Jumat, 31 Agustus 2018

[RESENSI] The Rose Society by Marie Lu (The Young Elites #2)

IG: @arthms12



Judul: The Rose Society
Penulis: Marie Lu
Penerjemah: Prisca Primasari
Penyunting: Dyah Agustine
Proofreader: Emi Kusmiati
Desain Sampul: Windu Tampan
Penerbit: Mizan Fantasi (Oktober 2016)
ISBN: 978-979-433-993-0
Jumlah halaman: 480 hlm.

Blurb:
Suatu ketika, seorang gadis memiliki
Ayah, pangeran, dan sekelompok teman.
Mereka mengkhianatinya,
Jadi dia hancurkan mereka semua.

Setelah terusir dari Perkumpulan Belati, Adelina Amouteru membuat tandingannya, yakni Perkumpulan Mawar. Di antara para Elite Muda yang berhasil dia rekrut adalah Magiano Sang Pencuri dan Sergio Sang Penenun Hujan. Dengan bantuan para Mawar, Adelina bermaksud membalas dendam pada Teren dan Aksis Inkuisisi, serta merebut takhta Kerajaan Kenettra. Ini bukan hal mudah, karena Perkumpulan Belati bekerja sama dengan Maeve, Ratu Beldain yang juga mengincar takhta Kenettra.

Ketika pertempuran besar semakin dekat, Adelina tidak hanya harus menghadapi musuh-musuh dari luar, tapi juga dari dalam dirinya sendiri. Terkadang dia tidak dapat mengendalikan kekuatan, dan ilusi-ilusi yang dia ciptakan berbalik menyerangnya. Bisakah Adelina menuntaskan aksi balas dendamnya sebelum kegelapan menghancurkan dirinya?

---

Sedikit panduan ala-ala: 1) Jika sedang membaca The Young Elites, jangan baca blurb belakang buku The Rose Society XD 2) Jika sedang membaca buku The Rose Society, jangan baca blurb belakang buku The Midnight Star :D

Karena aku ini paling males kalau udah tau endingnya bakal gimana, dan menurutku blurb TRS dan TMS itu spoiler ending buku sebelumnya banget. Tapi bagi kalian yang nggak keberatan sih gapapa XD

Dan satu lagi, yang belum baca/lagi baca TYE sebaiknya jangan baca review-ku karena ditakutkan ada spoiler terselubung ;)

---

The Rose Society seperti halnya The Young Elites, dibuka dengan bab-bab permulaan yang adem ayem. Makin ke tengah, makin seru karena klimaks dan inti cerita ngumpul semua di belakang. Sepertinya aku mulai paham dengan pola ini. Nggak bisa dibilang bosen sih, emang agak flat tapi entah kenapa suasananya mencekam banget dan seringkali aku dibuat merinding.

Setelah terusir dari Dagger Society, Adelina dan Violetta bikin perkumpulan baru namanya Rose Society. Mereka pergi ke pulau Merroutas buat nyari Magiano sang Pencuri. Sebelum gabung, Magiano punya syarat buat Adelina dan jujur itu keren banget >_<  Adelina di sini tambah keren sekaligus menakutkan.

Alur yang dibuat nggak lambat atau pun nggak cepet menurutku, cuma ada beberapa yang kurang nendang. Kayak..ternyata itu tuh gitu doang? Kirain bakal bla bla. Tapi nggak merusak ekspektasi sih, tetep keren.

Konfliknya tentu saja lebih keren dan menantang daripada The Young Elites, karena di sini musuh Adelina ada Teren dan Aksis Inkuisisi serta Perkumpulan Belati. Belum lagi karena bakal ada satu kejutan di sini, berkaitan dengan Maeve dan kekuatan Elite-nya. Dijamin kalian yang baca bakal baper berkepanjangan. XD

Aku punya banyak opini dan perasaan yang campur aduk soal kejutan ini, tapi aku nggak bisa cerita panjang:( pokoknya di bagian ini entah kenapa bikin aku sedih banget. Padahal aku seharusnya seneng, tapi Marie Lu malah bikin seolah-olah kejutan itu adalah sebuah kesalahan yang nggak boleh disenangi. Makanya perasaanku jadi campur aduk:(

Untuk perangnya, sejujurnya aku merasa agak kesulitan membayangkannya. Apa mungkin karena terlalu banyak tokoh? Entahlah. Saat POV 1 Adelina menceritakan tokoh yang lain lagi perang sama yang ini bla bla, aku malah jadi mikir. Jadi situ ngapain aja selagi nyeritain orang lain Del? XD

Narasinya kelam. Inilah kekuatan dan poin utama dari novel The Rose Society. Karena setiap tokohnya kelam, Adelina selaku pemeran utamanya pun adalah seorang antagonis, dari awal sampai akhir novel ini bener-bener hitam dan bikin stres sendiri pas baca XD aku nggak bisa berenti mikir yang buruk-buruk setiap kali membuka halamannya. Aura buku ini suram banget pokoknya. Sampai sekarang aja aku masih belum sanggup baca The Midnight Star soalnya parno XD

Para tokoh, karena di sini Adelina makin jahat, aku nggak yakin apakah aku masih dukung dia atau nggak. Soalnya dia juga pemeran utama dan POV 1 pula, yang bikin aku merasa menyatu dengan pikirannya. Sedangkan Para Belati, aku juga nggak begitu suka mereka. Teren dan aksis Inkuisisi, sudah jelas aku nggak dukung mereka. Jadi kesimpulannya, aku bener-bener nggak punya tokoh peganganku di series ini. Mereka terlalu menakutkan buatku HAHA.

Etapi di sini ada tokoh baru, Magiano namanya. Kekuatan Elite-nya adalah kemampuan untuk meniru kekuatan Elite lain. Setelah kemampuan Violetta, aku merasa kemampuan Magiano lah yang terkeren.

Sayangnya aku merasa kurang srek sama Magiano ini. Entah perasaanku aja atau Marie Lu kurang bisa membuat kemistri antara tokoh-tokohnya. Aku gak bisa merasakan ikatan antara Magiano dan Adelina. Padahal Magiano ini tipe karakter yang menghibur, sayang sekali dia harus tertutup kesuraman novel ini.

Tapi kalau soal kedepresi-an Adelina, aku acungkan dua jempol untuk kemampuan Marie Lu.
Overall, aku nggak tau apakah aku suka atau nggak sama series ini. Lalu, selalu ada kejutan di endingnya. Dan kejutan ini nggak kalah mengerikan dibanding segala sesuatu yang udah terjadi di seluruh isi bukunya. Aku rasa selain jago membuat konflik dan narasi yang suram, penulis juga seneng banget bikin tokoh-tokohnya menderita. Aah, aku nggak tahan baca buku ini sebenernya tapi penasaran :’)

Meskipun perasaanku bimbang suka/nggak, aku pasti nyelesain series ini. Pasti. Walaupun setelahnya bakal galau nggak keruan dan parno berkepanjangan, aku tetep sayang sama series ini.
Mungkin cerita fantasi yang cocok buatku memang cuma middle grade dan bukannya YA kelam macam ini;’)

“Ilusi-ilusiku membuat mereka takut, tapi ketakutan mereka membuatku kuat.” – Adelina (hlm 30)
“Keputusasaan akan memancing kegelapan dari diri semua orang.” – halaman 44
“Apa sih hebatnya menjadi baik hati?” – Adelina (hlmn 129)
Dan qoute terakhir yang palingggg aku suka adalah:
“Tetapi, para pemimpin sejati bukan dilahirkan. Kami diciptakan.” – Adelina (hlm 451)

2 komentar:

  1. omong-omong bener banget deh. the rose society itu suram banget, aku beneran pusing campur stress bacanya. pengennya nggak ngelanjutin, tapi penasaran. akhirnya aku terjang aja deh, suram-suram deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup bener banget, ngerasa mau nyerah aja takut tokoh utama kenapa-napa kayak di buku satu tapi tetep ga bisa berenti wkw xD

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Fav-Qoutes

"Kekuatan ada pada diri orang-orang yang tetap bangun dan menjalani setiap hari meski hal terakhir yang ingin mereka lakukan adalah hidup. Kekuatan datang dari senyum mereka yang bersedih, dari orang-orang yang telah kehilangan segalanya namun tetap bertahan." (Some Kind of Wonderful by Winna Efendi

"Billie tidak bisa berhenti bertanya-tanya dengan naif mengapa beberapa wanita mendapatkan banyak hal sejak mereka dilahirkan -kecantikan, pendidikan, kekayaan, bakat- sementara yang lain harus memulai hidup dengan begitu sedikit anugerah." (The Girl On Paper by Guillaume Musso)

“Dia akan pergi lagi. Dia akan pergi lagi dan lagi sampai umurnya cukup dewasa dan tidak ada lagi yang bisa mengirimnya pulang.” – hlm 363 (Little Fires Everywhere by Celeste Ng)