Minggu, 19 Agustus 2018

[RESENSI] Dharitri by Nellaneva

IG: @arthms12



Judul: Dharitri
Penulis: Nellaneva
Cover illustration: Choi Archie Amano
Illustration: Choi Archie Amano
Editor: Muhajjah Saratini
Penerbit: Inner Child Crowdfund Publisher – ICC Publisher (2017)
Jumlah halaman: 376 hlm
ISBN: 987-602-74865-1-5

Blurb:
Dunia Baru, bentuk restorasi setelah Perang Dunia III, diyakini sebagai dunia yang lebih baik bagi sisa umat manusia di Bumi. Pernyataan itu rupaya tidak berlaku bagi Aran dan Shreyas. Terdampar di Dharitri, negara pembangkang yang menolak konsep Dunia Baru, mereka berdua mencari cara untuk mempertahankan eksistensi negara tersebut.

Selamat menikmati Dharitri, tempatmu menemukan bagian dirimu yang hilang dan merengkuh rekan sejatimu. Negeri mentari yang merangkul para petualang, selama kamu tidak tahu apa yang tertanam di dalamnya.

---

Dharitri, dengan kover seekor naga, bercerita tentang Aran atau Ranala yang tadinya ingin ‘melarikan’ diri dari unit 41 tempatnya tinggal di Dunia Baru alih-alih terdampar di tanah asing negara Dharitri. Di sana ia bertemu Lal, naga yang terluka dan menjadi sahabat setelah Aran mengurusnya.

Wabah penyakit di desa tempat seseorang menampung Aran, membuatnya terpaksa mengikuti Laga, sebuah acara mirip gladiator di mana dia harus bertarung demi mendapatkan uang untuk membeli obat. Tak disangka, justru Laga itu membawanya pada Rayon Pusat dan ‘paksaan’ menjadi salah satu anggota Bala Karta yang berhubungan dengan Hibrida, hewan-hewan hasil rekayasa genetika seperti Lal yang berkeliaran secara bebas di Dharitri.

Timnya, Adhyastya Hibrida, menemukan suatu gerakan pemberontakan yang melibatkan para Hibrida. Aran berserta kawan-kawannya berusaha menghentikan pemberontakan itu, namun salah satu timnya yang bernama Shreyas justru ingin mengeluarkan Aran dari tim. Aran tidak tahu, bahwa sebenarnya Shreyas merupakan tokoh penting dalam petualangannya dan mempunyai banyak rahasia.
---
Aku langsung menikmati Dharitri setelah membaca paragraf awalnya. Gaya bercerita yang asik dan luwes membuatku betah berlama-lama membaca novel ini. Meskipun pada versi yang ini, kertasnya lumayan tipis dan tintanya agak pudar, tetapi itu bukan masalah besar buatku. Sama sekali nggak mengurangi kesenanganku dalam membaca buku ini.

Begitu banyak narasi. Jujur, aku memang menikmatinya karena narasinya mengandung cerita dan pokok permasalahan yang secara runut diceritakan dengan gamblang. Dan aku kira memang bab-bab awal cenderung seperti ini, menceritakan secara jelas keadaan Dunia Baru dan situasi yang sedang dihadapi Aran, tetapi ternyata sampai seluruh isi buku pun, aku menemukan narasi memang dominan dalam buku ini.

Kalau narasinya tidak menyengangkan, pastinya aku bakal ngeluh deh :D meskipun aku juga ingin lebih banyak dialog di novel ini.

Alurnya lumayan lambar menurutku, tapi toh aku santai dan enjoy aja sih waktu baca petualangan Aran sampai jadi anggota Bala Karta. Yang bikin aku bilang alurnya lambat adalah aku bahkan nggak bisa menemukan konflik apa yang sebenarnya mereka hadapi. Seakan-akan novel ini hanya berisi petualangan Aran saja di Dharitri selepas kepergiannya dari Unit 41. Aku belum benar-benar menemukan inti cerita ini sampai pertengahan buku, terutama karena rahasia Shreyas masih ditutup rapat-rapat tanpa clue yang berarti.

Setelah melewati pertengahan buku, aku mulai menemukan konflik utamanya. Pemberontakan, penyalahgunaan Hibrida adalah konflik utama petualangan Aran dan tim Bala Karta, yang mana semuanya berhubungan dengan Shreyas. Plot twist cukup menyenangkan buatku dan aku sangat terhibur meskipun awalnya aku kira konflik akan berhubungan dengan Persatuan Unit. Aku sama sekali nggak menduga kalau masalah ini akan jadi konfliknya :D

Karakter Aran memang bakal jadi favoritku, tapi setelah dipikir-pikir lagi, aku merasakan perubahan yang sangat signifikan dengan Ranala yang dulu di Unit 41. Terlalu cepat kayaknya, tapi aku suka Aran yang sekarang :D

Shreyas bisa dibilang punya porsi benci dan cinta buatku. Aku kesel banget sama dia soalnya karakternya plin-plan ketika bagian Karlis dan saat dia menarik ulur Aran. Seakan-akan dia orang yang berbeda, tapi juga seakan-akan dia memang orang yang sifatnya tidak berpendirian teguh. Aku juga sebal karena alasan dia ingin menyingkirkan Aran itu nggak jelas banget. Tapi tetep aja aku baper karena loveline Aran-Shreyas :’)

Aku mau niup kapal Cakra-Aran supaya berlayar tapi nggak tahu kenapa, perasaanku aja atau karakter Cakra sengaja dibuat tidak menonjol (padahal dia itu Kapten Adhyastya Hibrida huhuhu), seakan-akan ngasih tau secara tersirat tapi menusuk: “Cakra bukan tokoh utamanya ih! Bukan! Tapi Shreyas. Jadi biarin aja Cakra jadi biasa aja.” Eheheheh :D

Terlepas dari para manusia itu......karakter (atau bukan) yang bikin aku jatuh cinta pertama kali adalah Lal! Jujur aku nangis baca endingnya. Lal-ku, eh, Lal-nya Aran deng T_T kenapa harus begitu huhuhu nggak mau terima tapi yasudahlah, Lal semoga baik-baik aja ya sayangku T_T

Endingnya seperti yang aku bilang, bikin aku nangis sih ngga rela, tapi puassssss. Overall, aku memang baru baca fantasi lokal sedikit sih tapi Dharitri ini sungguh luar biasa keren! Aku rekomendasikan novel ini ke siapa pun pecinta fantasi di Indonesia mwuehehehe nggak mengecewakan deh, serius :D

Dan serius juga pengen ada sekuelnya ;’) karena aku merasa masih ada masalah yang belum selesai pada Aran dan keluarganya di Unit 41, bagaimana pun juga aku penasaran:’) belum lagi Lal:’)
Qoutes:

“Untuk menjadi dirimu, di tempat yang menerimamu.” – Aran (hlm 374)
“Kadang lebih mudah membenci daripada menyukai, karena yang kedua selalu berujung pada pengharapan, dan tidak semua harapan mewujud nyata.” – Shreyas (hlm 374)

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Fav-Qoutes

"Kekuatan ada pada diri orang-orang yang tetap bangun dan menjalani setiap hari meski hal terakhir yang ingin mereka lakukan adalah hidup. Kekuatan datang dari senyum mereka yang bersedih, dari orang-orang yang telah kehilangan segalanya namun tetap bertahan." (Some Kind of Wonderful by Winna Efendi

"Billie tidak bisa berhenti bertanya-tanya dengan naif mengapa beberapa wanita mendapatkan banyak hal sejak mereka dilahirkan -kecantikan, pendidikan, kekayaan, bakat- sementara yang lain harus memulai hidup dengan begitu sedikit anugerah." (The Girl On Paper by Guillaume Musso)

“Dia akan pergi lagi. Dia akan pergi lagi dan lagi sampai umurnya cukup dewasa dan tidak ada lagi yang bisa mengirimnya pulang.” – hlm 363 (Little Fires Everywhere by Celeste Ng)