Senin, 24 September 2018

[RESENSI] Warcross by Marie Lu

instagram; @arthms12



Judul: Warcross
Penulis: Marie Lu
Penerjemah: Nadya Andwiani
Penyunting: Dyah Agustine
Proofreader: Emi Kusmiati
Penerbit: Mizan Fantasi (Maret 2018)
Jumlah halaman: 472 hlm
ISBN: 978-602-6699-11-4

Blurb:

Warcross bukan sekadar permainan. Ini adalah gaya hidup.

Warcross adalah game yang tiba-tiba mengobsesi jutaan bahkan miliaran orang di dunia sejak sepuluh tahun lalu. Tak hanya sebagai katarsis untuk melupakan realita, bagi orang-orang tertentu Warcross adalah pengeruk keuntungan–besar-besaran.

Emika Chen meretas The International Warcross Championships dan aksinya itu membuat game mengalami malfungsi. Bukannya dipenjara, Emika malah ditawari menjadi mata-mata oleh Hideo Tanaka, sang pencipta Warcross. Tanaka ingin Emika menjadi bounty hunter, melacak pemain Warcross yang bertaruh secara ilegal. Tak disangka, penyelidikannya menguak sebuah plot jahat yang bisa menghancurkan tak hanya Warcross, tapi juga tatanan dunia.

---

Kisah fiksi ilmiah, di mana dunia game adalah tema novel ini. Game itu bernama Warcross, diciptakan oleh sosok miliader asal Jepang yang tampan dan genius, Hideo Tanaka. Warcross sendiri adalah permainan di mana dua tim saling bertarung untuk memperebutkan artefak masing-masing kelompok, tentunya secara virtual. Alat yang digunakan hanyalah sebuah kacamata yang mampu membuat sosok avatar kita masuk ke dalam dunia game dan bermain.

Lalu ada Emika, hidupnya yang kacau semenjak kematian ayahnya serta utang di mana-mana membuatnya terpaksa menjadi pemburu bayaran, dia menangkap penjahat judi ilegal Warcross yang tidak bisa ditangkap polisi karena terlalu sibuk. Karena terdesak, Emika terpaksa meretas Warcross saat pembukaan kejuaraan, demi mendapatkan item yang mahal untuk dijual secara ilegal.

Namun, dia ketahuan. Hideo Tanaka mengiriminya sebuah jet pribadi dan menjemputnya khusus untuk dibawa ke Jepang. Di sana, Emika ditawari menjadi pemburu bayaran bagi Hideo. Karena, ada seseorang yang misterius telah beberapa kali meretas dan mengacaukan Warcross. Tugas Emika adalah memburu orang itu. Salah satu cara agar misinya sukses adalah menjadi wildcard, calon pemain resmi yang akan direkrut oleh pemain resmi Warcross pada acara Wardraft.

Di sana ia bertemu dengan timnya, teman-temannya, berlatih dan mengikuti babak penyisihan sesuai ketentuan. Di samping kegiatan itu, ia juga harus memburu pelaku peretasan Warcross yang dijuluki Hideo sebagai Zero, bahkan sampai ke Dark World. (Kalau di dunia nyata, Dark World di novel ini semacam deep web, bagi yang belum tau, silakan searching apa itu deep web dan gimana keadaan di sana, 11 12 sama Dark World-nya Warcross)

Tetapi penyelidikannya malah berujung kepada plot twist yang cukup menegangkan.

---

Setelah membaca karya Marie Lu sebelumnya dan merasa kelam selama tiga buku, Warcross menyajikan cerita yang cukup cerah. Karakter Emika Chen menjadi narator cerita ini membuatku langsung jatuh cinta karena dia tipe cewek yang mandiri dan badass. Belum lagi penampilan fisiknya yang menurutku keren; rambut pelangi dan tato di sepanjang tangan kiri.

Gaya bahasa Marie Lu juga lumayan asik, menurutku, dia udah pas banget nulis narasi kelam macam TYE Series jadi ketika berubah tema ke yang menyenangkan kayak gini, aku kurang bisa merasakan gaya bercerita yang asiknya. Seharusnya bisa lebih asik lagi, gitu, heu.

Plotnya, well, aku memang suka ide ceritanya dan konfliknya tapi awal-awal cerita ini aku merasa idenya sangat fangirl-gimana-gitu. Karena ceritanya Emika ini fans-nya Hideo, tiba-tiba dijemput pake jet pribadi dan utang-utangnya dibayarin dan lain-lain yang bikin Emika berasa di dunia gemerlap tiba-tiba, aku merasakan ini memang mainstream, tapi lucu kok aku suka :D

Memang menyenangkan dan aku menikmati membaca novel ini, kejutan-kejutan kecil di dalam misi Emika juga seru, belum lagi tiap Hideo ada di dalam cerita, aku nggak bisa nggak terpesona sama sosoknya. Tapi seperti yang aku ingat di novel The Young Elites dan The Rose Society, pola Marie Lu adalah biasa-biasa di awal dan menuju akhir barulah kekerenan itu muncul.

Aksi-aksi Emika dan timnya ketika melawan tim lain di pertandingan Warcross final paling bisa mengeluarkan seluruh semangatku, ditambah lagi Zero yang muncul dan membuat suasana menjadi tegang, lalu jangan lupakan romansa Hideo dan Emika yang bikin baper XD

Satu hal yang paling aku keluhkan adalah narasinya yang terlalu banyak deskripsi. Aku yang tipe pembaca nggak sabaran ini kewalahan ketika membaca deskripsi yang banyak, antara nggak sabar sama bingung membayangkannya, karena Marie Lu emang khayalannya tinggi :’D

Setting novel ini adalah di Jepang! Yap, inilah salah satu faktor kenapa aku semangat banget! Marie Lu asal China, besar di Amerika dan menulis buku dengan latar dan tokoh utama orang Jepang *applause* meski Jepangnya nggak begitu kerasa banget ya, hiks, tetep aja aku excited banget >.< sensasinya beda aja gitu XD

Untuk karakter, paling menonjol pastilah Emika. Emika dan misinya. Sesekali Emika dan Hideo. Memang awal-awal Hideo agak jarang muncul, dan kalau muncul pun paling gitu gitu aja ngomongin kegeniusan dia dan misi Emika. Itu juga yang bikin aku agak kaget karena tau-tau Hideo udah naksir Emika. PDKT-nya nggak ada. Rada nggak srek sama perubahan perasaan Hideo ini tapi tetep aja pas baca momen mereka bikin baper ;’)

Sejujurnya OTP yang satu ini bener-bener tipeku bangettt! Emika Chen yang badass, hacker genius, supel dan cantik disandingkan dengan Hideo Tanaka yang dingin, necis, genius, kaya raya, pintar, misterius dan sinis ;’)

Overall, aku suka banget scifi yang satu ini. Penuh ketegangan dan romansa yang manis. Meski masih banyak kebingungan dan ngga paham sama istilah teknologi, tetapi aku tetap menikmati ceritanya. Plot-twist-nya yang cakep abissss. Keren. Novel ini keren banget!
Tapi, belajar dari pengalaman, aku nggak mau terlalu jatuh cinta sama buku-buku Marie Lu lagi karena takut akhirnya akan patah hati ;’)

Aku menunggu Wildcard diterjemahkan di Indonesia!

4.8 stars.

“Dia biasa berkata bahwa seharusnya aku mengenakan pakaian seolah-olah dunia adalah tempat yang lebih baik daripada yang sebenarnya.” – hlm 38
“Jika aku bisa memecahkan masalah-masalah ini, aku bisa mengendalikan sesuatu.” – hlm 55
“Kelihatannya aku menjadi senjata rahasia bagi lebih banyak orang daripada yang kusukai.” – hlm 172
“Mereka percaya setiap objek punya jiwa. Semakin kau memberinya cinta, semakin indah kelihatannya.” – hlm 323
“Dan, memangnya orang kebanyakan pandai memilih pemimpin mereka?” – Hideo (hlm 451)

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Fav-Qoutes

"Kekuatan ada pada diri orang-orang yang tetap bangun dan menjalani setiap hari meski hal terakhir yang ingin mereka lakukan adalah hidup. Kekuatan datang dari senyum mereka yang bersedih, dari orang-orang yang telah kehilangan segalanya namun tetap bertahan." (Some Kind of Wonderful by Winna Efendi

"Billie tidak bisa berhenti bertanya-tanya dengan naif mengapa beberapa wanita mendapatkan banyak hal sejak mereka dilahirkan -kecantikan, pendidikan, kekayaan, bakat- sementara yang lain harus memulai hidup dengan begitu sedikit anugerah." (The Girl On Paper by Guillaume Musso)

“Dia akan pergi lagi. Dia akan pergi lagi dan lagi sampai umurnya cukup dewasa dan tidak ada lagi yang bisa mengirimnya pulang.” – hlm 363 (Little Fires Everywhere by Celeste Ng)