANGET sama kehidupan nyata. Terus kesalahan Kiki juga membuat karakternya jadi nyata, suka deh. 0.5 bintang buat mereka.

Overall, aku sedikit terhibur lah baca novelnya, karena sepertinya novel ini bukan buat nyari hiburan, tapi lebih ke pelajaran hidup terutama buat para remaja ya iyalah labelnya juga teenlit ci. Pesan yang disampaikannya kuat dan menurutku bagus cocok banget buat remaja. Endingnya juga oke, anti-mainstream lah, aku suka karena nggak dilanjutin dan berenti di titik itu, terima kasih author *sungkem*

So, aku cuma ngasih 2.5 bintang dan dibuletin jadi 3 di goodreads. Recommended buat kalian yang suka insekyur sama tubuh sendiri dan kalian yang nggak pedean, pasti ada sesuatu yang bisa kalian petik dari novel ini. See you in the next review!~

p.s jangan lupa daftarin email kalian atau klik tombol follow di bawah kalau mau dapetin notif review-ku selanjutnya ^_^

Diberdayakan oleh Blogger.

Fav-Qoutes

"Kekuatan ada pada diri orang-orang yang tetap bangun dan menjalani setiap hari meski hal terakhir yang ingin mereka lakukan adalah hidup. Kekuatan datang dari senyum mereka yang bersedih, dari orang-orang yang telah kehilangan segalanya namun tetap bertahan." (Some Kind of Wonderful by Winna Efendi

"Billie tidak bisa berhenti bertanya-tanya dengan naif mengapa beberapa wanita mendapatkan banyak hal sejak mereka dilahirkan -kecantikan, pendidikan, kekayaan, bakat- sementara yang lain harus memulai hidup dengan begitu sedikit anugerah." (The Girl On Paper by Guillaume Musso)

“Dia akan pergi lagi. Dia akan pergi lagi dan lagi sampai umurnya cukup dewasa dan tidak ada lagi yang bisa mengirimnya pulang.” – hlm 363 (Little Fires Everywhere by Celeste Ng)