Minggu, 13 Mei 2018

[RESENSI] Di Tanah Lada by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

IG: @arthms12



Judul: Di Tanah Lada
Penulis:Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2015)
ISBN: 9786020318967
Jumlah halaman: 244 hlm

Blurb:


Namanya Salva. Panggilannya Ava. Namun papanya memanggil dia Saliva atau ludah karena menganggapnya tidak berguna. Ava sekeluarga pindah ke Rusun Nero setelah Kakek Kia meninggal. Kakek Kia, ayahnya Papa, pernah memberi Ava kamus sebagai hadiah ulang tahun yang ketiga. Sejak itu Ava menjadi anak yang pintar berbahasa Indonesia. Sayangnya, kebanyakan orang dewasa lebih menganggap penting anak yang pintar berbahasa Inggris. Setelah pindah ke Rusun Nero, Ava bertemu dengan anak laki-laki bernama P. Iya, namanya hanya terdiri dari satu huruf P. Dari pertemuan itulah, petualangan Ava dan P bermula hingga sampai pada akhir yang mengejutkan.


-----

Review (from my goodreads)


Um, sebenernya bingung mau kasih rating 2 atau 3. Tapi karena aku orgnya gak tegaan, aku kasih 3 aja deh hehe.😳🔫

Well, banyak yg bilang novel ini bagus, sedih lah, bla bla, pernah denger juga katanya ini novel Ziggy yang paling bagus dibanding novel-novelnya yang lain.

Aku pribadi sih sejauh ini lebih suka Jakarta Sebelum Pagi.

Mulai dari gaya bahasa, lagi-lagi, Ziggy emang punya gaya bercerita yang khas, yang bisa membedakan novel-novelnya dengan novel lain. Kalau di antara novel Ziggy yang lain yang pernah aku baca, rasa flat di awal cerita pasti ada, tapi untuk Di Tanah Lada, aku merasa seluruh isi buku ini flat. Banget.😳

Belum lagi narasinya, yang meskipun khas, tapi aku dibuat capek karena 'racauan' Ava dan setiap kali dia harus menjelaskan suatu kata (yang pada dasarnya aku udah tau) tapi karena Ava yang cerita, jadi dia harus menjelaskan apa arti kata itu. Ini bikin aku capeeeek. Sumpah.

((sepertinya aku memang nggak cocok sama buku ini))

Konfliknya...hggg. konflik yang udah sering banget ada di dunia fiksi maupun dunia nyata. Diceritakan oleh seorang anak umur enam tahun. Sudut pandang anak kecil memang bikin semuanya tampak sederhana dan 'harusnya' bikin terharu atau bla bla. Tapi sayangnya aku gak merasakan itu. Konfliknya flat. Tentang Ava yang ketemu P, sama-sama punya ayah yang jahat, kabur, dan *tuut*. Not special enough for me. Aku gak bisa ikut ngerasa sedih waktu Ava tidur di kamar mandi atau di koper. Soalnya sih, Avanya sendiri (karena dia anak kecil), dia gak terlalu meresapi kalau yang terjadi sama dia adalah hal yang menyedihkan. Jadi ya gitu.

Karakternya, adalah hal yang paling mengganggu. Well, Ava itu bocah 6 tahun, dia kadang-kadang masih harus cari arti kata-kata yang udah umum diketahui orang yang lebih tua darinya tapi narasinya dan cara dia berpikir atau menyusun kalimat tuh kayak bukan anak kecil. Emang sih katanya Ava anak yang pinter, katanya Ava udah sohib sama kamus kemana-mana. Tapi aku tetep merasa aneh kalau anak kecil punya pikiran yang sekompleks itu. Hm.

Lalu ada lagi P. Sama-sama anak kecil, umurnya baru 10 tahun, keadaan yang mendewasakan dia, dia terlihat lebih normal daripada Ava, tapi sama aja sih P ini punya pikiran yg lebih kompleks.

Belum lagi obrolan Ava dan P yang kadang lucu kayak anak kecil pada umumnya (dan bikin aku ketawa) tapi kadang obrolannya kayak obrolan remaja yang sosoan udah gede. ((mereka ngobrolin menikah duhhh))

Ah ya, kadang aku juga heran sama kelakuan tokoh-tokohnya yang lain, kayak Mama Ava terutama bikin aku geleng-geleng kepala. Sayangnya bukan pov 3 sih jadi aku nggak tau sebenernya Mama Ava kenapa sih😂

Hal-hal yang aku suka: percakapan lucu Ava dan P, aku bisa reuni sama Alri huhuhu seneng bangettt (bagi yg gak tau, Alri ini tokoh utama di novel Seaside-nya Ziggy), aku juga nemu nama Suri, agak yakin kalau ini adalah Suri yang di novel JSP soalnya Suri dijelaskan rambut panjang dan hitam dan matanya sipit kalau senyum hehe, dan satu lagi yang aku suka adalah twist-nya hehehehe twist soal 'kebenaran' atas P ya, bukan endingnya.

Hal-hal yang aku kurang suka kayaknya udah aku sebutin di atas.

Overall, novel ini mengingatkanku dengan novel The Boy In The Stripped Pyjamas. (ada yg udah baca?) so, aku bisa nebak endingnya kayak gimana. Dan aku bener. Jadi gak kaget lagi pas baca endingnya hoho. Ketauan duluan:(

Tadinya mau kasih 2 bintang aja, 1 bintang buat Alri, satu bintang lagi buat twistnya yg cukup bikin tercengang😂💕
 Tapi tambahin jadi 3 buat percakapan P dan Ava yang gemesin serta ilustrasinya yang lucuuuu :3

2 komentar:

  1. Hi! Cuma mau kasih tau kalau di JSP itu Suki bukan Suri hehehe

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Fav-Qoutes

"Kekuatan ada pada diri orang-orang yang tetap bangun dan menjalani setiap hari meski hal terakhir yang ingin mereka lakukan adalah hidup. Kekuatan datang dari senyum mereka yang bersedih, dari orang-orang yang telah kehilangan segalanya namun tetap bertahan." (Some Kind of Wonderful by Winna Efendi

"Billie tidak bisa berhenti bertanya-tanya dengan naif mengapa beberapa wanita mendapatkan banyak hal sejak mereka dilahirkan -kecantikan, pendidikan, kekayaan, bakat- sementara yang lain harus memulai hidup dengan begitu sedikit anugerah." (The Girl On Paper by Guillaume Musso)

“Dia akan pergi lagi. Dia akan pergi lagi dan lagi sampai umurnya cukup dewasa dan tidak ada lagi yang bisa mengirimnya pulang.” – hlm 363 (Little Fires Everywhere by Celeste Ng)