Senin, 14 Maret 2022

The Perfect World of Miwako Sumida (resensi)

 

source: goodreads



Judul: The Perfect World of Miwako Sumida

Penulis: Clarissa Goenawan

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2020)

Jumlah halaman: 368 hlm

Baca via: Gramedia Digital

 

Pertama kali baca novelnya Clarissa Goenawan. Akhirnya kesampean juga. Waktu pertama Rainbirds terbit, aku juga tertarik liat kover dan judulnya tapi tiap ada kesempatan baca di ipusnas rasanya males buat memulai. Mungkin karena blurbnya yang terkesan gloomy dan berat.

Tapi beda waktu pertama kali baca blurb TPWoMS ini, aku langsung tertarik dan langsung masukin ke daftar to-read di Goodreads haha.

TPWoMS bercerita tentang Miwako Sumida, well, not really actually, novel ini bercerita tentang tiga orang anak manusia yang kebetulan sama-sama kenal dan berhubungan dengan Miwako. Karena konflik dimulai dan cerita didasari karena Miwako yang bunuh diri, jadi ketiga orang tersebut nyeritain tentang Miwako deh.

Suicide case? Mystery? Lil bit thriller? At least those were what I thought I would find in this book. Reality? Not really haha.

Novel ini mengajak aku buat lebih mengenal sosok Miwako lewat tiga narator, sekaligus menikmati kisah tiga naratornya juga. Yang pertama ada Ryusei, cowok ganteng yang ketemu dan jatuh cinta sama sosok Miwako. Yang kedua ada Chie, sahabat Miwako. Dan yang ketiga ada Fumi-nee, kakak Ryusei sekaligus orang yang mempekerjakan Miwako di studionya.

Dari halaman pertama baca novel ini, aku udah mulai betah bacanya. Gaya penulisannya enak dibaca, thank the translator ya soalnya aku jadi nggak bosen meskipun ceritanya ngalir-ngalir adem gitu cocok buat bobo siang.

Alur cerita yang ditata dengan rapi pun bikin aku menikmati ceritanya. Dari mulai Ryusei yang jatuh cinta, selain bisa ngeliat gimana karakter dan kehidupan Ryusei, tentu sang tokoh utama Miwako juga digambarin dengan jelas di bagian satu ini. Sebenarnya aku sedikit kesulitan ngebayangin gaya penulisan yang mendayu-dayu ini dituturkan oleh pov kesatu laki-laki. Entah kenapa nuansanya lebih cocok pov perempuan, imo.

Di bagian kedua ada bagiannya Chie. Ada yang sedikit berbeda di bagian ini karena pov berganti jadi pov orang ketiga meskipun dari sudut pandang Chie. Alurnya juga jadi maju mundur, nyeritain gimana awal hubungan Chie dan Miwako.

Di bagian ini juga, daripada lebih mengenal sosok Miwako, aku justru lebih disuguhi karakter dan konflik batin Chie sendiri. Bisa dibilang, Miwako di sini hanya tempelan, karakter pendukung hidup Chie. Bagian ini nunjukin kalau Chie bener-bener kehilangan Miwako tapi dia berusaha untuk menerima kenyataan. Persahabatan Chie dan Miwako juga cukup seru dan hearwarming pas dibaca.

Di bagian ketiga ini adalah bagian yang paling seru. Awalnya aku mikir, Fumi nggak terlalu deket sama Miwako seperti Ryusei dan Chie, tapi kenapa dia dimasukin jadi salah satu narator? Dan yap, dari ketiga bagian, bagian Fumi adalah favoritku!!

Masih dengan pov ketiga sudut pandang Fumi, awalnya aku diajak untuk sedikit-sedikit flashback ke masal lalu Fumi sampe mikir, ini novel kok makin lama makin ngilang aja si Miwako? Kok jadi bahas Fumi? Tapi ternyata ya spekulasi hanyalah spekulasi, karena di akhir, benang merah pasti muncul haha.

Nggak bisa terlalu ceritain bagian Fumi karena akan major spoiler, darimulai identitas Fumi, plot-twist yang membagongkan, a lil bit thriller dan horor yang bikin aku –yang tadinya santai aja baca pas mau tidur lampu udah pada mati jadi merinding sendiri nengok kanan kiri haha.

Di bagian ini pula, rasa penasaranku soal sesempurna apa sih hidup Miwako sampai dijadiin judul akhirnya terbongkar. Dan kesimpulanku, sepertinya nggak ada satupun yang menganggap hidup Miwako itu sempurna kecuali dirinya sendiri AHAHAH.

“Mestinya aku tidak membohongi diri sendiri, atau orang lain.” Suawa Miwako memecah keheningan. “Mestinya aku tidak berpura-pura segalanya sempurna.” – hlm 352

Sepanjang cerita, aku nggak pernah mikir hidup Miwako sempurna, dan aku pun nggak menemukan Ryu, Chie, ataupun Fumi menganggap hidup Miwako sempurna. Cmiiw. Siapa tau kelewat.

Bagian milik Fumi bercerita tentang masa lalu Miwako. Yang menurutku udah banyak(?) ada di kehidupan nyata, mengerikan, sekaligus biasa, gitu deh, campur aduk, kayaknya diceritain secara biasa dan reaksi Fumi juga biasa makanya terasa agak flat tapi ngeri juga haha.

Yang bikin aku kurang puas dengan eksekusi cerita ini adalah, nggak begitu jelas alasan kenapa Miwako akhirnya bunuh diri. Oke, sebenernya cukup dijelasin, hanya saja bagi aku kurang ngena.

Selama ini kedua narator sebelumnya memang menceritakan Miwako di dalam hidup mereka, tapi bukan hidup, isi hati, dan isi pikiran Miwako sepenuhnya. Jadi buatku agak kurang ngena, karena cuma satu-dua paragraf aja nggak cukup, meskipun aku tau pasti berat juga jadi Miwako.

Overall, aku cukup menikmati cerita ini. Tulisannya bagus dan ceritanya menarik untuk dibaca. Sayangnya, aku jadi merasa buku ini kehilangan tujuan. Aku pikir akan lebih menemukan diri Miwako yang sesungguhnya dari novel ini. Makna yang sesungguhnya dipegang dari suicide case-nya Miwako. Tapi ternyata nggak.

Kesimpulannya? Aku juga nggak tau haha. Lebih ke cerita tentang cowok yang ditinggal pujaan hatinya, sahabat yang kehilangan sahabat terbaiknya, dan seseorang yang punya banyak rahasia akhirnya kebongkar rahasianya apa. Udah. Gitu aja.

Jadi, cuma bisa ngasih 3.5 buat The Perfect World of Miwako Sumida.

And anyway, tadinya mau baca Rainbirds juga, tapi ternyata pas baca ulang blurbnya, mirip-mirip sama TPWoMS ini, bedanya di Rainbirds tokoh yang jadi topiknya dibunuh, bukan bunuh diri. Jadi kayaknya aku nggak akan baca Rainbirds deh hehe, nuansanya sama (death case/mystery) jadi takut bosen.

Sekian.

Dont forget to tap follow button/submit your email below! See you in the next review and have a nice day!

 

 

 

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Fav-Qoutes

"Kekuatan ada pada diri orang-orang yang tetap bangun dan menjalani setiap hari meski hal terakhir yang ingin mereka lakukan adalah hidup. Kekuatan datang dari senyum mereka yang bersedih, dari orang-orang yang telah kehilangan segalanya namun tetap bertahan." (Some Kind of Wonderful by Winna Efendi

"Billie tidak bisa berhenti bertanya-tanya dengan naif mengapa beberapa wanita mendapatkan banyak hal sejak mereka dilahirkan -kecantikan, pendidikan, kekayaan, bakat- sementara yang lain harus memulai hidup dengan begitu sedikit anugerah." (The Girl On Paper by Guillaume Musso)

“Dia akan pergi lagi. Dia akan pergi lagi dan lagi sampai umurnya cukup dewasa dan tidak ada lagi yang bisa mengirimnya pulang.” – hlm 363 (Little Fires Everywhere by Celeste Ng)