Selasa, 01 Mei 2018

[RESENSI] Un Treno Per Non So (Kereta Tanpa Tujuan) by Ifa Inziati

IG: arthms12



Judul: Un Treno Per Non So (Kereta Tanpa Tujuan)
Penulis: Ifa Inziati
Ilustrasi sampul: Sukutangan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (2018)
ISBN: 978-602-03-8083-4
Jumlah halaman: 312 hlm.

Blurb:
Jadi, Alita, ketika hujan emas turun, berdoalah. Karena perasaan bahagia kita sedang menyatu dengan alam.”

Sebelum kepergian ibunya, Alita mendapat kenang-kenangan istimewa, yaitu dongeng berjudul Hujan Emas. Alita memegang erat dongeng karangan ibunya itu selama sembilan tahun, bahkan sampai ayahnya menikah lagi dan gadis itu tak punya waktu untuk peduli pada ibu tirinya. Dongeng itu juga mengikuti Alita ke Turin, Italia, saat dia menjalani program pertukaran pelajar.

Di Turin, Alita tinggal bersama suami-istri pemilik penginapan dengan masakan lezat tiap hari, berteman dengan murid sekelas yang heboh, serta bertemu teman seperjuangan satu program. Ketika Alita berpikir bayangan ibu tirinya tak lagi mengganggu dan dongeng hujan emas masih tersimpan baik di hatinya, Pier datang membawa ide hujan emas yang persis sama, yang mengusik jiwa gadis itu.

Alita lantas mencari tahu bagaimana Pier bisa mengetahui dongeng satu-satunya itu. Namun, Pier justru memberikannya jawaban lain. Pemuda itu malah menunjukkan Turin pada Alita dengan caranya sendiri, membuat Alita menemukan sisi lain kota itu. Tak disangka, seiring menjelajahi sudut Turin, Alita juga menemukan sisi lain Pier, apa yang pemuda itu sembunyikan, dan konsekuensi yang harus Alita tanggung karena telah menaiki kereta tanpa tujuan.
---
Ketika pertama kali aku membaca judulnya yang asing, aku nggak begitu tertarik. Justru, judul dalam bahasa Indonesianya yang membuatku tertarik setengah mati. Kereta Tanpa Tujuan, memang terlihat biasa tapi bagiku, penggemar kereta, judul ini membuatku menyimpulkan bahwa kisah ini sangat dalam dan hangat. Belum lagi kovernya yang hijau segar dengan pemandangan rel kereta yang berkelok. Aku tahu pasti novel ini bakal bener-bener hebat!

And I wasn’t wrong. Yes. This book is very amazing!

Bicara soal plot, mungkin aku harus mengatakan ini. Plotnya lambat. Seratus halaman awal jujur aku bosan, tapi aku nggak ada sedikitpun niat untuk menunda buku ini apalagi selingkuh sama novel lain XD. Seratus halaman awal hanya berupa pengenalan Alita dengan lingkungan barunya di Italia yang digambarkan dengan apik oleh penulis.

Aku merasa benar-benar berada di Italia XD Terus, kok aku bosen? Karena aku tipe yang lebih suka langsung berhadapan dengan konflik. Namun, karena aku sadar ini novel teenlit, jadi aku rasa wajar dan memang terasa pas kalau awalan novelnya seperti itu. Terlepas dari itu, gaya penulisannya enak buat dibaca, nggak berat, detail dan pastinya ‘ngena’. Bikin aku tertohok di mana-mana XD

Konfliknya memang tidak berat, sama sekali, ringan dan sangat bisa membuat aku merenung lama. Alita bertemu Pier yang ternyata tahu soal cerita Hujan Emas membuatnya merasa bahwa dia menemukan kepingan diri ibunya yang hilang di diri Pier. Meski awalnya Alita mengaku kesal karena dia merasa ada yang mencuri satu-satunya kenangan dari ibunya, tapi aku bisa merasakan bahwa bagaimanapun, Alita suka kenyataan itu.

Tapi setelah sering melakukan banyak hal dengan Pier, dia menemukan sisi lain Pier yang sejujurnya aku juga kaget :D selain itu ada konflik lain yang berhubungan dengan Pier, aku suka bahwa Pier menampar Alita dengan kenyataan yang sesungguhnya.

“Tak ada yang ingin dijadikan pelarian, Alita. Bahkan kota ini.”

Well, bukan hanya Alita yang tertohok sampai menangis. Aku juga tertohok. Sampai-sampai aku harus menutup buku ini sebentar hanya untuk merenung. Kebanyakn konflik memang berpusat pada konflik batin Alita sendiri, karena novel ini mempunyai sudut pandang orang pertama.
Ditinggal ibunya saat berusia delapan tahun, memiliki ibu tiri, giat belajar hanya karena ingin melarikan diri dari ibu tirinya dengan cara pertukaran pelajar ke Italia, dan di Italia, dia menemukan seluruh jawaban yang tidak didapatnya di Bandung.

Tokoh. Sejujurnya aku tidak terlalu suka Alita. Bukan dalam artian yang buruk. Tapi penulis berhasil membuat sosok anak gadis berusia tujuh belas tahun. Setiap tingkah laku Alita, ucapannya, caranya berpikir dan keputusan-keputusan yang diambilnya membuatku benar-benar percaya dia berusia tujuh belas tahun. Terutama ketika dia baperan sama Pier, itu bikin aku pengin nyentil Alita👌

Dani karena dia yang bercerita di novel ini, itu membuat Alita lebih mudah kukenal. Belum lagi, karena aku pun hampir memiliki sifat-sifat yang sama ketika seusia Alita, makanya aku tidak terlalu suka Alita, tapi dia adalah karakter yang berhasil!

Lalu ada Pier. Awalnya aku pikir Pier akan jadi anak lelaki seusia Alita yang tidak cuma akan mengganggunya di sekolah tapi akan membawanya menjelajahi Turin. Nol besar. Aku salah. Novel ini bukan teenlit cinta semasa remaja yang penuh drama. Pier adalah sosok mahasiswa sastra(?), kalem, dewasa dan tentunya tampan XD Dia adalah tokoh yang paling aku suka di novel ini. 

Kedewasaannya terutama. Gimana cara Pier menghadapi sosok Alita yang belum dewasa, caranya bicara, dan ciri khas uniknya: tidak pernah menjawab pertanyaan, tapi mengalihkan ke jawaban lain. AKU SUKA.

Setelah semuanya, aku juga punya satu hal yang disayangkan, ada banyak kata dalam bahasa Italia tapi nggak ada footnote-nyaL Meskipun mungkin cuma satu kata atau satu frasa, tapi aku tetap suka kalau ada footnote-nya.

Aku juga penasaran sama cerita akhir Hujan Emas yang dikarang Pier :(

Hal yang paling aku suka: interaksi Pier dan Alita. Mereka menggemaskan huhu. Tapi bakal lebih suka kalau Alita nggak jatuh cinta pada Pier. Hubungan mereka bener-bener alami. Tanpa perasaan suka-sukaan, novel ini udah sangat-sangat bagus! Aku juga suka cara Mami berbicara sama Alita, sampai nangis dibuatnya😭

Overall, aku sangat suka novel ini. Inilah bukti novel teenlit yang sesungguhnya. Percaya atau nggak, aku beneran nangis waktu baca ucapan Mami (ibu tiri Alita) di telepon. Disamping cerita Alita, Pier dan Hujan Emas mereka, novel ini juga mengenalkan banyak hal soal Italia, tradisinya, suasananya, keadaan anak-anak remaja di sekolah, halloween, serta novel ini adalah novel realistis yang bikin merenung. Banyak pelajaran berharga yang bisa diambil dari setiap keputusan Alita, meskipun masalahnya nggak sama persis, jalan keluarnya bisa menyentil setiap masalah yang umum dialami remaja pada umumnya.

Aku suka endingnya. SANGAT. Sesuai ekspektasi. Aku berterimakasih kepada penulis karena membuat ending Pier-Alita yang seperti itu. MAKASIH BANYAK. Aku mungkin akan merasa sedikit kecewa seandainya Pier dan Alita tidak berakhir seperti itu huhuhu. Ending-nya bener-bener bikin aku rela nggak rela novel ini selesai. Alita udah belajar banyak, begitupun aku. Novel ini menyadarkanku tentang banyak hal. Tentang hidup.

Ini novel teenlit paling OKE sejauh yang pernah aku baca selama ini. Untuk penulis, terima kasih sudah menulis novel ini. Terima kasih udah nyiptain bacaan yang benar-benar sesuai untuk remaja. Terima kasih untuk nggak menghadirkan romance yang terlalu kental. Un Treno Per Non So adalah novel remaja terkeren dan high recommended bagi semua orang, nggak cuma remaja! 4,5 stars.

Qoute yang paling aku suka:

"Namun, seiring waktu, semakin aku mengerti tak semua doa dikabulkan, dan aku merasa meniup lilin adalah sia-sia."

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Fav-Qoutes

"Kekuatan ada pada diri orang-orang yang tetap bangun dan menjalani setiap hari meski hal terakhir yang ingin mereka lakukan adalah hidup. Kekuatan datang dari senyum mereka yang bersedih, dari orang-orang yang telah kehilangan segalanya namun tetap bertahan." (Some Kind of Wonderful by Winna Efendi

"Billie tidak bisa berhenti bertanya-tanya dengan naif mengapa beberapa wanita mendapatkan banyak hal sejak mereka dilahirkan -kecantikan, pendidikan, kekayaan, bakat- sementara yang lain harus memulai hidup dengan begitu sedikit anugerah." (The Girl On Paper by Guillaume Musso)

“Dia akan pergi lagi. Dia akan pergi lagi dan lagi sampai umurnya cukup dewasa dan tidak ada lagi yang bisa mengirimnya pulang.” – hlm 363 (Little Fires Everywhere by Celeste Ng)