Jumat, 26 Oktober 2018

[RESENSI] My Own Private Mr. Cool by Indah Hanaco

IG: arthms12



Judul: My Own Private Mr. Cool
Penulis: Indah Hanaco
Desain Sampul: Orkha Creative
Desain Isi; Nur Wulan Dari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2018)
Jumlah halaman: 261 hlm
ISBN: 978-602-03-9522-7

Blurb:

Bagi Heidy Theapila, latar belakang keluarga membuatnya tak mudah menemukan pasangan sejiwa. Tapi, ceritanya berbeda dengan Mirza. Heidy meyakini lelaki itu mencintainya dengan tulus. Namun, keyakinannya tumbang. Pertemuan mereka bukan cuma karena campur tangan Allah, melainkan skenario rapi yang berkaitan dengan materi.

Marah sekaligus patah hati, Heidy membatalkan rencana masa depannya dan memilih kabur ke Italia. Langkahnya mungkin tak dewasa, tapi Heidy butuh ruang untuk meninjau ulang semua rencana dalam hidupnya.

Lalu, Allah memberinya kejutan. Dalam pelayaran menyusuri Venesia, Heidy bertemu raksasa bermata biru. Graeme MacLeod, si Mr. Cool, Pria yang mencuri napasnya di pertemuan pertama mereka. Meski ketertarikan di antara mereka begitu besar, Heidy tidak berniat menjalin asmara singkat. Graeme harus dilupakan.

Ketika apa yang terjadi di Venesia tidak bisa tetap ditinggal di Venesia, Heidy mulai goyah. Apalagi Graeme ternyata lelaki gigih yang mengejarnya hingga ke Jakarta dan tak putus asa tatkala ditolak. Meski akhirnya satu per satu rahasia kelam lelaki itu terbuka, Heidy justru kian jatuh cinta.
Pertanyaannya, apakah cinta memang benar-benar mampu menyatukan mereka?

------

Kisah bermula saat Heidy mendadak membatalkan pernikahannya dengan Mirza karena suatu alasan. Dia memakai paket yang sudah dipesannya untuk bulan madu menjadi liburan seorang diri ke Venesia.

Dia ingin menenangkan diri, kabur dari semua hal yang menyesakkan di Jakarta. Lalu, dia bertemu raksasa bermata biru. Graeme MacLeod, nama pria itu. Pria yang mengambil napasnya ketika pertama kali berpandangan. Bukan hanya Heidy, ternyata Graeme merasakan hal yang sama pada gadis itu, merasakan tubuhnya disengat sesuatu tak kasat mata ketika pandangan mereka bertemu.

Pada suatu malam, Graeme, seorang lelaki yang dijuluki Mr. Cool, memberanikan diri untuk berkenalan dengan Heidy. Untungnya, Heidy tipe orang yang supel, membuat perkenalan keduanya tidak kaku. Meskipun jantung keduanya tidak bisa berhenti berdetak terlalu cepat.

Mereka banyak menghabiskan waktu bersama di Venesia, berbagi cerita, makan bersama, dan mengunjungi tempat-tempat di sana. Kebersamaan itu membuat Graeme akhirnya menyadari bahwa perasaannya nyata. Dia menyatakan cinta tepat ketika Heidy hendak pulang ke Jakarta, mengurusi segala masalah yang ditinggalkannya.

Tentu saja pernyataan cinta itu ditolak oleh Heidy. Gadis itu masih belum sembuh, masih belum bisa mempercayai cinta lagi, situasinya kacau dan dia tidak ingin menjalin hubungan terutama dengan pria asing yang baru dikenalnya.

Namun, penolakan Heidy tidak membuat Graeme gentar, berjauhan dengan Heidy dan hanya mendengar suara gadis itu lewat telepon membuatnya kian menyadari rasa cintanya. Graeme menekatkan diri, membawanya terbang ke Jakarta hanya untuk meraih cinta Heidy.

-----

My Own Private Mr. Cool adalah novel pertama Kak Indah Hanaco yang aku baca! Aku suka kovernya sampai-sampai aku nggak bisa berenti bolak-balik mandang kovernya selagi baca XD
Sinopsisnya, memang kayaknya terlalu panjang padahal intinya bisa dipersingkat. Dimulai dari prolog, aku udah langsung tertarik karena di sana menyebutkan ‘kecacatan’ apa yang dimiliki Graeme.

Latar belakang kedua tokoh menjadi poin utama dari konflik dalam novel ini, termasuk yang satu yang terunik dari keseluruhan ceritanya. Heidy yang membatalkan pernikahan karena suatu alasan yang mencengangkan serta ibunya yang tukang-ikut-campur padahal usianya sudah 29 tahun, sementara Graeme yang merupakan mantan marinir, tertarik kepada Islam meski agamanya Kristen, dan pernah kehilangan seseorang yang berarti baginya di medan perang.

Aku suka cara penulis mendeskripsikan segala sesuatu. Sangat mendetail namun tidak menghilangkan keasyikan saat membacanya. Narasinya mengalir dan mudah dimengerti, serta banyak pengetahuan baru yang berhubungan tentang Venesia maupun hal-hal lain seperti kapal Vivaldi dan tentang makanan.

Membaca novel ini membuatku enjoy hingga tidak terasa aku sudah hampir sampai di halaman terakhir.

Konflik yang diangkat sebenarnya cukup umum, bagaimana dua orang yang patah hati, berusaha menyembuhkan diri dan bertemu satu sama lain lalu saling jatuh cinta. Menurutku, hal-hal yang membangun konflik cukup heboh (seperti masa lalu Graeme, agama, ibu Heidy yang bawel dan mantan yang mengejar-ngejar) namun secara intinya, konflik ini tidak terlalu menegangkan. Hanya konflik ringan tentang romansa yang menyentuh hati.

“Bahwa cara terbaik untuk menghindar dari kehilangan adalah tak pernah melakukan hal-hal impulsif demi memuaskan keinginan hati.” – hlm 97
Alur yang dipakai adalah alur maju-mundur. Flashback menceritakan tentang Graeme dan masa lalunya di Fallujah, tempat yang sedang berperang dan bagaimana dia mulai mengenal Islam. Selebihnya, alur yang digunakan adalah maju. Setting novel ini berada di Venesia dan Jakarta lalu sedikit London.

Tidak sulit untuk merasa bahwa cerita berlatar di Venesia karena penulis melakukan riset yang hebat demi terbangunnya nuansa Venesia di benak pembaca. Seperti yang kubilang, novel ini sangat detail.
Dari segi penokohan, aku memang tidak merasa ada yang begitu istimewa. Heidy yang tipe ceria dan menyukai anak kecil, sementara Graeme yang kaku dan rapuh sekaligus. Namun, latar belakang Graeme membuatku lebih tertarik dan menjadikannya tokoh favoritku, terutama karena aku suka setiap dialog yang dilontarkannya saat bersama Heidy.

“Kenapa kau menyukaiku?”
“Kalau aku tahu alasannya, aku sudah mencari obat penawarnya supaya sampai tidak separah ini.” – hlm 114
Selain romansa, novel ini berlatarkan agama Islam yang cukup kentara. Karena baru pertama kali membaca novel berlatarkan agama seperti ini, jujur aku cukup terkejut dan agak canggung saat membacanya. Aku terbiasa membaca novel yang tidak menjelaskan suatu hal tentang agama, kalau pun ada mungkin hanya sepintas.

“Tak masalah apakah kau memanggil-Nya dengan Allah, Tuhan, atau nama lain. Dia pemilik segala bahasa. Dia tahu maksudmu.” – hlm 44
Meskipun tidak mendalam, ciri kebiasaan umat Muslim di sini digambarkan dengan jelas. Bukannya anti membaca suatu novel yang mengangkat topik krusial, tapi aku lebih suka suatu novel netral saja karena memang genre utamanya adalah romace contemporer.

Overall, aku menikmati membaca novel ini, ceritanya manis dan menyentuh. Beberapa kali aku juga dibuat tertawa oleh humor celetukan yang ada di dalam novel ini juga perasaan cinta yang besar di antara kedua tokoh yang diceritakan dengan sangat baik. Kemistri kedua tokoh sangat terasa. Novel ini memberi tahu kita bahwa, cinta memang bisa menyatukan dua anak manusia. Namun, cinta saja tidak cukup. Ada sesuatu yang jauh lebih penting untuk dipertimbangkan selain cinta.
Apakah itu? Temukan di novel My Own Private Mr. Cool!1! XD

“Pada akhirnya, aku percaya kalau orang baik tetaplah orang baik. Tak peduli agama yang dianut atau rasnya.” – hlm 34
“Bukankah lebih baik melakukan sesuatu meski akhirnya gagal dibanding jika dia hanya berdiam diri dan menyesali segalanya suatu ketika nanti?” – hlm 62
“Cintaku mahal, Heidy. Tidak ada yang bisa membayar perasaan sesakral itu.” – hlm 217
“Kurasa, berusaha mengenal seseorang itu butuh waku seumur hidup. Manusia selalu berubah. Juga punya kemampuan menyembunyikan banyak rahasia.” – hlm 240

Minggu, 21 Oktober 2018

[RESENSI] Under the Blue Moon by Cath Crowley


instagram: @arthms12


Judul: Under the Blue Moon (Graffiti Moon)
Penulis: Cath Crowley
Penerjemah: Ingrid Nimpoeno
Penyunting: Jia Effendi
Penyelaras Aksara: Susanti Priyandari
Penata Aksara: Nurul MJ
Perancang Sampul: dwiannisa & elhedz
Penerbit; Noura Books (Oktober 2015)
Jumlah halaman: 303 hlm.
ISBN: 978-602-0989-70

Blurb:

Kuharap aku tidak terlambat.
Semoga aku bertemu Shadow.
Cowok misterius yang melukis dalam kegelapan. Melukis burung-burung yang terperangkap di tembok bata dan orang-orang yang tersesat di hutan hantu.
Dia membuatku jatuh cinta
Setengah mati.
Malam ini aku harus bertemu dengannya.
Apa pun yang terjadi.

-----

Buku Cath Crowley pertama yang aku baca! Jujur agak tidak tertarik sama kovernya tapi blurbnya bikin aku jatuh cinta pada bacaan pertama XD
Cerita dimulai dari Lucy yang dikirimi pesan oleh Al, pria tua yang berkedudukan sebagai bosnya. Al membertiahu bahwa Shadow ada di depannya saat ini, menggambar, sementara Poet baru datang, akan menyelesaikan karya Shadow dengan membubuhkan kata-kata.

Tapi Lucy terlambat. Jadi dia tidak bisa menemui orang yang dia kagumi itu. Kemudian dia pergi menemui Jazz, sahabatnya yang cenayang, untuk menghabiskan malam pesta akhir kelas 12. Di sana Jazz akan berkencan dengan cowok ganteng bernama Leo, sementara Daisy akan bertemu pacarnya Dylan (yang akan bertengkar sepanjang waktu) lalu Lucy akan bertemu mantan kencannya, Ed.

Dia punya pengalaman buruk dengan Ed. Di kencan pertama mereka, Lucy mematahkan hidung Ed sekali sikut karena Ed meremas bokongnya. Sejak itu, Lucy tidak pernah menemukan teman kencan lagi (dan karena mengejar Shadow) sementara Ed putus sekolah karena suatu hal.

Lalu Daisy ingat bahwa Dylan mengatakan dia mengenal Shadow dan Poet, hingga akhirnya para cewek setuju untuk nongkrong bareng mereka asal mereka membantu Lucy mencari Shadow.
Malam itu, mereka pergi ke pesta kakak Leo, sementara itu Lucy dan Ed tidak betah di sana, mereka memutuskan untuk pergi, mencari Shadow, menelusuri jejak mural karya Shadow dan mengalami malam panjang tak terlupakan.

Perlahan-lahan, mereka mulai akrab, jauh berbeda dengan kencan pertama mereka yang canggung. Namun, ternyata Ed menyembunyikan rahasia. Tak hanya satu, tapi banyak kejutan.

----

Aku baca ini cuma sehari! Karena langsung cocok dengan gaya bahasa Cath Crowley atau terjemahannya (terserah lah!) pokoknya aku langsung menikmati novel ini. Gaya bahasanya yang ringan dan mengalir, lalu narasi dan dialognya yang asik. Terlebih, novel ini punya bagian favoritku; bab-bab yang banyak tapi pendek. Hal ini sangat membantuku untuk menyelesaikan buku ini dengan cepat.

Konfliknya seru! Memang alurnya tergolong biasa saja dan ringan, malahan setting waktunya hanya satu malam saja. Dan menurutku ini jadi daya tarik tersendiri. Satu malam menjadi sebuah novel yang keren. Aku suka.

Konflik utamanya adalah bagaimana Lucy berusaha menemukan Shadow, dibantu Ed, mereka malah menjadi akrab. Kedengarannya nggak menarik ya? Tapi setelah baca, aku benar-benar dibuat jatuh cinta oleh alurnya. Novel ini bikin gemes karena salah satu rahasia Ed, rahasia ini memang sudah diketahui sejak awal, namun aku sengaja nggak tulis biar seru XD

Aku suka cara Ed dan Lucy berinteraksi, dialognya penuh humor, ditambah mereka semua, iya semuaaa tokohnya punya ciri khas yang membuat mereka jadi imut. Tingkah mereka benar-benar mencerminkan seorang remaja belum lagi konflik internal pendukung latar belakang mereka.

Lucy yang pemimpi, pekerja seni, naif dan manis, punya orangtua lengkap namun tinggal terpisah. Mum di rumah bersamanya, sementara Dad di gudang. Ya, mereka masih satu lokasi rumah namun terpisah. Hal itu kadang membuat Lucy cemas mereka akan bercerai meskipun ibunya berkali-kali mengatakan hal itu tidak akan terjadi.
“Tahukah kau bahwa kita terbuat dari materi yang sama seperti bintang-bintang? Kita adalah energi nuklir yang meledak.” – Lucy (hlm 119)
Kira-kira begitulah sebagian besar isi otak Lucy yang menurutku mengagumnkan :D
Ed, yang mempunyai rahasia kecil kenapa dia berhenti sekolah, Leo lah satu-satunya orang yang tahu rahasia itu, bahkan ibunya tidak. Ed sangat menyayangi ibunya karena dia adalah single parent, berusaha bertahan hidup disamping sekolah lagi jurusan keperawatan.

Mereka hidup serba kekurangan jadi Ed mengatakan dia putus sekolah karena tidak suka sekolah dan ingin membantu ibunya. Ed ini tipe cowok yang manis terhadap ibunya, dia juga sangat sayang kepada mantan pacarnya, namun bisa gila, menyenangkan dan menjengkelkan sekaligus saat bersama teman-temannya, apalagi dengan Lucy yang punya sejarah tak terlupakan soal hidung patah.

“Kata-katanya adalah lukisan, dan aku melukisnya di dinding di kepalaku saat dia berbicara.” – Ed (hlm 196)
Jazz, seorang cenayang. Dia bisa mendapatkan firasat dan dia orang yang menyengkan. Leo orang yang karakternya diciptakan memang untuk menjadi cocok dengan Jazz, penuh pesona dan akal bulus XD
“Kau aneh. Tapi, itu tidak apa-apa. Kau membuatku terlihat normal.” – Jazz (hlm 77)
“Kurasa seniman grafiti yang tak terlihat hanya berada satu langkah di atas tokoh fiksi.” – Jazz (hlm 122)
Daisy dan Dylan bertengkar sepanjang waktu karena Dylan melemparinya sekotak telur saat berusaha merayakan malam terakhir kelas 12 dan juga karena ada satu alasan penting lain.

Selain mereka, ada pula sosok tokoh Bert, mantan bos cat-nya Ed yang sesekali flashbacknya muncul, menjadikan novel ini beralur maju-mundur. Bert dikisahkan punya sifat yang bijaksana sekaligus menyenangkan bagi Ed. Dia sering mengingat nasihat-nasihan Bert saat berhadapan sepanjang malam dengan Lucy.

“Kau tahu tikus bisa berenang? Mereka panik ketika masuk air, tapi mereka akan baik-baik saja.” – Bert (hlm 103)
“Dia mengatakan mimpi adalah satu-satunya cara untuk pergi ke tempat mana pun.” – hlm 138
Karakter yang paling aku suka adalah Ed, entah kenapa latar belakangnya mampu menyeretku untuk suka padanya. Pokoknya, aku suka Ed karena dia rapuh, tapi juga kuat, cerdas, dan menawan. Hahahaha XD

Tapi aku juga suka Lucy, karena sikapnya yang tenang dan kalimat-kalimat penuh mimpi yang keluar dari mulutnya membuat dia aneh sekaligus menarik. Seperti yang Ed rasakan kepadanya.
Novel ini punya 2 sudut pandang, bergantian antara Ed dan Lucy, namun ada juga bab-bab selingan berisi puisi-puisi karya Poet. Dia menuliskan kisahnya sendiri pada malam panjang itu bersama seseorang berbentuk puisi. Dan ini jugalah hal yang buat aku suka novel ini, diselingi puisi Poet yang indah :D

Ada segerombolan mimpi buruk
Dan di balik mimpi-mimpi itu
Jika kau bisa melewati mimpi-mimpi itu
Ada hal yang membuatnya berdetak
Tak, tak, tak.
” – Poet (hlm 145)

Overall, aku nggak akan nulis banyak. Aku beneran suka kisah ini karena menurutku konfliknya ringan dan khas remaja tapi nggak mainstream, karakternya yang khas, bab-babnya pendek, interaksi Ed dan Lucy yang menggemaskan dan puisi-puisi Poet. Seluruh isi novel ini bikin aku jatuh cinta dan membacanya bikin heartwarming gitu. Well, 4.5 bintang karena novel ini sangattt memenuhi ekspektasiku :D

Qoutes:
“Itulah yang kusukai dari seni, yaitu apa yang kau lihat terkadang lebih menyangkut siapa dirimu daripada apa yang terpampang di tembok.” – hlm 24
“Manusia itu kuat, tapi jika kau memukulnya di tempat yang tepat, mereka akan hancur.” – hlm 200


Jumat, 19 Oktober 2018

[RESENSI] Once and For All by Sarah Dessen

IG: @arthms12

Judul; Once and For All (Sekali untuk Selamanya)
Penulis: Sarah Dessen
Alih Bahasa: Mery Riansyah
Editor: Dion Rahman
Penata Letak: Divia Permatasari
Penerbit: Elex Media Komputindo (2018)
Jumlah halaman: 364 hlm
ISBN: 978-602-04-8000-8

Blurb:

Louna, putri perencana pernikahan terkenal Natalie Barrett, telah melihat setiap jenis pernikahan. Di pantai, di rumah mewah bersejarah, di hotel, dan klub mahal. Mungkin, itulah sebabnya dia memandang sinis sebuah akhir kisah bahagia selamanya, terutama sejak cinta pertamanya berakhir tragis.

Saat Louna bertemu dengan Ambrose Little, si –cowok-penuh-pesona dalam sebuah acara pernikahan, dia membentangkan jarak dengan cowok yang tidak mungkin masuk daftar kencannya tersebut.

Namun, Ambrose tidak berkecil hati atas penolakan Louna. Cowok itu selalu punya cara brilian yang juga menakjubkan untuk memenangkan hati gadis yang benar-benar diinginkannya.
Setelah kejadian pada malam di toko satu dolar, apakah Louna masih berpikir tidak ada akhir yang bahagia dalam kisah cintanya?

----

Kisah bermula saat Louna harus menenangkan calon pengantin yang mendadak gelisah. Deborah, namanya, bertanya apakah Louna percaya pada cinta sejati?
Tentu saja tidak. Tapi dia tidak menjawab.
“Semoga beruntung. Semoga kalian selalu punya jawaban untuk pertanyaan penting satu sama lain.” – hlm 9
Lalu pernikahan selanjutnya adalah pernikahan milik Eve Little. Di sana, dia terpaksa menyeret anak lelaki Eve Little yang desersi dari acara. Dialah Ambrose Little, sedang tebar pesona kepada seorang gadis.

Bermula dari sanalah, Ambrose merasakan benih cinta itu, yang tumbuh secara tiba-tiba untuk Louna. Tapi gadis itu, yang mempunyai kisah suram tentang cinta, menolak mengakui bahwa dirinya juga tertarik kepada Ambrose hanya karena lelaki itu senang berkencan dengan siapa saja dalam waktu yang singkat.

Pernikahan selanjutnya adalah Bee Little, kakak dari Ambrose. Demi membuat Bee tenang menghadapi pernikahannya yang juga diurusi oleh Natalie Barrett, Natalie membuat Ambrose bekerja padanya. Itu artinya, dia akan bekerja dengan Louna.

Jilly, teman Louna yang sangat berharap Louna bisa sembuh dari lukanya dan kembali membuka hati, tidak berhenti mengenalkan gadis itu ke beberapa cowok, namun tidak ada yang berjalan dengan lancar. Sampai akhirnya Ambrose mengejeknya, Louna balas mengejek, lalu berlanjut dengan taruhan.

Ambrose ditantang untuk berkencan dengan satu cewek saja selama 7 minggu sementara Louna harus banyak berkencan dengan cowok-cowok yang berbeda selama 7 minggu pula. Yang menang, bebas memilih siapa pun untuk jadi pacar selanjutnya bagi yang kalah. Siapa yang akan menang?

Kisah yang cukup unik buatku, bertemakan Wedding Planner, sedikit banyak memberiku pengetahuan soal bagaimana proses dari perencanaan pernikahan. Awalnya aku kira novel ini adalah novel dengan karakter tokoh dewasa, namun ternyata novel ini adalah novel remaja, young-adult lah!
Aku suka kovernya yang cantik, dan agak sedikit serius makanya aku pikir ini novel dewasa, tapi jujur aku lebih suka kover versi aslinya XD

Pertama kalinya membaca novel Sarah Dessen dan di halaman pertama aku langsung jatuh cinta sama novel ini. Dimulai dari pertanyaan yang membuat aku langsung mengenal Louna dan memahami posisinya. Gaya bahasa yang mengalir dan enak untuk diikuti, santai dan manis, terjemahannya pun enak.

Aku sempat berpikir juga novel ini akan penuh drama anak muda atau gaya hidup ala barat yang terkesan liar namun di sini aku tidak menemukan itu dan aku sukaaa. Memakai sudut pandang Louna yang merupakan anak baik-baik dan sibuk membantu ibunya menjadi wedding planner, aku suka setting ini.

Konfliknya bisa dibilang cukup sendu karena Louna kehilangan mantan pacarnya yang sempurna itu secara tragis dan itu memengaruhi sikap dan pandangannya saat ini. Dengan alur maju mundur, novel ini mengajakku kembali ke masa lalu di mana Louna masih berbahagia dengan Ethan sekaligus suram di masa sekarang.

Di situlah karakter Ambrose tepat berada pada tempatnya. Dia tertarik pada Louna dalam satu pandangan. Namun gadis itu banyak menolaknya. Ambrose adalah tipe cowok yang mudah penasaran dengan wanita, tapi Louna membuat segalanya menjadi dua kali lebih sulit bagi Ambrose.
Tingkahnya yang tidak tertebak, selalu tebar pesona dan penuh ide-ide jahil membuat karakter Ambrose menjadi lovable menurutku, dia iseng dan sarat akan kejutan, Ambrose bagai pelangi di kisah hidup Louna yang datar dan muram.

“Aku semacam mirip enigma. Misterius, sulit ditebak.” – Ambrose (hlm 80)
Aku suka bagaimana Ambrose memberi tantangan itu kepada Louna, yakin bahwa dia akan menang. Karena semua orang tahu, Jilly tahu, William (rekan kerja Natalie) pun tahu, kalau Ambrose memenangkan taruhan ini, dia akan membuat dirinya sendiri menjadi pacar Louna yang selanjutnya.

Louna, yang menurutku sedikit kurang peka ini tidak sadar bahwa dia selalu gagal mencoba berkencan dengan seorang cowok, namun selalu bisa mengatasi Ambrose seajaib apa pun tingkahnya.
Aku sangat suka interaksi keduanya yang menggemaskan. Ambrose selalu punya cara untuk ‘mengganggu’ Louna. Tapi satu hal yang Ambrose nggak tahu, yaitu masa lalu Louna dan Ethan.

“Aku tidak mau menghancurkan keyakinanmu, tapi hanya karena kau membuat banyak permohonan bukan berarti kesempatan itu dikabulkan akan semakin meningkat.” – Louna to Ambrose (hlm 241)
Louna adalah gadis yang murung sekaligus mudah untuk dicintai. Dalam narasi-narasinya, dia mengajak pembaca untuk berpikir bahwa dia baik-baik saja, dia hanya belum bisa menemukan cinta yang selanjutnya karena masih terbayang Ethan dan bagaimana hubungan mereka berakhir.
“Terkadang melupakan sama buruknya dengan mengingat.” – hlm 113
“Kita berhenti memercayai harapan ketika satu-satunya yang kau inginkan tidak terkabulkan.” – hlm 242
Well, aku suka kisah remaja ini, manissss dan sendu sekaligus, kemistri antara kedua tokoh yang kuat, feel cerita yang sangat dapet. Ceritanya yang heartwarming dan sekaligus membuat kita bakal percaya dengan yang namanya cinta sejati meskipun setiap cerita tidak harus happy ending.
“Kita tidak bisa mengukur cinta dari waktu yang dihabiskan bersama, tapi dari betapa bermaknanya momen-momen tersebut.” – hlm 118
p.s ada satu rasa penasaran soal Phone Lady yang mendadak bikin merinding di bagian akhir namun sayangnya nggak ada penjelasannya:’)

“Hidup membentuk seseorang dalam cara-cara yang unik. Tidak ada yang dapat benar-benar mengerti bagaimana masing-masing kejadian pada masa tahun lalu –berat dan ringan– telah mengasahku menjadi diriku sekarang, tajam di beberapa tempat, lebih kapalan dai tempat-tempat yang lain. Aku bukan monster. Belum.” – hlm 139
“Seluruh hal tentang jatuh cinta, sangat romantis, hal penting. Kapan kau mendapatkan itu?” – hlm 275
“Isn’t that the way everything begins? A night, a love, a once and for all.”[]

Senin, 15 Oktober 2018

[RESENSI] Ready Player One by Ernest Cline

instagram: @Arthms12

Judul: Ready Player One
Penulis: Ernest Cline
Penerjemah: Hetih Rusli
Penyunting: Raya Fitrah
Penyelaras Aksara: Muthia Esfand
Desain Sampul: Sukutangan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (Maret 2018)
Jumlah halaman: 544 hlm.
ISBN: 9786020382777

Blurb:

Pada tahun 2045, realitas adalah tempat yang buruk. Wade Watts hanya merasa sepenuhnya hidup saat masuk ke dunia utopia virtual yang dikenal sebagai OASIS.

Wade membaktikan hidupnya untuk mempelajari teka-teki tersembunyi dalm dunia virtual tersebut. Teka-teki yang berasal dari James Halliday, sang pencipta OASIS, tempat Halliday menyembunyikan harta peninggalannya yang paling berharga dalam obsesinya terhadap budaya pop dan permainan video tahun 1980-an.

Saat Wade menemukan petunjuk pertama, seluruh dunia mengejarnya, karena banyak orang yang rela membunuh demi menemukan rahasia tempat Halliday menyembunyikan hartanya. Dan sejak itu dimulailah perburuan yang sesungguhnya.

Bagi Wade, ini bukan sekadar perburuan, tapi bagaimana dia bisa menyelamatkan dunia virtual tempatnya berlindung, dan pada saat yang sama berusaha menyelamatkan orang-orang yang dicintainya di dunia nyata. Satu-satunya cara bagi Wade untuk bisa melakukan adalah dengan memenangi perburuan itu.

---

Kita mulai dari menjelaskan apa itu OASIS (versi mudah dan pendeknya yak). OASIS adalah dunia virtual ciptaan James Halliday. Di sana semacam suatu galaksi lagi, banyak planet-planet dan terbagi beberapa sektor, di setiap planet pokoknya kita bisa melakukan apa pun yang kita mau sesuai dengan minat dan bakat. (lah).

Peralatannya hanya butuh komputer, sarung tangan dan visor semacam kacamata gitu kayak disampulnya. Terus tinggal login, masuk deh ke OASIS. Di sana juga kita pake avatar yang bebas dimodifikasi sesuka hati.

Bukan lagi sebatas game yang ngumpulin poin atau benda-benda senjata buat naikin level avatar, OASIS sekarang menjadi gaya hidup. Banyak orang yang menghabiskan sisa waktunya di OASIS. Bahkan sampai sekolah pun bisa di OASIS. Keren banget ya? Mau sekolah cukup login aja nggak repot-repot pergi ke sekolah XD

Salah satunya Wade Watts. Bosan karena jadi pecundang yang nggak pernah punya teman dan suka dibully, Wade pindah ke sekolah ke OASIS. Di dunia virtual itu, Wade bukan lagi pecundang, dia merasa bebas dan nyaman menjadi dirinya sendiri dengan nama avatar Parzival.

Dia punya sahabat di OASIS bernama Aech, avatarnya seorang cowok tinggi dan menurut bayanganku sih, gagah gitu, jago bertarung juga. Parzival juga punya idola, seorang bloger cewek yang bawel dan sama jagonya bernama Art3mis.

Lalu, konflik dimulai saat Parzival menemukan berhasil menemukan satu kunci dari tiga yang disembunyikan Halliday untuk menemukan easter-egg atau tempat yang menyimpan seluruh harta kekayaannya setelah meninggal.

Easter-egg menjadi perburuan yang diincar semua pengguna OASIS, bahkan butuh lima tahun bagi Parzival untuk menemukan letak kunci itu.

Jujur pertama kali aku baca halaman pertamanya aja, aku langsung jatuh cinta sama gaya bercerita Ernest Cline yang elegan tapi asik. Belum lagi prolognya yang langsung bikin penasaran.
Menurutku, world buildingnya juga bagus banget, novel ini bener-bener dilengkapi detail yang rinci jadi nggak bikin bingung. Meskipun yeah, aku cukup gereget sama deskripsi sepanjang jalan kenangan ini karena menurutku bikin alurnya jadi lambat, belum lagi, kadang memang ada kejadian-kejadian yang nggak begitu penting.

500++ halaman ini bikin aku kenyang dengan memuaskan pokoknya! Aku tetap menikmatinya meskipun narasi deskripsinya banyak XD

Konfliknya juga keren banget, aku nggak punya kata-kata lain selain keren. Perburuan untuk memperebutkan harta Halliday di dunia virtual. Apakah akan jatuh ke tangan yang tepat ataukah jatuh ke tangan musuh, perusahaan bernama IOI yang menginginkan OASIS menjadi dunia virtual yang mengerikan?

Parzival, Aech, Art3mis dan sahabat baru dari Jepang bernama Shoto melawan Sorrento dari IOI dan puluhan pemburu (gunter) dari IOI yang disebut sixer. Mereka sama-sama menjadi sepuluh teratas papan skor yang berhasil menemukan kunci dan gerbang-gerbang menuju easter-egg. Masalahnya,
IOI melakukannya dengan cara curang.

Disamping teka-teki membingungkan dari Halliday, novel ini juga terdapat konflik lain seperti IOI yang berusaha membunuh Parzival dan kawan-kawannya di dunia nyata. Menurutku konfliknya luar biasa pelik dan seru. Banyak kejutan-kejutan di dalamnya yang bikin aku semangattttt!

Belum lagi ada konflik asmara antara Parzival dan Art3mis yang bikin gemes. Aku suka interaksi keduanya. Karena mereka semua hanya pernah bertemu secara virtual di OASIS, aku sempat membayangkan jika salah satu dari mereka adalah pengkhianat...

Karakter, aku suka Parzival dan Art3mis. Seperti kebanyakan Hero, Parzival ini dibuat sekeren mungkin oleh Ernest Cline. Aku suka dia yang berani dan bodoh dalam mengambil risiko, ide-idenya yang genius dan selera humornya yang asik. Sempet heran kenapa dia nggak bisa punya temen di dunia nyata? Hm.

Art3mis tokoh heroin di sini, meskipun nggak terlalu tipe-favoritku-banget, Art juga keren kok. Selera humornya setingkat sama Parzival, aku suka cara mereka berinteraksi. Hanya saja karena POV-nya pakai POV Parzival, Art kurang dieksplor. Tapi aku tahu dia keren :D

Aech, ouw my man. Satu kata buat dia: syok. Aku syok padamu Aech XD

Overall, saking bersemangatnya aku mengikuti petualangan Parzival sampai dikejar-kejar IOI di dunia nyata trus harus ganti nama dari Wade jadi Bryce demi sembunyi....setelah semua ini..setelah semua rahasia-rahasia yang terungkap, dan begitu banyaknya detail yang harus diingat, kuputuskan AKU SUKA!

Novel ini begitu membara seperti api dan begitu rumit dan menegangkan dan mengejutkan pokoknya W.O.W :D

5 stars!!

“Bagian terburuk menjadi anak-anak adalah tak ada seorang pun yang memberitahu kebenaran tentang keadaanku. (...). Jadi aku menelan bulat-bulat segala omong kosong masa kegelapan yang mereka cekoki. Waktu pun berlalu. Aku bertambah umur, dan lambat laun aku menyadari bahwa nyaris semua orang membohongiku tentang segalanya sejak aku keluar dari rahim ibuku. (...) Hal ini membuatku jadi tidak mudah percaya di kemudian hari.” – hlm 28
“Ibuku sering memaksaku logout setiap malam karena aku tak pernah mau kembali ke dunia nyata. Karena dunia nyata tidak menyenangkan.” – hlm 32
“Aku sudah berjudi dengan keberuntunganku lebih daripada yang bisa dilakukan orang waras.” – hlm 405
“Sepanjang hidupku, aku selalu takut. Terus ketakutan sampai aku mengetahuinya menjelang ajal. Pada saat itulah aku sadar, seberapa pun menakutkan dan menyakitkan kenyataan itu, tapi hanya di sana satu-satunya tempat kau bisa menemukan kebahagiaan sejati. Karena kenyataan itu nyata. Kau mengerti?” – James Halliday (hlm 530)

Diberdayakan oleh Blogger.

Fav-Qoutes

"Kekuatan ada pada diri orang-orang yang tetap bangun dan menjalani setiap hari meski hal terakhir yang ingin mereka lakukan adalah hidup. Kekuatan datang dari senyum mereka yang bersedih, dari orang-orang yang telah kehilangan segalanya namun tetap bertahan." (Some Kind of Wonderful by Winna Efendi

"Billie tidak bisa berhenti bertanya-tanya dengan naif mengapa beberapa wanita mendapatkan banyak hal sejak mereka dilahirkan -kecantikan, pendidikan, kekayaan, bakat- sementara yang lain harus memulai hidup dengan begitu sedikit anugerah." (The Girl On Paper by Guillaume Musso)

“Dia akan pergi lagi. Dia akan pergi lagi dan lagi sampai umurnya cukup dewasa dan tidak ada lagi yang bisa mengirimnya pulang.” – hlm 363 (Little Fires Everywhere by Celeste Ng)