Senin, 15 Oktober 2018

[RESENSI] Ready Player One by Ernest Cline

instagram: @Arthms12

Judul: Ready Player One
Penulis: Ernest Cline
Penerjemah: Hetih Rusli
Penyunting: Raya Fitrah
Penyelaras Aksara: Muthia Esfand
Desain Sampul: Sukutangan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (Maret 2018)
Jumlah halaman: 544 hlm.
ISBN: 9786020382777

Blurb:

Pada tahun 2045, realitas adalah tempat yang buruk. Wade Watts hanya merasa sepenuhnya hidup saat masuk ke dunia utopia virtual yang dikenal sebagai OASIS.

Wade membaktikan hidupnya untuk mempelajari teka-teki tersembunyi dalm dunia virtual tersebut. Teka-teki yang berasal dari James Halliday, sang pencipta OASIS, tempat Halliday menyembunyikan harta peninggalannya yang paling berharga dalam obsesinya terhadap budaya pop dan permainan video tahun 1980-an.

Saat Wade menemukan petunjuk pertama, seluruh dunia mengejarnya, karena banyak orang yang rela membunuh demi menemukan rahasia tempat Halliday menyembunyikan hartanya. Dan sejak itu dimulailah perburuan yang sesungguhnya.

Bagi Wade, ini bukan sekadar perburuan, tapi bagaimana dia bisa menyelamatkan dunia virtual tempatnya berlindung, dan pada saat yang sama berusaha menyelamatkan orang-orang yang dicintainya di dunia nyata. Satu-satunya cara bagi Wade untuk bisa melakukan adalah dengan memenangi perburuan itu.

---

Kita mulai dari menjelaskan apa itu OASIS (versi mudah dan pendeknya yak). OASIS adalah dunia virtual ciptaan James Halliday. Di sana semacam suatu galaksi lagi, banyak planet-planet dan terbagi beberapa sektor, di setiap planet pokoknya kita bisa melakukan apa pun yang kita mau sesuai dengan minat dan bakat. (lah).

Peralatannya hanya butuh komputer, sarung tangan dan visor semacam kacamata gitu kayak disampulnya. Terus tinggal login, masuk deh ke OASIS. Di sana juga kita pake avatar yang bebas dimodifikasi sesuka hati.

Bukan lagi sebatas game yang ngumpulin poin atau benda-benda senjata buat naikin level avatar, OASIS sekarang menjadi gaya hidup. Banyak orang yang menghabiskan sisa waktunya di OASIS. Bahkan sampai sekolah pun bisa di OASIS. Keren banget ya? Mau sekolah cukup login aja nggak repot-repot pergi ke sekolah XD

Salah satunya Wade Watts. Bosan karena jadi pecundang yang nggak pernah punya teman dan suka dibully, Wade pindah ke sekolah ke OASIS. Di dunia virtual itu, Wade bukan lagi pecundang, dia merasa bebas dan nyaman menjadi dirinya sendiri dengan nama avatar Parzival.

Dia punya sahabat di OASIS bernama Aech, avatarnya seorang cowok tinggi dan menurut bayanganku sih, gagah gitu, jago bertarung juga. Parzival juga punya idola, seorang bloger cewek yang bawel dan sama jagonya bernama Art3mis.

Lalu, konflik dimulai saat Parzival menemukan berhasil menemukan satu kunci dari tiga yang disembunyikan Halliday untuk menemukan easter-egg atau tempat yang menyimpan seluruh harta kekayaannya setelah meninggal.

Easter-egg menjadi perburuan yang diincar semua pengguna OASIS, bahkan butuh lima tahun bagi Parzival untuk menemukan letak kunci itu.

Jujur pertama kali aku baca halaman pertamanya aja, aku langsung jatuh cinta sama gaya bercerita Ernest Cline yang elegan tapi asik. Belum lagi prolognya yang langsung bikin penasaran.
Menurutku, world buildingnya juga bagus banget, novel ini bener-bener dilengkapi detail yang rinci jadi nggak bikin bingung. Meskipun yeah, aku cukup gereget sama deskripsi sepanjang jalan kenangan ini karena menurutku bikin alurnya jadi lambat, belum lagi, kadang memang ada kejadian-kejadian yang nggak begitu penting.

500++ halaman ini bikin aku kenyang dengan memuaskan pokoknya! Aku tetap menikmatinya meskipun narasi deskripsinya banyak XD

Konfliknya juga keren banget, aku nggak punya kata-kata lain selain keren. Perburuan untuk memperebutkan harta Halliday di dunia virtual. Apakah akan jatuh ke tangan yang tepat ataukah jatuh ke tangan musuh, perusahaan bernama IOI yang menginginkan OASIS menjadi dunia virtual yang mengerikan?

Parzival, Aech, Art3mis dan sahabat baru dari Jepang bernama Shoto melawan Sorrento dari IOI dan puluhan pemburu (gunter) dari IOI yang disebut sixer. Mereka sama-sama menjadi sepuluh teratas papan skor yang berhasil menemukan kunci dan gerbang-gerbang menuju easter-egg. Masalahnya,
IOI melakukannya dengan cara curang.

Disamping teka-teki membingungkan dari Halliday, novel ini juga terdapat konflik lain seperti IOI yang berusaha membunuh Parzival dan kawan-kawannya di dunia nyata. Menurutku konfliknya luar biasa pelik dan seru. Banyak kejutan-kejutan di dalamnya yang bikin aku semangattttt!

Belum lagi ada konflik asmara antara Parzival dan Art3mis yang bikin gemes. Aku suka interaksi keduanya. Karena mereka semua hanya pernah bertemu secara virtual di OASIS, aku sempat membayangkan jika salah satu dari mereka adalah pengkhianat...

Karakter, aku suka Parzival dan Art3mis. Seperti kebanyakan Hero, Parzival ini dibuat sekeren mungkin oleh Ernest Cline. Aku suka dia yang berani dan bodoh dalam mengambil risiko, ide-idenya yang genius dan selera humornya yang asik. Sempet heran kenapa dia nggak bisa punya temen di dunia nyata? Hm.

Art3mis tokoh heroin di sini, meskipun nggak terlalu tipe-favoritku-banget, Art juga keren kok. Selera humornya setingkat sama Parzival, aku suka cara mereka berinteraksi. Hanya saja karena POV-nya pakai POV Parzival, Art kurang dieksplor. Tapi aku tahu dia keren :D

Aech, ouw my man. Satu kata buat dia: syok. Aku syok padamu Aech XD

Overall, saking bersemangatnya aku mengikuti petualangan Parzival sampai dikejar-kejar IOI di dunia nyata trus harus ganti nama dari Wade jadi Bryce demi sembunyi....setelah semua ini..setelah semua rahasia-rahasia yang terungkap, dan begitu banyaknya detail yang harus diingat, kuputuskan AKU SUKA!

Novel ini begitu membara seperti api dan begitu rumit dan menegangkan dan mengejutkan pokoknya W.O.W :D

5 stars!!

“Bagian terburuk menjadi anak-anak adalah tak ada seorang pun yang memberitahu kebenaran tentang keadaanku. (...). Jadi aku menelan bulat-bulat segala omong kosong masa kegelapan yang mereka cekoki. Waktu pun berlalu. Aku bertambah umur, dan lambat laun aku menyadari bahwa nyaris semua orang membohongiku tentang segalanya sejak aku keluar dari rahim ibuku. (...) Hal ini membuatku jadi tidak mudah percaya di kemudian hari.” – hlm 28
“Ibuku sering memaksaku logout setiap malam karena aku tak pernah mau kembali ke dunia nyata. Karena dunia nyata tidak menyenangkan.” – hlm 32
“Aku sudah berjudi dengan keberuntunganku lebih daripada yang bisa dilakukan orang waras.” – hlm 405
“Sepanjang hidupku, aku selalu takut. Terus ketakutan sampai aku mengetahuinya menjelang ajal. Pada saat itulah aku sadar, seberapa pun menakutkan dan menyakitkan kenyataan itu, tapi hanya di sana satu-satunya tempat kau bisa menemukan kebahagiaan sejati. Karena kenyataan itu nyata. Kau mengerti?” – James Halliday (hlm 530)

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Fav-Qoutes

"Kekuatan ada pada diri orang-orang yang tetap bangun dan menjalani setiap hari meski hal terakhir yang ingin mereka lakukan adalah hidup. Kekuatan datang dari senyum mereka yang bersedih, dari orang-orang yang telah kehilangan segalanya namun tetap bertahan." (Some Kind of Wonderful by Winna Efendi

"Billie tidak bisa berhenti bertanya-tanya dengan naif mengapa beberapa wanita mendapatkan banyak hal sejak mereka dilahirkan -kecantikan, pendidikan, kekayaan, bakat- sementara yang lain harus memulai hidup dengan begitu sedikit anugerah." (The Girl On Paper by Guillaume Musso)

“Dia akan pergi lagi. Dia akan pergi lagi dan lagi sampai umurnya cukup dewasa dan tidak ada lagi yang bisa mengirimnya pulang.” – hlm 363 (Little Fires Everywhere by Celeste Ng)